KeIslaman
Kamis, 26 Juli 2018
Hukum Jamak dan Qoshor Shalat
Hukum Jamak dan Qoshor Shalat

•  Dalam Pandangan Umum Mazhab Syafii
•  Dalam Pandangan Mazhab Hanbali, Maliki, dan Hanafi

PRINSIP ibadah selain tidak memberatkan, juga menampung berbagai level keimanan. Sebuah keniscayaan, Ibadah mengakomodir kondisi lahir batin yang dihadapi umat setiap zaman. Disisi lain, modernisasi menuntut kesibukan kerja semakin padat. Globalisasi membuat pergaulan dengan non muslim  sulit dielakkan. Realita kekinian di kota-kota besar dan di negara non muslim, manusia bercampur baur. Dunia sudah seperti sebuah 'desa' yang memungkinkan warganya lalu lalang beraktivitas. Ruang gerak yang melampaui batas-batas teritorial atau sebaliknya jarak yang dekat tapi waktu tempuhnya lama (macet), hal ini seringkali berbenturan dengan waktu shalat. Macet di Kota besar maupun di Tol, sama-sama memakan waktu.


Tujuan Dan Hikmah

Menyikapi hal tersebut di atas, kami pandang mendesak adanya kajian fiqih yang luas dan update perihal pelaksanaan shalat. Betapa pun, shalat hukumnya wajib yang tak bisa ditawar-tawar. Shalat itu tiang agama dan sekaligus rukun Islam yang Kedua. Dengan kaidah ini, maka siapa yang meninggalkannya tidak hanya berdosa, tapi telah merobohkan agama.

Alih-alih memberi solusi –pembahasan jama’ shalat dengan ijtihad yang jauh dari Al Quran dan Al Hadis, atau pun jauh dari ijtihad para mujtahid mustaqilnya– justru melahirkan produk hukum yang kaku. Produk hukum yang terbatas, tidak universal dan jumud, kudet (kurang up date) alias tidak mengikuti perkembangan zaman. Akibatnya umat Islam yang awam banyak yang meninggalkan shalat. Maka diperlukan sebuah kajian untuk mewadahi dan mendidik mereka supaya mau mendirikan shalat dalam kondisi mereka yang berbeda-beda, baik perbedaan kualitas iman, kesehatan fisik, pendidikan, pekerjaan, lingkungan dan lainnya.

Sebelum ke pembahasan, kami terlebih dulu menyampaikan pengertian Mujtahid Mustaqil. Dia adalah sosok ulama yang telah memenuhi semua syarat-syarat seorang mujtahid. Pribadi yang memiliki otoritas untuk mengkaji hukum langsung dari Al Quran dan As Sunnah, melakukan qiyas, mengeluarkan fatwa atas pertimbangan maslahat, dan menggunakan metode yang dirumuskan sendiri dalam berijtihad tanpa mengekor kepada mujtahid lain. Pendapatnya kemudian disebarluaskan kepada masyarakat. Termasuk dalam tingkatan ini adalah seluruh fuqaha dari kalangan sahabat, fuqaha dari kalangan tabiin seperti Said bin Musayyab dan Ibrahim an-Nakha’i, fuqaha mujtahid seperti Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, al-Auza’i, al-Laits bin Sa’ad, Sufyan a8ts-Tsauriy, dan Abu Tsaur. Namun yang madzhabnya tetap masyhur hingga kini adalah 4 Imam, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.

Prinsip utama agama Islam, adalah memberikan tashil atau taysir (kemudahan) sesuai dengan situasi dan kondisi umat yang berbeda-beda. Tashil berbeda dengan tasahul (menggampangkan) yang muncul dari kemalasan, mengikuti hawa nafsu, atau mencari celah. Dalil-dalil Al Quran dan Al Hadis mengenai ini, menjelaskan sebagai berikut:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Allah tidak menjadikan dalam agama ini kesulitan,” (QS. Al-Hajj : 78).

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu,” (QS Al Baqarah [02]: 185).

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah,” (QS. An Nisa’ [04]: 28).

