Artikel Dakwah
Sabtu, 21 Oktober 2017
Trah Bangsawan dan Kesempurnaan Sanadnya
Syaikh Abdul Wahab At-Tazi
Kota Fez, Maroko

idrisiyyah.or.id | Syaikh Abdul Wahab At-Tazi, beliau seorang ulama Arif billah, Keberadaannya menjadi keberkahan bagi kota Fez. Sayyidi Abul Mawahib Abdul Wahab at-Tazi al-Fasi; Sesuai namanya, keluarga at-Tazi berasal dari Taza di Maroko Timur. Kedudukan trah atau marganya, Syarif yang tergolong bangsawan Rasyida, meskipun ia sendiri lahir dan besar di Fez. Dalam Dunia Arab istilah Syarif digunakan oleh keturunan Hasan bin Ali, cucu Rasulullah saw. Sedangkan Rasyid merujuk kepada penguasa atau bernuansa politis, seperti gelar Khalifah Islam, Khulafaur Rasyidin atau Khalifah Harun ar Rasyid.

Di antara para guru dan pembimbing at-Tazi ada beberapa nama yang bisa dikenali, Sarjana Islam Makhluf mengungkapkan awalnya at-Tazi berguru kepada Sayyid Muhammad bin Buzayyan al Ghandusi (wafat 1146 / 1733-4) yang tinggal di Maghrib, kemudian Mawlay Ahmad al-Siqilli (wafat 1177/1762), Sayid Abdul Aziz ad Dabbagh dan akhirnya Sayyidi Abdullah bin Abdul Jalil al-Barnawi (wafat 1116/ 1704-5), seorang Ulama dan Sufi dari negara bagian Bani Sudani.

Ulama dan sejarawan Muhammad bin Jafar al-Kattani menulis di Salwat al-Anfas, "Di antara mereka yang istimewa adalah Wali Qutub, Maulana Abddul Aziz ad-Dabbagh ra. At-Tazi terlihat sering bertemu dengannya, mencari restu, mengambil dan mendapatkan banyak rahmat karunia dari Syekh Abdul Aziz ad Dabbagh. Suatu hari, dia bertemu dengannya di al-'Aqba az Zarqa di Fez, dia mencium tangannya dan menundukkan kepalanya ke bawah tanah tanpa suara. Syaikh berkata kepadanya: "Anakku, Abdul Wahhab, apakah kamu ingin melihat Rasulullah saw?" 

"Ya!" jawabnya. 

Syekh Abdul Aziz ad Dabbagh memanggilnya dengan sapaan, "Anakku", karena istrinya menyusui dia saat masih kecil. Lalu Syekh Abdul Aziz ad Dabbagh berkata kepadanya, "Angkat kepalamu dan lihatlah!" Maka, tampaklah Rasul saw. dan Abu Bakar as Shidiq ra. bersamanya.

Sayyidi Abdul-Wahhab at-Tazi melakukan perjalanan hajinya  pada 1166/1753 bersama dengan orang Maroko lainnya, Muhammad al Manali az Zabadi. Catatan perjalanan ruhaninya menunjukkan ketika di Mesir beliau dibaiat talqin Khalwatiyyah oleh dua tokoh kunci, Sayyidi Muhammad al-Hifni dan Sayyidi Mahmud al-Kurdi, keduanya murid Sayyidi Mustafa al Bakri.

Menariknya, satu-satunya sanad Sufi yang menurut Ibn Idris diambil dari perjalanannya ke arah Timur adalah Khalwatiyyah dari Sayyidi Hasan bin Hasan Bey al-Qina'i, seorang murid Mahmud al-Kurdi. At-Tazi tampaknya juga telah bersentuhan dengan Naqsyabandiyyah ketika perjalanannya mengarah ke Timur atau Makkah ini; as Sanusi memberikan dua nama untuk sanad Naqsyabandi at-Tazi: al Kamal as Sindi dan Abul Baqa 'al Makki, dari Ahmad ad Dajani (alias Safiyuddin al-Qushashi).

Syaikh Abd al-Wahhab at-Tazi adalah pimpinan Tarekat Khidiriyah dari tradisi Syadzili yang berdiri pada 1125/1713 oleh Syekh Abdul Aziz al-Dabbagh, seorang Idrisi Syarif, yang berguru kepada Nabi Khidir as, "Seorang hamba Kami" Min Ladunna atau lebih dikenal Ilmu Laduni  mengenai hal ini silahkan buka Al-Quran, surat al Kahfi [18] ayat: 60-82. Sedangkan mengenai Kehidupan Syekh ad Dabbagh, ajaran, dan karamahnya ditulis oleh muridnya, Syekh al Islam Ahmad bin al-Mubarak as Sijilmasi al Lamati (1090-1156 / 1679-80 -1743). Terangkum dalam al Ibriz atau Emas Murni perkataan Sayyidi Abdul Aziz al-Dabbagh.

Salah seorang muridnya adalah Ulama Mauritania Syekh Muhammad Limjaydri bin Habibullah, pembimbing spiritual pertama Syekh Ahmad ibn Idris. Limjaydri mengenalkan muridnya Ibn Idris kepada at Tazi. Cerita ini terkait dengan penulis biografi Syekh Ahmad ibn Idris,

Sayid Ahmad memiliki seorang Syaikh yang teguh, yang merupakan salah satu ulama Syinqit (Mauritania), dikenal sebagai al-'Allamah al-Mujaydri [Limjaydri]. Yang terakhir ini biasa mengunjungi Fez dari waktu ke waktu. Sementara dia berada di Fez, Sayid Ahmad ra. biasa mempelajari beberapa kitab tebal kepadanya -saya kira kitab Hadis dan kitab agama yang sepertinya tidak dipelajari di Fez. Suatu saat Limjaydri ingin kembali ke Syinqit, tapi ada beberapa buku yang tafsir belum selesai dipelajari. Sayid Ahmad bertanya kepadanya, "Wahai Guruku, izinkan saya pergi denganmu supaya bisa menuntaskan kitab-kitab ini." 

