Kliping
Jum'at, 13 Januari 2017
Baso Cap Hayam Jago, Warna Baru dalam Khazanah Kuliner Baso
Cover Klipping Kabar Priangan
Baso Cap Hayam Jago, Wrna Baru dalam Khazanah Kuliner Baso

TASIKMALAYA, (KP).- Pangsa pasar yang luas, mencetak bisnis kuliner sebagai sektor yang paling menjanjikan untuk digeluti. Dengan diikuti bertaburannya pemain di lini tersebut, pun mau tak mau mengharuskan usungan konsep unik dari suatu bisnis kuliner.

Seperti yang kiranya tergambar pada kuliner anyar, Baso Cap Hayam Jago. Terinspirasi dari mangkok putih bergambar ayam yang begitu melegenda dan fenomenal di masyarakat, usaha besutan Pesantren Al Idrisiyyah ini, mencoba memberikan warna baru dalam khazanah kuiner baso.

"Semua baso itu rata-rata disajikan di mangkuk ayam ini. Tapi gak ada satupun yang mengangkatnya. Maka itu, yang kita kedepankan si konsep Baso yang serba Hayam Jago. Dengan atmosfernya yang dibuat dengan sedemikian eye ketching, produk atau basonya sendiri yang juga dilengkapi toping serba ayam," ujar Manager HRD Baso Cap Hayam Jago, Muhammad Fadli Rahmat, dijumpai di lokasi yang berada di Jalan Raya Rajapolah 251, Kamis (12/1/2017) siang tersebut.

Tak heran, tulisan-tulisan nyeleneh dengan gambar si ayam jago menghiasi sudut-sudut kedai. Baru dibuka sejak 22 Desember 2016 lalu, baso kampung yang punya jargon 'Raos Teu Kedah Boros' pun begitu direspons positif oleh masyarakat.

Dengan konsepnya yang lugas, tak heran di hari pertamanya saja, setidaknya 900 porsi ludes dalam waktu hanya empat jam. Begitu pula di hari kedua dan selanjutnya yang mampu mencapai 1000 porsi. Sampai saat ini, Baso Cap Hayam Jago pun mampu menyediakan 1500 porsi dalam seharinya.

"Masyarakat kita sudah sejak lama akrab dengan baso A sampai Z, tinggal bagaimana sekarang kita kemas baso ini tidak hanya rasanya enak. Tapi ada sesuatu yang buat mereka ingin balik lagi, bahkan ketika lihat mangkuk ayam ya ingatnya ke kita," tambah dia.

Rajapolah sendiri sengaja menjadi lokasi pertama yang disasar untuk kedai yang menyediakan baso mulai dari 7000 rupiah ini. Pasalnya, akses jalan utama ke arah Selatan in seringkali menjadi tempat pemberhentian untuk belanja.

"Tapi belum ada kuliner yang identik, itu coba yang kita ciptakan. Selain target pasar kita juga jelas warga Rajapolah itu sendiri, juga mereka yang melakukan perjalanan," ujar pria yang tengah menempuh studi di Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung tersebut.

Sesuai konsepnya, mereka pun memilih mempertahankan cita rasa asli baso itu sendiri. Tanpa mengintervensinya dengan rasa yang lebih modern. "Inovasinya kita coba gali dari hal yang lain, bisanya ada isi cincang pedas, kita sediakan ketupat dan banyak lainnya. Karena kita ingin ini bisa dinikmati siapa saja, tanpa terkecuali tambahnya," tambahnya.

Dengan iklim bisnis kuliner yang seringnya pasang surut, pihaknya optomis diferensiasi yang diciptakan pihaknya leawat konsep segar tersebut bisa memproteksi.

"Seringnya kuliner ini kolaps karena terlalu monoton atau terlalu baru di masyarakat, Makanya kita tidak hanya mengikuti selera pasar, tapi juga berporos konsep yang kita usung," imbuh Fadli.

Rencananya, di tahun 2017 ini, Baso Cap Hayam Jago pun akan membuka cabang di Kota Tasik. Bahkan, baru-baru ini mereka sudah mendapatkan tawaran dari luar kota untuk bermitra. (Astri Puspitasari)***

 

Sumber: Kabar Priangan (13/1/2017)