KAJIAN

ARTIKEL


MUTIARA HADIS ARBAIN KE-20




idrisiyyah.or.id | 

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِي البَدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ" رَوَاهُ البُخَارِي.

Dari Abu Mas'ud 'Uqbah bin 'Amr Al-Anshari Al-Badri Ra, ia berkata, "Rasulullah Saw bersabda, 'Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!" (HR. Bukhari)

Rasa malu merupakan syariat para Nabi. Sifat itu dititipkan Allah pada setiap orang, suatu anugerah yang mahal. Penempatan malu harus pada tempatnya. Bukan malu ke masjid, malu sedekah, malu shalat, dan sebagainya. Rasulullah Saw bersabda,

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

"Malu merupakan bagian dari keimanan." (HR. Muslim)

Allah pun memiliki rasa malu, seperti diungkapkan dalam hadis,

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

"Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Maha Pemalu. Maha Dermawan. Maha Mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa." (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Malu ada dua, malu kepada Allah dan manusia. Malu kepada Allah ketika tidak menjalankan perintah-Nya dan menjauhi lerangan-Nya.

Ada aturan yang tertulis dan tidak. Ketika telah diperingatkan maka diungkapkan jika tidak malu. Dalam kehidupan orang yang tidak punya rasa malu diistilahkan 'muka tembok'. Dalam berpolitik janji politik juga merupakan hutang.

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

"Lakukanlah sesukamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu lakukan." (QS. Fushilat: 40).

Orang yang tidak memiliki rasa malu akan lupa atau pura-pura lupa terhadap janjinya. Orang yang sudah hilang rasa malu akan berbuat sesukanya.

Nabi Saw adalah orang yang paling pemalu, terhadap Allah dan di hadapan manusia.

Dulu kita dikenal dengan orang Timur, yang memiliki budaya sopan santun dan malu yang tinggi, karena orang Barat dianggap tidak memiliknya. Orang yang memiliki rasa malu memperhitungkan ucapan dan perbuatannya, apakah menyakiti/menyinggung orang lain atau tidak. Dengan rasa malu akan melaksanakan kewajiban dan menunaikan hak-hak orang lain. Sebagai pasangan suami-isteri, tetangga, pejabat, dan sebagainya.

Malu manusia terhadap Allah karena Dia menciptakan sekaligus memberikan rezeki. Sudah sepatutnya punya rasa malu jika tidak melaksanakan perintah-Nya. Kasih sayang orang tua mengasuh saat bayi adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah. Maka orang yang tidak mau ibadah adalah orang yang tidak punya rasa malu.

Agama ini tidak dibawa oleh sembarang orang. Tidak semua orang yang mampu ceramah ada Ulama Pewaris Nabi. Salah satu ciri Ulama Pewaris Nabi adalah bersikap adil. Pemahaman agama yang pas ibarat pakaian yang pas, tidak terlalu lebar atau kesempitan. Sebagaimana disabdakan Rasululullah Saw,

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُلُهُ يَنْفُوْنَ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَ انْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ وَ تَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ " . رواه البيهقي

"Ilmu (agama) ini akan dibawa orang-orang (pengganti Nabi) yang adil dari setiap generasi. Mereka menolak tahrif orang yang melewati batas, menolak intihaal ahli kebatilan dan ta'wil orang bodoh." (HR. Baihaqi)

Pemahaman agama yang terbaik adalah tawasuth (pertengahan), bukan tafrith (terlalu kaku) dan ifrath (terlalu liberal).

Ulama pewaris Nabi menghilangkan pemahaman yang bengkok (tahrif al ghali) tidak terlalu kaku dan bebas, imtihal mubthilin (tidak syak), ta'wilal jahilin (pandangan orang-orang bodoh tanpa ilmu). Ulama seperti ini yang harus dicari. Menjumpainya banyak sekali aral rintangannya, karena iblis senantiasa menghalangi.

@MK_IDRISIYYAH

Kampoeng Futuh, 13 Mei 2022