KeIslaman
Rabu, 14 Februari 2018
Kalah itu Lumrah dan Berkah
Kalah itu Lumrah dan Berkah

idrisiyyah.or.id | Ada satu pepatah mengatakan kalau ingin melihat watak asli seseorang, mata perhatikanlah bukan saat dia menerima kemenangan akan tetapi sewaktu ia menerima kekalahan karena pada umumnya, umat manusia cenderung berharap kesuksesan dalam hidup akan tetapi tidak siap menerima kegagalan hidup, berharap kebahagiaan dan keuntungan dalam hidup, tapi takut jatuh dalam kebangkrutan, berharap keselamatan dalam hidup tapi tidak siap menerima tantangan dan musibah yang Allah tetapkan menghiasi perjalanan hidupnya, yang padahal, dari dua sisi yang menghiasi perjalanan hidup seorang hamba, maka sesungguhnya terdapat kebaikan bagi hamba, tatkala kenikmatan yang Allah anugerahkan disikapi dengan penuh syukur, maka Allah menjanjikan kelipatan keberkahan dari karunia yang Allah anugerahkan

Demikian pula, kesulitan, kegagalan, keprihatinan, tantangan hidup yang dijalani ketika semua itu diterima, disikapi dengan penuh sikap sabar maka ada kemungkinan, Allah berkehendak, untuk meninggikan derajat hidup hamba tersebut atau bahkan bisa jadi Allah bermaksud menguji seorang hamba untuk mengikis, menghapuskan dan melebur setiap khilaf dan dosa yang dilakukan hamba, sehingga hamba kembali dalam kefitrahan dirinya.

Demikian pula, penderitaan tantangan serta perjuangan hidup yang dijalani sesungguhnya itu adalah merupakan suatu hal yang lumrah bahkan mungkin bisa menjadi sesuatu yang berkah sebagai serangkaian proses Tarbiyah, bimbingan, pelatihan diri serta proses pembentukan mental yang matang agar supaya kita betul-betul mampu menghargai setiap anugerah Allah SWT. demikian pula agar supaya setiap pribadi di antara kita dapat memahami serta menyadari betapa terbatas dan lemahnya diri kita serta betapa penting dan butuhnya kita akan bimbingan dan pertolongan Allah SWT.

Demikian pula, dalam konteks hidup beragama, keimanan seseorang juga akan terlihat manakala ia mendapatkan cobaan dan ujian di sisi Allah SWT. bukan hanya sebatas tatkala ia mendapat nikmat dan kesenangan dalam hidup semata. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al-Ankabut ayat ke-2

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja, tatkala mengatakan kami telah beriman sementara mereka tidak diuji.

Untuk itu, berbaik sangka atas segala bentuk keputusan Allah, optimis dalam membangun motivasi diri dan memaksimalkan antara ikhtiar dan mengoptimalkan doa di sepanjang hidup kita adalah merupakan serangkaian kunci proses harapan untuk menggantikan dan meraih kekalahan menjadi kemenangan, mengganti kesedihan menjadi kebahagiaan, mengganti isak tangis dengan tawa riang gembira,

Sebagaimana Allah SWT. menghadirkan contoh melalui figur teladan Rasulullah Muhammad Saw. sebelum terlahir ke muka bumi, Rasul sudah mendapati gelar atau status sebagai seorang yatim karena ketika dalam kandungan memasuki usia 6 bulan, ditinggalkan wafat oleh Ayahandanya, Abdullah. Lalu terlahir ke muka bumi dan hanya 4 tahun saja, harus rela ditinggal wafat oleh ibunda tercinta, Siti Aminah. Maka lengkaplah status Rasul Saw. sebagai seorang yatim piatu. Kemudian pengasuhannya, dilanjutkan oleh kakek yang menyayangi dan mencintai beliau dialah Abdul Muthalib dan itupun tidak berlangsung lama, hanya berlangsung 8 tahun saja di usia 8 tahun Kakek beliau tawaffa, yang kemudian pengasuhan Rasul selanjutnya adalah oleh salah seorang Paman beliau yang sangat dalam kesederhanaan dan keterbatasan ialah Abu Thalib, maka dalam pengasuhan Abu Tholib, keprihatinan, keterbatasan dalam hidup yang dijalani oleh Rasulullah Saw. bukan sebab Allah tega dan tidak menyayangi dan mengasihi kekasihnya, akan tetapi itu semua adalah merupakan proses Tarbiyah dan pelatihan serta proses pembentukan karakter mental, karakter kepemimpinan yang mendunia.

Bisa kita rasakan dan saksikan bersama, nama Muhammad senantiasa di agungkan, didengungkan disepanjang kehidupan dari generasi sampai generasi yang akan datang.

Mari kita jadikan segala bentuk problematika dan dinamika hidup sebagai suatu yang berkah yang anugerahkan kepada kita semua Mari kita sikapi dengan keimanan yang matang atas setiap bentuk keputusan dan ketetapan Allah SWT, yang menghiasi perjalanan hidup dan kehidupan kita.

Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan pertolongan dan bimbingannya kepada kita semua, Aamin ya Allah ya robbal alamin

Untuk itu, mari kita tampil menjadi sosok-sosok yang ahli syukur atas setiap karunia yang Allah mudahkan Dan kita pun harus siap tampil menjadi seorang ahli sabar atas setiap musibah yang Allah tetapkan menjadi bagian dari perjalanan hidup yang kita jalani yang harus kita lewati.

Untuk itu, maka pantang diantara kita hidup berputus asa, pantang diantara kita untuk hidup ber buram durja pantang diantara kita untuk hidup bermuka dua berwajah ganda dan pantang dalam hidup kita untuk hidup sia-sia kita manfaatkan sisa umur yang Allah anugerahkan yang Allah amanahkan kepada kita untuk menyempurnakan pengabdian diri kita secara totalitas kepada Allah SWT.


Ustadz Asep Darmawan S.Pd.I. MM.


ADIB ZAINAL ARIFIN | SALMAN AL FARIZI