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا

“Buatlah mudah, jangan mempersulit”. (HR Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1734).

فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

“Kalian diutus untuk mempermudah dan kalian tidaklah diutus untuk mempersulit,” (HR. Bukhari no. 220).


Dalam kaidah induk qawaid fiqhiyyah:

ﺍَﻟْﻣَﺸَﻘﱠﺔُ  ﺗَﺠْﻟِﺐُ ﺍﻟﺗﱠﻴﺴِﻴﺮَ

“Kesulitan mendatangkan kemudahan”.


Kondisi yang Membolehkan Jama' dan Qashar

Kondisi kondisi yang membolehkan jama', menurut Fuqaha

Pertama, Disunahkan jama’ taqdim di Arafah dan jama ta`khir di Muzdalifah.

Kedua, Ketika Safar. Disunahkan jama' baik ketika masih proses perjalanan atau sudah sampai ke tujuan. Ketika seseorang berangkat sudah masuk waktu shalat maka boleh jama’ taqdim, dan apabila belum masuk waktu shalat maka jama ta`khir. Prinsipnya jama' diperbolehkan ketika menghadapi kondisi masyaqah (memberatkan). Mengenai masafah (jarak) perjalanan, Nabi Saw tidak mendetilkan jarak perjalanan. Dalam Mazhab Syafii, batas minimal jaraknya, 80 km. Namun, perkembangan zaman khususnya masalah lalu lintas, tentu berbeda kondisinya dengan masa Nabi saw. Realita kini perjalanan dekat pun bisa menghabiskan waktu berjam-jam, karena kondisi macet, banjir dan lainnya. Sehingga pendapat yang kuat dalam masalah jarak safar ini adalah sesuai kondisi ril dalam perjalanan bukan dengan batas minimal jarak.

Sepanjang musafir belum hadlor (ada di kampung sendiri) boleh menjamak shalat, berbeda dengan qashar hanya boleh empat hari menurut Mazhab Syafii. Sedangkan menurut Hanafi sampai 15 hari. Dengan adanya ijtihad para Fuqaha yang berbeda, maka orang awam tidak merasa berat menjalankan fiqih, sehingga tidak meninggalkan kewajiban shalatnya. Hikmah adanya jama’ dan qhasar, adalah: supaya mereka yang lemah fisik, lemah imannya, atau kondisi sibuk jangan sampai meninggalkan shalatnya. Akan tetapi yang afdhalnya adalah setelah sampai ke tempat tujuan, maka orang yang safar shalat berjamaah di masjid tanpa jama’ qashar, yaitu bagi orang yang kondisi fit, luang waktunya dan kuat imannya.

Ketiga, Hujan Lebat. Menurut Mazhab Syafii boleh bagi yang muqim/hadlor (tidak dalam perjalanan) ketika hujan lebat untuk jama’ taqdim, yaitu ketika hujan lebat dari mulai takbiratul ihram sampai shalat yang kedua. Deskripsinya apabila seseorang pergi ke masjid dan rumahnya jauh dari masjid kemudian jalannya becek berlumpur maka boleh menjamak taqdim, selama hujan. Kondisi ini pun termasuk masyaqah.

Keempat, Sebab Sakit. Menurut mazhab Hanbali, dan sebagian Syafii; boleh jama’ taqdim atau ta`khir karena uzur sakit. Menurut mazhab Syafii, masyaqah sakit lebih berat dari masyaqah karena hujan lebat.

Kelima, Uzur, atau kondisi takut atau karena hajat mubahah. Mazhab Hanbali memperluas kembali dari sakit ke uzur lain: membolehkan jama’ taqdim dan ta`khir bagi yang uzur, dan takut. Contoh uzur yang diperbolehkan jama’ seperti ibu-ibu yang menyusui dengan kondisi repot, wanita istihadlah jika masyaqah dengan darah yang sering. Jika kedua kondisi tersebut kalau tidak masyaqah maka ambillah yang utama. Demikian sakit beser bagi laki-laki dan wanita, boleh jama’ shalat. Sakit beser yang keluarnya air kencing dalam hitungan menit maka shalatnya wajib pakai pampers. Demikian boleh jama’ bagi orang yang takut atas dirinya, hartanya, barang-barangnya sehingga harus di jaganya. Seperti dalam kondisi khawatir adanya penjarahan maka agama menghargai harta seorang muslim dengan menjaga hartanya. Maka mengambil keutamaan harus sesuai dengan situasi dan kondisi.

