KAJIAN

ARTIKEL


JAUHI PERDEBATAN




idrisiyyah.or.id | 

Orang sudah menemukan kebenaran yang hakiki akan menghindari perdebatan dalam agama. Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengatakan kalau orang suka berdebat maka akan menimbulkan perasaan paling benar.

"Janganlah kalian merasa paling bersih/suci/benar, Dia Allah yang paling mengetahui siapa yang paling bertaqwa". Berdebat dalam agama juga menimbulkan 'al kibr' (sombong), 'al hiqdu' (dendam) di dalam batinnya, sehingga hilang kasih sayang. Debat juga menimbulkan penyakit 'ghībah' menjelek-jelekkan orang 'di belakang', atau membuka aib seseorang atau lawan debatnya. Oleh sebab itu orang yang sudah merasakan kelezatan hakikat agama akan menghindarkan perdebatan. Kalaupun harus terpaksa berdebat, maka ia berdebat dengan cara yang baik, dalam rangka mencari kebenaran bukan mencari pembenaran. Majelis ilmu adalah majelis untuk mencari hakikat kebenaran.

Nabi Saw menyebutkan, "ilmu itu dibagi dua kelompok. Pertama ilmu lisan, kedua ilmu yang masuk ke dalam hati". Ilmu yang masuk ke dalam hati menyebabkan hatinya bersinar (bercahaya), maka ilmunya menjadi bermanfaat. Majelis ilmu satu paket dengan majelis dzikir. Ilmu yang diterima oleh akal kemudian masuk ke dalam hati sehingga bahagia dan lapang dada. Ia pun merasakan kelezatan dalam beribadah. Ibadah yang masih terasa pahit akan terasa berat, tapi kalau sudah manis akan lari mengejarnya. Dalam doa setelah sholat tasbih, Syekh Ahmad bin Idris berkata, "wahai Sembahan kami, cicipkanlah kami, terhadap kelezatan Nama-nama-Mu, dan Sifat- sifat-Mu, dan Penyaksian atas Dzat-Mu." Janganlah hati kita termasuk yang lalai. Kita harus menjadi pelaku yang menjalankan agama bukan penonton. Di dalam agama harus menemukan dzauqon (merasakan) manisnya iman. Ini yang diburu oleh para Wali-wali Allah.

Dalam Islam dilarang mengajarkan agama hingga menimbulkan bosan (jenuh). Kegiatan rihlah (jalan-jalan) dewan guru ke Pangandaran mendapatkan hikmah, di mana satu sama lain timbul rasa kasih sayang. Di situlah dirasakan sifat Rahman Allah yang merupakan anugerah Allah, bukan atas kemampuan diri. Setiap hati ada katupnya, kalau sedang tertutup maka tidak akan merasakan kelezatannya. Tapi kalau tutupnya dibuka maka akan merasakan kelezatan Nama-nama-Nya. Itulah disebut Tajalli (diangkat hijab sehingga benar-benar merasakan Allah SWT). Hati harus dijaga dan dirawat. Seperti rumah kalau tidak dirawat dan dibersihkan maka akan jadi sarang tikus. Janganlah sibuk mengkritik orang lain, sementara ia lupa akan mengkritik diri sendiri. Jangan pandai mengkritik orang lain melupakan mengkritik diri sendiri. Dalam shalat apakah hati kita sudah membenarkan apa yang diucapkan oleh lisan?

"inni wajjahtu wajhiya lilladzi fataros samawati wal ardh dst." Jangan sampai lisan ke mana hati ke mana. Rukun qawli (ucapan) benar yang diucapkan, rukun fi'li (perbuatan) benar yang dikerjakan, dan benar pula hatinya. Rumusnya ketika mau shalat: Ketika sudah menghadap kiblat, maka kosongkan hati dari segala makhluk. Kalau sebelum shalat masih memikirkan masalah/urusan, maka ketika shalat dari takbir sampai salam akan memikirkan masalah terus. Bukan shalat itu namanya.

Maka kritiklah hati kita dengan keras. Para ulama sufi berkata, "Ilmu kami bukan ilmu katanya-katanya, bukan ilmu teori. Tapi ilmu kami adalah ilmu yang dirasakan". Caranya adalah menjaga hati dan mengamalkan yang sudah diajarkan. Barangsiapa yang mengamalkan ilmu Allah akan mewariskan ilmu yang belum pernah dipelajarinya, yaitu ilmu hakikat (ilmu laduni). Semakin bertambah ilmu bertambah nikmat, tidak mau banyak ngobrol, selalu fokus menikmatinya. Syekh Ahmad bin Idris Ra, sebelum diberi ilmu dalam tahlilul makhsus, merasakan kelezatan bersama Allah. Sampai akhirnya mendapatkan tambahan kalimat Tahlilul Makhsus, "Lailaha illallah Muhammadur Rosulullah fi kulli lamhatiw wanafasin 'adada ma wasi'ahu ilmullah". Syekh Ahmad bin Idris Ra ingin menyebut Nama Allah dalam setiap kedipan mata dan tarikan nafas. Setiap detik umurnya yang diberikan ingin sekali dipergunakan untuk berdzikir.

Memegang tasbih adalah sebagai pengingat kepada Allah. Waktu yang diberikan menjadi tidak ada yang sia-sia. Setiap kedipan mata dan tarikan nafas, dan sejumlah luasnya Ilmu Allah. Alhamdulillah kita mendapatkan ijazah tahlilul makhsus itu. 300 kali sehari semalam. Tamatkan secara istiqomah. Mengejar keutamaan. Nabi Saw bersabda kepada Syekh Ahmad bin Idris, "Barangsiapa yang menisbatkan dzikir ini kepadamu, maka jangan serahkan mereka nanti di hari kiamat kecuali aku yang akan menanggungnya". Telah banyak kekurangan di masa lalu, maka bangkitlah. Amalkan ilmu yang sudah didapatkan.

Tidak ada yang bisa menjamin umur sampai hari esok. Jangan sampai bersandar kepada amal tapi bersandarlah hanya kepada Allah. Tanda orang yang bersandar kepada amal, ketika jatuh kepada dosa, kecil harapannya kepada Allah. Tapi bagi orang yang bersandar kepada Allah, ketika jatuh dalam dosa akan besar harapannya kepada Allah. Belajarlah dari kisah Nabi Adam as dan Siti Hawa yang tergoda oleh iblis laknatullah. Kisah itu menandakan setiap anak Adam banyak salahnya. Sebaik-baiknya anak Adam adalah ketika berdosa tapi kemudian bertobat. Nabi Adam As dosanya sekali, tapi tobatnya bertahun-tahun.

Dengan doa "Robbanaghfirlana zholamna anfusana waillam taghfirlana latarhamna lanakunanna minal khosirin". Contoh taubat yang kedua yaitu Nabi Yunus As, yang ketika berdakwah malah meninggalkan kaumnya. Akhirnya beliau ditelan oleh ikan Nun. Dalam kegelapan malam, di perut ikan, di paling dasar lautan, Nabi Yunus As baru menyadari akan dosanya dan berdoa, "lailaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zholimin". Maka janganlah menunggu nanti ketika sudah di alam kubur. Mumpung masih diberi kesempatan, berangkat ke masjid, shalat berjamaah. Mari cicipi ilmu yang sudah diberikan, jangan banyak bicara. Mulai malam ini: Wirid harus khatam, kitab Hadiqah Riyahin dibaca seluruhnya.

@MK_IDRISIYYAH Kampoeng Futuh, 2 Desember/28 Rabiul Awwal 1433H