KeIslaman
Minggu, 25 Februari 2018
Mewujudkan Ibadah Berkualitas
Mewujudkan Ibadah Berkualitas

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

"Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepada-Ku" (QS Adz Dzariyat [51] : 56).

 

idrisiyyah.or.id | Hadirnya manusia di panggung kehidupan ini tiada lain adalah untuk beribadah kepada Allah SWT sebagaimana yang dijelaskan dalam surah Adz Dzariyat [51] ayat 56.

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

"Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepada-Ku."

Ibadah kepada Allah SWT akan sia-sia jika tidak mengenal objek yang di ibadahi. Mengenal Allah SWT, kewajiban utama manusia. Para Ulama sepakat, kewajiban manusia yang utama adalah mengenal Allah SWT dengan penuh keyakinan. 

Sungguh! Allah SWT tidak membiarkan hamba-nya berjalan tanpa petunjuk. Dalam upaya mengenal Allah SWT, ajaran Islam begitu lengkap. Marifatullah diawali dengan mempelajari Ilmu Tauhid yang pendekatannya Dalil Aqli (akal) yang bersumber dari Dalil Naqli (nash). Dengan ilmu tauhid, hamba mengenal sifat-sifat dan nama-nama Allah yang sempurna.

Allah SWT tidak membutuhkan makhluk-Nya. Termasuk kategori syirik, apabila seorang hamba meyakini bahwa Allah SWT membutuhkan yang lain. Namun, mengenal Allah SWT melalui ilmu tauhid lewat pendekatan Aqliah semata belum cukup. Dengan kata lain, mengenal Allah SWT lewat ilmu tauhid keimanannya baru sebatas pengetahuan.

 

Mengenal Allah lewat Tasawuf

Hati itu lahan tumbuh kembangnya iman. Tasawuf, ilmu yang mempelajari tentang Hati. Setelah mengenal Allah melalui ilmu tauhid, seorang hamba harus mengenal Allah SWT melalui Ilmu Tasawuf. Dengan bimbingan Pakar Tasawuf (Mursyid) akan menghapus keraguan kepada Allah SWT.

Tasawuf mengajarkan cara mengenal Allah SWT melalui pendekatan hati. Prosesnya diawali dengan mencabut Illah (tuhan atau sembahan) selain Allah SWT dari dalam hati. Sembahan-sembahan itu bisa berupa makhluk dan dunia. Sembahan-sembahan inilah yang menghijab hati. Adapun mengosongkan hati dari sifat-sifat tercela, proses ini disebut dengan Takhalli. Ikhtiar berikutnya adalah menghiasi hati dengan sifat-sifat mulia (Tahalli) dan pada akhirnya hati akan mendapatkan anugerah mengenal Allah SWT, (Tajalli).

Ulama Mutakallimin mengalami kebingungan, bagaimana mengkonsepkan Marifatullah ini. Manusia bisa mengenal Allah, padahal Dia itu teramat gaib. Allah SWT disebut Al-Batin yang gaib daripada seluruh yang gaib. Maka Ilmu Tasawuf menjawab, ketika Allah SWT mengenalkan dirinya kepada hati hamba yang layak. Jadi bukan kita yang berusaha mengenal Allah, tapi Allah lah yang mengenalkan dirinya kepada hamba yang layak.

Sebagaimana dijelaskan dalam Surah Thaha ayat 14, Allah berfirman kepada Nabi Musa,

 إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ ١٤

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tiada sembahan kecuali Aku, maka beribadahlah kepadaKu Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

Inilah bentuk pengenalan yang sebenarnya, Allah SWT mengenalkan dirinya kepada hamba pilihannya. Itu terjadi ketika hati hamba senantiasa dibersihkan. Sembahan-sembahan selain Allah SWT dihilangkan, hanya ada Allah di dalam hatinya.

 

Tiga Tahapan Mengenal Allah SWT

Takhalli, Tahalli dan Tajalli adalah tiga tahapan untuk mengenal Allah SWT melalui pendekatan hati. Dengan Marifatullah, hati akan merasakan betapa nikmatnya beribadah. Hati menyaksikan keagungan Allah SWT dalam setiap ibadahnya. 

Berikut penjelasan Nabi Muhammad saw ketika beliau ditanya oleh Malaikat Jibril, perihal Ihsan. “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi saw menjawab, ”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Hadits populer yang disampaikan Umar bin Khathab ra ini menggambarkan, betapa saking mengenalnya, sehingga Allah SWT serasa hadir di hadapan dirinya. Bila dirimu tidak mampu seperti itu, sesungguhnya Allah SWT selalu mengawasi engkau. Allah SWT selalu melihat engkau dimana saja dan kapan saja engkau berada. Yakinlah! 

Inilah gambaran orang-orang yang mengenal Allah SWT. Para Nabi dan Rasul, karena mengenal Allah SWT, mereka tahu persis apa yang diridhai Allah SWT. Paham apa yang dicintai Allah SWT, yakni berupa perintah-perintah Allah. Mereka juga mafhum apa yang dibenci oleh Allah SWT, berupa larangan-larangan Allah SWT.

 

Mengenal Allah Harus ada Pembimbing

Nabi saw bersabda: “Aku adalah orang yang paling tahu di antara kalian tentang Allah, karena itu aku adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada-Nya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini adalah sebuah bimbingan, karena ada sebagian sahabat yang begitu antusias dalam beribadah. Mereka ingin mengenal Allah, tapi dengan metode dan cara-cara sendiri.

Asbabul Wurud (sebab diturunkannya hadits) hadits ini menjelaskan ada sahabat yang bertekad, tidak akan menikah, akan terus ibadah saja di dalam masjid. Ada yang akan meninggalkan pekerjaannya, akan terus membaca Al-Quran, terus berzikir. Ada lagi sahabat yang mengatakan akan terus berpuasa dan tidak akan berbuka.

Rasulullah ketika menyatakan, dirinya yang paling mengenal Allah SWT. Paling tahu bagaimana supaya kalian mendapat ridho Allah SWT. Supaya kalian dicintai oleh Allah SWT jangan menggunakan metode ataupun cara-cara sendiri tapi, ikutilah Rasulullah saw.

Maka setelah Nabi Muhammad saw, figur Uswatun Hasanah berlanjut kepada para ulama pewaris nabi. Ikutilah cara-cara para Mursyid setiap jamannya, karena merekalah yang senantiasa mengikuti nabi, lahir dan batinnya.

Untuk mengenal Allah SWT, harus dengan bimbingan ulama. Harus dengan bimbingan Mursyid, karena orang yang tidak berjumpa atau tidak dibimbing oleh wali Mursyid, adalah orang yang disesatkan jalannya menuju Allah SWT.

Firman Allah SWT:

"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya." (QS Al Kahfi [18]:17) 

Hati yang marifat kepada Allah akan merasakan nikmatnya beragama. Hamba akan merasakan hadirnya Allah SWT dalam setiap kondisi. Itulah hati yang senantiasa dilatih, senantiasa dibersihkan. Hati yang selalu menghadap kepada Allah SWT. Sehingga layak Allah mengenalkan diri-Nya kepada hamba tersebut.

Maka marilah, untuk senantiasa belajar Ma’rifat kepada Allah, mengenal Allah, karena ini adalah kunci kesuksesan ibadah kita tidaklah mungkin ibadah kita akan berkualitas atau diterima oleh Allah, kalau kita sendiri tidak mengenal objek, zat yang kita ibadah yaitu Allah SWT.


Ustadz Rijal Fauzy S.Sy.


ADIB ZAINAL ARIFIN