Keenam, Kesibukan. Berkata Syaikh Ibn Taimiyah: “Mazhab yang paling luas memberikan toleransi masalah jama' adalah madzhab Hanbali, termasuk boleh jama’ shalat karena sibuk seperti sibuk memasak untuk hajatan, maka boleh jama’ shalat jika dikhawatirkan rusak pasakannya”.

 

Rujukan dari Al-Quran dan Hadis

إِنَّ الصَّلاةَ كانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتاباً مَوْقُوتاً

"Sesungguhnya salat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman," (An-Nisa [04]: 103)

Menurut Ibnu Abbas, makna yang dimaksud ialah yang difardukan. Ibnu Abbas mengatakan pula bahwa shalat itu memiliki waktu, sama seperti ibadah haji memiliki waktu yang tertentu baginya.

Hal yang sama diriwayatkan dari Mujahid, Salim ibnu Abdullah, Ali ibnul Husain, Muhammad ibnu Ali, Al Hasan, Muqatil, As Saddi, dan Atiyyah Al Aufi.

وَإِذا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُناحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكافِرِينَ كانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِيناً

"Dan apabila kalian bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kalian meng-qasar salat (kalian), jika kalian takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagi kalian," (QS. An Nisa [04]: 101)

وَقَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَر، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُولُ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ من المدينة إِلَى مَكَّةَ، فَكَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ، حَتَّى رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ. قُلْتُ: أَقَمْتُمْ بِمَكَّةَ شَيْئًا؟ قَالَ: أَقَمْنَا بِهَا عَشْرًا.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ma'mar, telah menceritakan kepada kami Abdul Waris, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abu Ishaq yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Anas menceritakan hadis berikut: Kami keluar bersama-sama Rasulullah Saw. dari Madinah ke Makkah, beliau Saw shalat dua rakaat-dua rakaat hingga kami kembali ke Madinah. Aku (Yahya ibnu Abu Ishaq) bertanya, "Apakah kalian tinggal di Makkah selama beberapa waktu?" Anas menjawab, "Kami bermukim selama sepuluh hari di Makkah."

صَلَّى رَسُول اللَّهِ بِالْمَدِينَةِ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا زَادَ مُسْلِمٌ مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ سَفَرٍ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu Bahwa Rasulullah saw di Madinah menjama' shalat Dzhuhur dan Ashar serta menjama' shalat Maghrib dan Isya'. Imam Muslim menambahkan, "Itu dilakukan bukan karena takut atau safar.” (HR. Muslim).

حَدَّثَنَاه أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ كِلَاهُمَا عَنْ غُنْدَرٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَزِيدَ الْهُنَائِيِّ قَالَ : سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ قَصْرِ الصَّلَاةِ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ ثَلَاثَةِ أَمْيَالٍ أَوْ ثَلَاثَةِ فَرَاسِخَ-شُعْبَةُ الشَّاكُّ- صَلَّى رَكْعَتَيْنِ.(رواه مسلم) 

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Muhammad bin Basysyar keduanya dari Ghundzar, Abu Bakar berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ja’far Ghundar dari Syu’bah dari Yahya bin Yazid Al-huna’i ia berkata : Aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang shalat qashar, lalu ia menjawab : Rasulullah saw jika keluar menempuh jarak 3 mil atau 3 farsakh (Syu’bah ragu) beliau shalat 2 rakaat. (HR.Muslim : 1116)

REFERENSI :

