KeIhsanan
Rabu, 7 Februari 2018
Khutbah Jumat
Penjelasan Tafsir Surat Al Ashr
Penjelasan Tafsir Surat Al Ashr

وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ٩٩

99. Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal), (Al-Hijr [15] ayat 99).


idrisiyyah.or.id |
 Surat Al Ashr termasuk dalam kategori Makiyyah yang diturunkan di kota Makkah sebelum hijrah Nabi Muhammad saw.

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

"Demi waktu, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh, saling menasehati dalam kebenaran serta kesabaran." (QS Al Ashr [10] : 1-3)

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengomentari keutamaan Surat Al-‘Ashr seraya berkata

لو ما انزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم

“Sekiranya Allah tidak menurunkan hujjah bagi makhluk-Nya kecuali surat ini saja, maka sungguh hal itu sudah mencukupi”

Selain Allah SWT, seluruh makhluk termasuk manusia membutuhkan dimensi ruang dan waktu. Waktu kehidupan di dunia ini singkat untuk menguji manusia. Waktu begitu berharga, dan tidak berhenti ataupun mundur.

Dengan waktu ini sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kenapa hanya manusia yang rugi dalam surat ini? Menurut Imam Ali ra, "Malaikat disusun penciptaannya dari akal tanpa adanya syahwat. Lalu Hewan diciptakan dari syahwat tanpa akal. dan manusia diciptakan dari akal dan syahwat. Barangsiapa yang akal sehatnya menundukkan syahwatnya bagi manusia maka posisinya martabatnya di sisi Allah berada di atas malaikat. Tapi barang siapa manusia syahwatnya mengendalikan akalnya, maka martabatnya lebih buruk dari pada binatang. Karena manusia diberikan akal dan syahwat."

Ada pengecualian, yaitu kecuali manusia yang beriman. Iman dalam pandangan tasawuf adalah pekerjaan hati. Beriman berarti berfungsi dan bekerja hati kita iman kepada Allah dan apa-apa yang diturunkan-Nya.

Tidak cukup iman didalam hati tidak cukup amalan hati, iman itu harus berfungsi mengubah cara pandang, cara berfikir, sikap, dan tindakan dalam kehidupan. Amal adalah wujud dari keimanan. Amal shalih adalah bukti hidupnya hati. Amal shalih adalah buah hidupnya iman dalam hati. Hati dan anggota badan seirama tunduk kepada Allah SWT. seiya sekata antara hati dan perbuatannya.

Namun, semua itu belum cukup terhindar dari kerugian besar dalam pandangan Allah SWT bagi manusia, maka harus menyempurnakan yang ketiga. Islam mengajarkan kolektivitas, tidak hanya membangun individu, tetapi membangun kebersamaan (kolektivitas). Kita tidak boleh menyelamatkan diri sendiri, tapi kita harus menyelamatkan keluarga dan orang lain, terhindar dari kerugian, iman, amal shalih. Sempurnakan harus membangun kebersamaan dalam kebaikan, memberikan wasiat.

Dalam kehidupan kita sering melihat saling mengkritik satu sama lain, satu kelompok dengan kelompok lain, tapi kritik itu keluar dari kebenaran, niatnya ingin menjatuhkan, pendekatannya emosional. Karena ketidaksukaan dan permusuhan, ini semua bukanlah termasuk dalam kategori saling memberikan wasiat dalam kebenaran.

Saling menasihati dalam kebenaran keluar dari hati yang paling dalam, kebersamaan, menghormati dan menghargai, ingin menuntun dan meluruskan orang lain. Terlebih dahulu sebelum memberikan wasiat kepada orang lain, dirinya sendiri diisi dengan keimanan dan amal shalih.

Kritik yang positif dan wasiat yang baik keluar dari individu yang beriman dan beramal shalih. Kritik yang positif ini akan membangun nilai-niali konstruktif di tengah masyarakat yang heterogen. Kesamaan, kesatuan, kebersamaan akan terwujud di tengah kaum muslimin.

Menjadi sempurna dengan saling memberikan wasiat dalam kesabaran. Karena tidaklah mudah menjalankan agama, Rasulullah Saw. menyampaikan laksana kita memegang bara api yang panas, dipegang akan panas tangan kita, dilepaskan akan padam bara api tersebut, kebenaran dijalankan, kita harus berjuang kita harus berkorban, dan apabila dilepas kebenaran itu akan sirna dari diri kita.

Berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ini memang amat berat, bagai mereka yang memegang bara api.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Maka, agar terhindar dari kerugian adalah saling memberikan wasiat tentang kesabaran, kesabaran dalam menjalankan agama dan mengikuti bimbingan agama Allah SWT

Maka dengan Tiga langkah inilah yang akan meloloskan manusia dari kerugian, baik di dunia terutama di akhirat. Disana semua urusan digenggam oleh Allah, didunia manusia bisa berekayasa, tapi diakhirat semuanya Allah yang memutuskan sampai hati yang paling dalam, tidak ada yang tersembunyi, semua tindakan akan dibongkar oleh Allah SWT. Sekaligus Allah akan memutuskan keputusan kita Apakah kita termasuk orang yang bahagia atau sebaliknya orang yang rugi selama-lamanya Nau'dzuBillahi mindzalik.

Inilah ayat, Surah yang Allah turunkan yang singkat tapi padat, kita mentadaburi, memahaminya, merenunginya, kesempatan masih ada, waktu masih ada, tapi entah tinggal berapa lagi sisanya, yang jelas silih bergantinya siang dan malam, waktu yang Allah berikan kepada kita, bukan bertambah tetapi semakin berkurang janganlah kita termasuk orang yang merugi walaupun menjerit ahli neraka jeritan yang mengenaskan,

إِنَّا أَنذَرْنَاكُمْ عَذَاباً قَرِيباً يَوْمَ يَنظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنتُ تُرَاباً

Sesungguhnya Kami telah Memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.” (QS An-Naba [78]:40)

Tetapi ratapan itu tidak ada gunanya, sebab kesempatan terbaik telah Allah berikan.

Ingat kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Kesempatan yang mahal ini dengan Surah al-ashr ini maka kita harus selalu mentadaburi memahami dan merenungi supaya kita tidak menyia-nyiakan waktu yang Allah berikan kepada kita sekalian.

Manusia yang merugi berangan-angan agar ia dihidupkan kembali atau dikembalikan menjadi tanah.

Al 'Ashr, waktu, kesempatan atau peluang, masih terbentang dihadapan. Entah tinggal berapa lagi sisanya. Janganlah menjadi orang yang merugi. Kesempatan di dunia tidak datag dua kali.


Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag


ADIB ZAINAL ARIFIN | SALMAN AL FARIZI