Limjaydri menjawab, "Bersabarlah sampai saya dapat izin untuk Anda dari Guru saya." 

Sayid Ahmad bertanya kepadanya, "Apakah kamu punya seorang Guru?" 

"Ya, dia Sayid Abd al-Wahab al-Tazi ra." 

Sayid Ahmad terkejut bahwa Limjaydri masih memiliki seorang Guru ra, yang menurutnya tidak jelas dan kedudukan spiritualnya tidak diketahui oleh kebanyakan orang. 

Beberapa saat kemudian Limjaydri mengatakan kepadanya, "Syaikh tidak memberi izin, namun menyuruh saya untuk membawa Anda kepadanya sehingga dia bisa mempersatukan Anda dengan Rasulullah Saw." 

Kekaguman Sayid Ahmad menjadi semakin besar. Kemudian Sayid Ahmad pergi dengan Limjaydri mengunjungi Sayid Abdul Wahab. Dia mengambil Tarekat darinya dan berkhidmah kepadanya, tinggal bersama dan menyerahkan diri sepenuhnya. 

Syaikh at-Tazi telah menghadiri beberapa ceramah bersama Ibnu Idris. Pada pertemuan pertama mereka, at-Tazi berkata,

"Apa yang terjadi dengan suara gemuruh itu (hadrah), wahai Ahmad?" Guru dan orator yang hebat sekarang duduk paling rendah di hadapan guru Syaikhnya. Syaikh Ahmad ibn Idris tinggal bersamanya selama empat tahun dan dia timba dari sumur ilmu bukan hanya jalan spiritual (Tarekat Khadiriyah) tapi juga ilmu-ilmu hadis.

Syaikh Ahmad ibn Idris menulis, "Kami mengambil Tarekat dari Ghauts pada zamannya dan imam masanya, Syekh yang mulia, Tuan dan Pemimpinku, Abdul Wahab at-Tazi al-Fasi. Dia mengambilnya dari Ghauts pada zamannya dan Imam masanya, Hasan Sharif, Tuan dan Pemimpin kami, Sayyidi Abdul Aziz al-Dabbagh al-Fasi. Dia mengambil dari Gurunya, seorang Arif, Sayyidi Abu al-Abbas Ahmad al-Khidir as."

Seorang murid Syaikh Ahmad ibn Idris, Syaikh Muhammad bin Ali al-Sanusi berkomentar, "Ini adalah jalur (sanad) keguruan yang paling mulia di antara sanad yang singkat karena Nabi Khidir as bertemu langsung dengan Nabi saw, saat hidupnya dengan cara yang sama seperti yang dialami oleh semua sahabat dari Nabi ra. Demikian juga Sayyid Abdul Aziz ad Dabbagh mengambil darinya dengan cara yang sama seperti semua penerus para Sahabat (Tabi'in) yang mengambil otoritas para Sahabat yang sezaman dengan Nabi saw dan seterusnya. Dengan demikian perantara antara kita dan Nabi saw adalah empat (orang)."

Disisi lain, Syaikh Ahmad ibn Idris menulis kepada muridnya, al-Mirghani: Ada aspek lain yang lebih tinggi lagi dari sanad yang telah kita sebutkan ini, yaitu kita menerima Tarekat dari Syaikh Abdul Wahab (at Tazi) yang telah disebutkan di atas dan ia menerimanya dari Nabi saw. Karena saya telah mendengar dia berkata, 'Saya mendengar Rasulullah saw bersabda:

Saya belum pernah melihat sesuatu yang lebih menguntungkan daripada (zikir dengan) "La ilaha illa Allah Muhammadur Rasulullah, Shallallahu 'alayhi wa sallam. ''

Dan ini memang diterima langsung dari Rasulullah saw. Ketika sanad yang tinggi, berdasarkan silsilah yang singkat, itu dianggap lebih sempurna dan lebih baik oleh keistimewaan isnad (rantai silsilah)."

Setelah beberapa waktu, at Tazi berkata kepada Syaikh Ahmad ibn Idris, "Saya pikir Syekh Anda, Limjaydri, telah bepulang ke Rahmatullah."

Sayid Ahmad bertanya, "Wahai Guru, bagaimana Anda tahu hal ini?"

Dia menjawab, "Seorang Guru Mursyid memiliki kesempatan untuk mengunjungi murid-muridnya. Selama mereka masih hidup, Gurunya tidak selalu menemui mereka dalam keadaan yang sama. Terkadang jiwa mereka bersinar dan terkadang jiwa mereka redup, sesuai kesungguhan mereka bertarekat dan ketaatan mereka kepada Allah. Terkadang mereka dekat dengan-Nya dan terkadang jauh sekali. Untuk beberapa hari ini jiwanya bersinar dengan cahaya yang tak tergoyahkan sama seperti saat terakhir aku meninggalkannya."

Syaikh Ibrahim al-Rasyid, murid Syaikh Ahmad ibn Idris, mengatakan tentang at Tazi:

"Allah Yang Mengetahui dan Yang membimbingnya, Sayyidi Abdul Wahab at Tazi, tinggal di kedudukan spiritual Ghauts selama 34 tahun ...."

Ada dua pendapat tentang waktu wafat at Tazi; 27 Sha'ban 1206/20 April 1792 atau 11 Safar 1213/25 Juli 1798. Mawlay Sulayman, penguasa Maroko, membangun sebuah bangunan indah untuknya di Pemakaman Babul Futuh.

Silsilah Keguruan Tarekat Idrisiyyah