KeIslaman
Minggu, 3 Juni 2018
Saum Mampu Mengangkat Hijab Kegaiban
Saum Mampu Mengangkat Hijab Gaib
Foto: Idrisiyyah

idrisiyyah.or.id | Sebagai bentuk sunatullah, ketetapan Allah, semua makhluk berpasang-pasangan hanya Allah yang tunggal, baik yang berpasang-pasangan yang kita ketahui dan yang belum mengetahui, ada alam zohir ada alam batin, alam material ada alam imaterial, demikian pula wujud dalam diri kita, sebagai penciptaan Allah, setiap insan terdiri dari jasmani dan rohani.

Ketika manusia tidak diurus ruhaninya dengan bimbingan agama maka manusia sepanjang hidupnya hanya mengetahui sesuatu yang bersifat materi, atau kebendaan saja. Itulah yang disebut dengan penyakit materialistik, segala urusan hanya diukur oleh uang dengan harta, dan materi, dia tidak akan menilai yang tertanam didalam jiwanya, nilai kebaikan dan ketuhanan.

Saum merupakan satu syariat yang Allah pelihara yang pernah diberlakukan kepada kaum-kaum terdahulu lewat para Nabi dan Rasul sebelum Nabi besar Muhammad SAW. karena efektif mampu mengangkat hijab, penghalang wilayah yang gaib, dimana orang muttaqin diawal surat Al-Baqarah ayat 3, mereka orang-orang yang beriman kepada hal yang gaib, tidak bisa diraba oleh panca indra, tapi bisa diyakini oleh hati, bisa disaksikan oleh batin dan pikirannya.

Ketika manusia hanya mengetahui aspek yang materi, maka manusia hanya ingin memuaskan unsur biologisnya semata, lalu hatinya akan tertutup seperti realitas kafirin dimasa rasul diutus, dalam surat Al-Baqarah ayat 7 menyebutkan

 

خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

 

Allah telah menutup kepada hati mereka, ada hijabnya sehingga tidak dapat meyakini kepada hal-hal yang gaib, demikian pula telinga dan matanya sehingga tidak dapat mengetahui, mereka hanya tahu kehidupan ini, fenomena alam tumbuh dengan sendirinya, itulah yang mereka klaim, padahal dibalik itu semua ada sang penguasa, yaitu Allah SWT.

Saum disyariatkan oleh Allah SWT. sampai akhir zaman berefek untuk mampu mengangkat tirai kegaiban yang menutup hati, dan panca indera.

Ketika kita berpuasa, esensinya menjaga dan menahan, bukan hanya menahan dari haus dan dahaga berdasarkan Ilmu Fiqih, akan tetapi menjaga seluruh panca indera dan hati berdasarkan Ilmu Tasawuf.

Dengan menjalankan kedua hal tersebut dalam berpuasa, maka akan mengangkat tirai kegaiban, sifat materialistik, kemudian hati ayat-ayat Allah yang gaib didalam penciptaan manusia, alam semesta, yang didalamnya akan menunjukan dalil bahwa Allah sang pencipta, hati kita akan menyaksi tiada sembahan kecuali Allah.

Betapa indah bila memfungsikan keduanya, fungsi jasmani akan bersentuhan dengan alam disekitar kita yang materi, begitupun dengan fungsi ruhani yang akan berkomunikasi dengan hal-hal yang gaib disekitar kita, bahkan jauh diluar kita, kita akan bisa menangkap surga yang dijanjikan oleh Allah SWT.

Ketika manusia lemah ruhaninya, maka tidak akan mampu menegakan ketaatan kepada Allah, bahkan ketika menegakan perintah Allah pun hanya kulitnya saja, hanya melaksanakan fiqihnya saja, tapi hatinya tidak mersakan keindahan bersama Allah azza wajalla.

Saum akan mampu mengangkat tirai kegaiban, ketika kita terus berinteraksi, dengan hal-hal yang gaib, kita merasakan bahwa di kanan-kiri kita ada malaikat yang selalu mengawasi kita. Al-Quran menyebutkan

 

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

 

Tiada suatu kata yang meluncur dari lisan kita, kecuali malaikat Roqib mencatatnya kalau ucapan itu baik, kecuali malaikat atid mencatatnya kalau ucapan itu buruk dan jahat.

Dua malaikat ini sesuatu yang gaib, hanya diaraskan oleh hati yang terangkat penghalangnya dari hal yang gaib. yang gaib menjadi nyata dan dirasakan sehingga hidup ini menjadi terarah dan teratur ada yang mewangasi dan ujungnya dimana kita merasakan hadirnya dan tatapan Allah dimanapun kita berada, hidup kita akan selalu dalam jalan Allah, jalan yang lurus, ketika kita akan berbelok, berbuat keburukan dan kezaliman, maka akan mampu di rem, karena ruhani kita merasakan hadirnya tatapan Allah dan makhluk Allah yang gaib lainnya.

Saum esensinya menjaga dari makanan minuman, pergaulan, menjaga hati, panca indra semua bergerak hanya untuk ketaatan kepada Allah SWT. Ketika kita melakukan puasa benar secara fiqihnya, benar secara perspektif tasawuf, maka ruh kita akan dikembalikan menjadi fitrah, karena semua ruh pernah menyaksi kepada Allah SWT.

 

Surat Al-A'rof ayat 172

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

 

Ruh yang telah bermusyahadah di alam ruh, dan kemudian kita lahir ke muka bumi, banyak kebutuhan syahwat biologis, jangan sampai kalah dengan kebutuhan ruhani, kita seimbangkan, kita penuhi kebutuhan ruhani kita yang perlu mendekat kepada Allah, merasakan dekat dengan Allah, nikmat menjalankan perintah Allah, dan kita penuhi kebutuhan jasmani kita dengan teratur, agama islam yang indah mengatur seimbang, antara kebutuhan jasmani dan ruhani, kita berharap hasanah, bahagia di dunia dan kita menatap kebahagian abadi dengan hasanah nya akhirat.

Kita punya cita-cita yang tinggi, bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, sholihin, disurganya Allah SWT, yang akan menjadi sahabat kita di surganya Allah abadi.


Syekh Muhammad Fathurahman M.Ag.