KeIhsanan
Selasa, 1 Mei 2018
Pelepasan Jamaah Umroh Tarekat Idrisiyyah
Pelepasan Jamaah Umroh Tarekat Idrisiyyah
Foto: Idrisiyyah

idrisiyyah.or.id | Keihsanan - Malam bulan purnama di Masjid Al Fattah Tasikmalaya semakin bertambah terang dengan kehadiran jamaah Tahajud. Mereka adalah Murid dan Santri Tarekat Idrisiyyah yang datang dari berbagai penjuru Tasikmalaya. Tahajud bersama pada, Senin (30/04), ini berlanjut hingga Isyroq. Bada Subuh Syekh Akbar Muhammad Fathurahman mengisi dengan kajian sekaligus Pelepasan Jamaah Umroh Tarekat Idrisiyyah, berikut ini petikan ceramahnya:

Langkah-langkah ini adalah langkah menjemput ridha Allah SWT. Mari  kita iringi pelepasan jamaah umroh ini dengan zikir. Karena Haji (umroh) dengan segala manasiknya adalah dalam rangka memenuhi panggilan Allah SWT. Bahkan panggilan ini sudah digaungkan sejak zaman nabi Ibrahim as.

Allah SWT memerintahkan kepada umat manusia untuk berhaji. Meski awalnya Nabi Ibrahim menyatakan kerisauannya, karena Makkah, tempat itu adalah tempat yang tandus gersang. Tempat yang sama sekali tidak dilirik untuk destinasi wisata. "Wahai Ibrahim kamu lakukan saja, maka Aku yang akan menyampaikan!"

 

وَأَذِّنْ فِي النَّـاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيـقٍ

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,” (QS. Al-Hajj [22] : 27)


Lalu nabi Ibrahim as naik ke Jabal Abi Qubais, menyeru semesta untuk berhaji. Maka, berlakulah syariat itu. Hingga saat ini Kuota Haji umroh terpenuhi, selalu kurang, bahkan ada daftar tunggunya yang hingga sepuluh tahun.

 

Keluarga Teladan

Betapa beratnya Ibrahim sebagai seorang Ayah, meninggalkan anak istri di lembah yang tandus, Makkah. Sarah pun galau berat, ketika suaminya bermaksud pergi ke Palestina, negeri yang jauh. Di puncak rasa penasarannya, Siti Hajar mengajukan tanya bernada protes, "Ayah siapa yang memerintahkan ini?" Singkat saja Ibrahim menjawab, "Atas perintah Allah!"

Siti Hajar pun ridha, sebagai manusia Nabi Ibrahim pun menangis dalam hati. Tapi, keduanya ridha. Jejak romantisme ini abadi dalam bentuk, Sai Shafa dan Marwa, dari hentakan kaki bayi Ismail, menyembur air zamzam.

Itulah ikhlas! Orang yang ikhlas Allah muliakan dunia akhirat. Keluarga Ibrahim menjadi teladan dalam dakwah. Anak istri menjadi pendukung dakwah.

 

Allah SWT berfirman,

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang Imam (yang dapat dijadikan teladan), qaanitan (patuh kepada Allah), dan hanif, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang menyekutukan Allah).” (QS. An Nahl [16] : 120)

 

Dimensi Ibadah

ibadah dalam Islam selalu mencakup Dua dimensi, Lahir dan Batin. Shalat misalnya, selain terpenuhi rukun dan syariatnya maka harus khusyu. Adapun dalil yang menguatkan bahwa khusyu' itu pekerjaan hati adl hadis Ali ra "Khusyu' itu berada dalam hati".

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Para ulama sepakat (mengatakan) bahwa khusyu tempatnya dalam hati dan buahnya (tandanya terlihat) pada anggota badan”.

Dalam ibadah ada aspek Lahir dan Batin, termasuk Haji umroh ada ilmu lahir (Fikih) dan ilmu batin (Tasawuf).

Dalam ibadah Haji/umroh ini fikih bisa dipelajari bahkan ada video manasiknya, sedangkan sisi tasawuf harus bolak-balik. Hati harus terus dijaga, agar terus khusyu. Makna istitoah (siap) dalam tasawuf, harus pantas menjadi tamu Allah. Ibadah ke tanah suci harus memiliki kriteria 'istitho'ah' (mampu). Mampu bukan hanya dalam pengertian materi (fisik) tapi harus memiliki kriteria batin (ruhani). Sebagaimana ingin bertamu kepada Presiden maka harus rapi penampilannya. Untuk bertamu kepada Allah SWT: Harus bersih hatinya!

Maksud mampu secara batin adalah kemampuan atau layaknya ruhani menghadap kepada Allah. Hati yang layak menjadi tamu Allah adalah hati yang selalu dibersihkan, dan terjaga dari segala kotoran (dosa). Setiap ibadah mesti disertai kehadiran hati beserta Allah.

Ikhlas itu berat, malaikat pun sampai tertipu oleh orang yang tidak ikhlas. Malaikat dengan bangga membawa amal ibadah anak Adam, tapi Allah SWT menolaknya, karena ada unsur riya. Mereka yang mengumpulkan Fikih dan Tasawuf dalam ibadahnya itulah mereka yang benar

Beribadah Tanpa Fikih dan Tasawuf, seperti tong kosong nyaring bunyinya. Fikih saja bisa jadi topeng. Syariat saja tanpa hati ikhlas ibadahnya bisa batal. Ibadah dengan hati Ikhlas menjadi nikmat. Tidak butuh penilaian manusia, hanya mengharap balasan sempurna dari Allah

Ibadah haji tanpa ikhlas tak ubahnya wisata, atau bahkan bisa celaka. Seperti berebut untuk mencium hajar aswad, atau berdoa di tempat yang mustajab dengan mengabaikan keselamatan. Niatkan, ketika Tawaf selalu dalam upaya berlari mendekat kepada Allah. Meneladani Siti Hajar yang berjuang mendapatkan air untuk putranya Ismail.

Berdoa untuk menunaikan rukun Islam yang kelima ini harus diikuti dengan perbuatan. Jangan lidah berdoa fidunya hasanah wafil akhirati hasanah, tapi tingkah lakunya jauh dari nilai-nilai hasanah (kebaikan). Doa ibarat proposal yang harus diajukan, bukan disimpan dalam lemari. Doa harus sejalan dengan ikhtiar.

Dalam konsep jamaah harus ada pembagian tugas, ada yang jadi pengusaha, politisi, ekonom dan juga ada yang menjadi ahlu suffah. Kalau semuanya sibuk wirid terus, kemana lagi mengajukan proposalnya. Syekh Amin Al Kurdi, dalam bukunya Tanwirul Qulub mengatakan harus ada pembagian tugas. Sehingga terjalin sinergi untuk izzul Islam wal muslimin.


SALMAN ALFARIZY