KAJIAN

ARTIKEL


MENYINGKAP HAKIKAT DIBALIK SYARIAT




idrisiyyah.or.id | 

Banyak orang yang tertipu syariat sehingga tidak bisa menangkap hakikat di balik syariat. Bagaimana menjaga hati agar bisa menangkap hakikat dibalik syariat? Syekh Ibnu Athaillah As Sakandari dalam kitab Hikam mengatakan ada 4 tips agar hati bisa berfungsi:

1. Hati itu berfungsi sebagai tempat Cahaya Allah. Jadikan hati seperti cahaya bulan. Bulan tidak bersinar tapi mendapatkannya dari matahari. Beliau mengatakan, "Bagaimana hati bisa bersinar sementara gambaran-gambaran dunia terpatri pada cermin hatimu". Hati laksana cermin, kalau dalam hati banyak gambaran dunia maka tidak mungkin hati bersinar dan menjadi terbit Cahaya Allah. Hati tidak bisa dibohongi. Contoh, dalam shalat, sungguh lahiriyahnya shalat tapi hatinya tidak shalat. Mari kritik diri kita sendiri jangan mengkritik orang lain dengan mengkritik shalat kita masing-masing.

Yang pertama dihisab nanti di hari kiamat adalah shalat. Kalau hati dalam shalat ingat Allah 3 detik maka 3 detik itulah shalat yang bermakna. Agar bisa mengeluarkan gambaran dunia dalam hati maka buang rasa memiliki terhadap dunia. Contoh yang paling mudah adalah tukang parkir, yang tidak sombong atas mobil mewah yang datang, dan tidak merasa sedih kalau pergi. Kalau orang merasa memiliki maka siap-siaplah kecewa kalau Allah ambil kembali dunianya. Dunia itu sebagai alat bagi akhirat. Resep Qur'an itu hanya 2 saja dalam urusan dunia, yaitu tidak ada rasa takut dan sedih. Dunia hanya sebagai amanah dan titipan saja, maka kalau diambil tidak sedih.

Orang yang terkena penyakit hubbud dunya merasa hanya akan menimpa orang kaya saja, padahal bisa juga menimpa orang miskin. Contohnya sudah waktu maghrib ia masih sibuk mengurusi ayam peliharaannya ke kandang. Nabi Sulaiman As adalah Nabi sekaligus raja yang paling kaya. Tapi kekuasaan dan kekayaannya tidak membuatnya tertipu dengan kekuasaannya. Justru, ia mengagungkan Allah ketimbang pemberiannya. Banyak orang yang tertipu mengagungkan pemberiannya lupa kepada yang memberinya. Hati yang gelap tidak bisa berjalan menuju kepada Allah, seperti masjid ini di saat gelap tidak bisa dipergunakan untuk mengaji.

2. Hati berfungsi untuk taqarrub (mendekat) kepada Allah. "Bagaimana hati akan bergerak hijrah kepada Allah sementara hatinya dibelenggu oleh syahwatnya". Manusia berbeda dengan malaikat, sifat tabiat malaikat itu tanpa syahwat. Berbeda dengan binatang yang hanya diberi syahwat saja tanpa diberi akal. Sementara manusia diberi akal sekaligus diberi syahwat. Barangsiapa yang akalnya mendominasi nafsunya, maka martabatnya berada di atas malaikat. Barangsiapa yang nafsunya mendominasi atas akalnya maka martabatnya lebih rendah daripada hewan. Orang yang dikuasai nafsu akan mengukur segala sesuatu berdasarkan uang. Kalau negara ini dikuasai oleh orang-orang yang nafsunya kepada uang, maka dasar negara ini bukan "Ketuhanan yang Maha Esa" tapi "Keuangan yang Maha Esa".

Orang yang hatinya bebas dari perbudakan hawa nafsu akan bergerak karena Allah, bukan karena harta dan jabatan. Setiap tarikan nafas dan kedipan matanya Allah yang dijadikan tujuan. Syekh Ibnu Athaillah menyatakan, "Sumber atau biang dari segala kemaksiatan adalah ketika ia ridha terhadap hawa nafsunya sendiri". Ketika Nabi Saw selesai dari perang yang besar (Badar), maka Nabi Saw bersabda, Kita baru selesai dari perang kecil menuju perang besar. Para Sahabat Ra heran dan bertanya, "Apa yang dimaksud perang yang besar itu?" jawab Nabi Saw, "Jihadun Nafs, perang melawan hawa nafsu". Maka memerangi hawa nafsu harus dilakukan sepanjang hidup. Dalam kitab Minhaj al Abidin Imam Al Ghazali mengatakan, "yang terberat menghalang-halangi ibadah adalah hawa nafsu".

3. Mampu merasakan hadirnya Allah. Syaratnya, hati harus bersih dari kelalaian. Syekh Ibnu Athaillah menyatakan, "Bagaimana hati akan merasakan hadirnya Allah kalau hati belum dibasuh dari kelalaian". Allah itu lebih dekat daripada urat leher. Kenapa tidak merasakan Allah itu dekat dan hadir? Hati para Sahabat Ra tidak dilalaikan dari mengingat Allah di saat sedang dagang, apalagi dalam shalat. Mau kemana saja Allah melihat, baik sendiri, berdua dan ramai. Oleh sebab itu latih hati dengan banyak berdzikir. Seperti wali-wali Allah yang hatinya tidak putus dari mengingat Allah. Hati seperti inilah yang merasakan hadir-Nya Allah.

4. Merasakan rahasia-rahasia Allah. Hati yang bersih akan Allah berikan sebagian Rahasia-Nya. Hati itu ibarat kaca yang bening. Hati kotor tidak akan bisa menangkap Rahasia-rahasia Allah. Contoh Rahasia-Nya adalah ajal kematian. Ajal kematian akan dikirim ke dalam hati sehingga akan semakin mempersiapkan kematiannya. Kematian ada dalam dua pilihan, husnul khotimah atau su'ul khotimah. Persiapan menghadapi kematian menentukan akhir kematian seseorang, apakah husnul khōtimah atau su'ul khotimah. Kematian bagi para wali-wali Allah bukan sesuatu yang menakutkan, karena kematian adalah momen terindah dan sangat ditunggu-tunggu bagi para Kekasih Allah.

@MK_IDRISIYYAH Kampoeng Futuh, 4 Desember 2021/1 Rabiul Akhir 1443H