KeIhsanan
Selasa, 6 Februari 2018
Khutbah Jumat
Fungsi Manusia
Fungsi Manusia

idrisiyyah.or.id | Fungsi manusia dihadirkan ke dunia ini

Pertama, manusia sebagai hamba Allah, sebagai Ibadurrohman yang akan dipertanggungjawabkan dunia dan di akhirat dan akan dipanggil oleh Allah sebagai hamba-hambanya.

Adapun fungsi yang kedua sebagai khalifah Fil Ard artinya selama kehidupan duniawi ini manusia menjadi khalifah, tetapi baik kehidupan duniawi maupun ukhrawi, haruslah menjadi seorang hamba.


Standar Hidup

Di dalam pengertian-pengertian yang umum seorang hamba itu tentu punya standar-standar.

Ada seorang yang biasa mengajar melakukan proses pendidikan tetapi ada standar untuk dapat dikatakan bahwa dia adalah seorang pengajar. Diantaranya, ada kompetensi, ada jam-jam, tugas yang harus dilakukan. Standar itu sebagai pembuktian bahwa dia adalah seorang pendidik.

Begitu juga seorang yang secara biasa melakukan jual beli, tetapi untuk dapat dikatakan orang itu sebagai bisnisman tentu dia harus melakukan dengan lebih baik lagi

Demikian juga, seseorang sering berolahraga pagi atau sore, tapi ada standar untuk dikatakan sebagai seorang olahragawan

Demikian juga halnya sebagai hamba Allah, tentu ada standarnya.

Seorang hamba beribadah, baik itu yang namanya sudah ditentukan Ibadah Mahdhoh seperti shalat, Puasa, zakat, shodaqoh dan haji. Apabila dikalkulasikan waktunya dan dilaksanakan dengan baik, maka sungguh belum cukup orang itu disebut sebagai hamba Allah SWT.

Karena itu pada masa Rasulullah Saw. dan setelahnya hanya terdapat hamba-hamba Allah yang merealisasikan dan menamakan dirinya sebagai Abid yang waktunya sebagian besar dialokasikan untuk beribadah baik mahdoh maupun yang ghair mahdhoh hanya pada waktu-waktu tertentu saja dia melaksanakan kegiatan-kegiatan secara lahiriyah tidak bersifat atau tidak nampak berupa ibadah.

Sehingga pada akhirnya nanti akan dipanggil dan diaku oleh Allah sebagai hambanya. Sebagaimana tercantum dalam surat Al-Fajr.

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ٢٧  ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ ٢٨ فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي ٢٩  وَٱدۡخُلِي جَنَّتِي ٣٠

"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku," (QS Al-Fajr [89]: 27-30)

Ketika kembali kepada Allah dengan membawa nafsu muthmainah, nafsu yang tenang Allah memanggilnya sebagai hamba-Nya dan dipersilakan untuk masuk kedalam surga.

 

Bangkrut yang Sebenarnya

Kemudian ada masalah lain sebagaimana dicantumkan dalam surat Al Kahfi ayat 103 dan 104 

قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا ١٠٣ ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا ١٠٤

"Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya," (QS Al-Kahfi [18]:103-104)

Dari Hadits Nabi saw:

Suatu hari Rasulullah saw. berkumpul dengan para sahabat. Beliau bertanya, “Wahai sahabatku, tahukah kalian, siapa orang yang paling bangkrut?” Ada beragam jawaban yang diungkapkan para sahabat. “Orang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki dirham,” kata sebagian. “Orang bangkrut adalah orang yang banyak utang,” kata sebagian yang lain.

Rasulullah saw. kemudian bersabda sebagai berikut.

“Orang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (ganjaran) ibadah shalat, puasa, dan zakat. Namun sayang dia pun datang dengan membawa dosa. Dia telah mencaci orang ini, memfitnah orang itu, memakan harta orang ini, mengalirkan darah orang itu, dan memukul orang yang itu. Akhirnya semua kebaikannya diberikan kepada orang yang ini dan orang yang itu. Jika amal kebajikannya sudah habis sebelum ditimpakan kepadanya. Setelah itu dia dilemparkan ke neraka” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Rasulullah menjelaskan, Orang-orang yang bangkrut adalah orang-orang pada hari hisab membawa ibadah-ibadah lainnya, tetapi tidak ada bobotnya yang di bawa adalah cangkangnya saja.

Terdapat banyak penjelasan kenapa amal-amal itu kehilangan bobot, alias tinggal cangkangnya. Salah satu sebabnya, niatnya tidak benar. Ada orang yang shalat tapi ria, maka celakalah dia. Begitu juga ada orang puasa menahan lapar dan menahan haus tapi tidak mampu menahan mulutnya dari dusta, maka Allah tidak perlu puasanya.

Ibadah adalah suatu Amalul jawarih (amal anggota tubuh) sekaligus Amalul Qulub (amalan hati). Berdiri menghadap kiblat, meletakkan tangan di atas dada, ruku, sujud, kemudian salam kiri dan kanan itu adalah Amalul Jawarih.

Sementara Amalul Qulubnya itu adalah bagaimana khusyu di dalam ibadah tersebut.

Inilah yang membuat orang-orang salah memperkirakan, dikiranya telah membawa shalat yang banyak, telah membawa sedekah yang banyak, tetapi ternyata membawa cangkang. Itu, karena hanya melakukan Amalul Jawarih, padahal selain itu ada bentuk-bentuk batiniah yang merupakan Amalul Qulub.

Terakhir. Sekali lagi janganlah kita sampai pada Yaumul Hisab nanti jangan cuman membawa cangkang-cangkang ibadah, janganlah kita sudah merasa melakukan yang terbaik. Aamiin yaa rabbal alamiin


Dr. Salim Belafili


ADIB ZAINAL ARIFIN | SALMAN AL FARIZI