Kitab-kitab Madzhab Syafi’iy

1.  Al-Umm, juz 1 hlm. 95

2.  Nihayah al-Zain, juz 1, hal. 123 

3.  Bughyah al-Mustarsyidin, juz 1, hal. 77 

4.  Al-Majmu' Syarh al-Muhaddzab, juz 4, hal. 332 

5.  Raudhah Al-Thalibin Wa 'Umdah Al-Muftin, juz 1, hal. 394

6.  Kifayah Al-Akhyar, juz 1, hal. 207-208

7.  Al-Iqna’ fi Halli Al-Fadz Abi Syuja’.

8.  Fiqh As-Syafi’i 1/463

9.  Al-Muhadzdzab 1/105

10.  Taqriratus Sadidah, bagian ibadah, hlm. 322.

Kitab Fiqih Perbandingan, dan Hadis

1.  Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah

2.  Fiqhus Sunnah.

3.  Kasysyaful Qina’, juz 2 hlm. 5

4.  Al-Fiqh ‘ala Madzahib Al-Arba’ah, juz 1, hlm. 140-141.

5.  Tuhfah al-Ahwadzi 1/492
 

Allah SWT Tidak Ingin Menyulitkan

نهاية الزين في ارشاد المبتدئين ج 1 ص 123 

تنبـيه: قد علم مما مر أنه لا جمع بغير سفر ونحو المطر كمرض وريح وظلمة وخوف ووحل؛ وهو المشهور لأنه لم ينقل، وحكى في المجموع عن جماعة من الشافعية جوازه بالمذكورات؛ وهو قوي جداً في المرض والوحل، وهذا هو اللائق بمحاسن الشريعة. وقد قال تعالى: {وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍۚ}؛ (الحج 22 الآية: 78)، وعلى ذلك فيسنّ للمريض أن يراعي الأرفق بنفسه، فمن يحم في وقت الثانية يقدمها بشرائط جمع التقديم بالسفر، أو في وقت الأولى يؤخرها بالشرطين المتقدمين لجمع التأخير، ويجعل دوام المرض هنا كدوام السفر هناك. إهـ

“Tanbih (Peringatan): Sesungguhnya telah diketahui dari penjelasan yang telah lalu, bahwasanya tidak ada jama; tanpa sebab safar, dan seperti hujan, sakit, angin, gelap, takut, dan lumpur dan ini pendapat yang masyhur karena hal itu tidak dinuqil (dalilnya). Dan dihikayatkan dalam Al Majmu’ dari jama’ah ulama Syafi’iyyah bolehnya hal-hal yang telah disebutkan diatas. Inilah pendapat yang kuat sekali dalam uzur sakit dan lumpur (becek). Tentu, ini layak untuk keindahan-keindahan syariat.

Ingatlah firman Allah : “Tidaklah Dia menjadikan atas kalian dalam agama ini kesukaran,” (QS. Al-Hajj [22]: 78). Maka, disunnahkan bagi orang yang sakit untuk menjaga kebaikan dirinya sendiri. Barangsiapa merasa akan demam di waktu yang kedua dari shalatnya maka ia boleh menjama’ taqdim dengan syarat-syarat jama’ taqdim dengan safar, atau demam pada waktu yang pertama, maka boleh menjama’ takhir dengan dua syaratnya yang telah awal (dijelaskan) untuk jama’ takhir, dan dijadikan dawamnya sakit disini seperti dawamnya safar”.

 

Karena Hajat

بغية المسترشدين ج 1 ص 77 

فائدة: لنا قول بجواز الجمع في السفر القصير اختاره البندنيجي، وظاهر الحديث جوازه ولو في حضر كما في شرح مسلم، وحكى الخطابي عن أبي إسحاق جوازه في الحضر للحاجة، وإن لم يكن خوف ولا مطر ولا مرض، وبه قال ابن المنذر اهـ قلائد. إهـ

“Faedah: Bagi kami pendapat membolehkan jama; dalam safar yang pendek (dekat) dipilihnya Al-Bandanijiy. Dan teks hadis membolehkannya meskipun tidak safar sebagaimana dalam Syarah Shahih Muslim. Ada riwayat Al Khatabiy dari Abi Ishaq bolehnya jama’ dalam hadlar (tidak safar) karena ada hajat. Meskipun tidak ada takut, hujan, dan sakit. Dan dengannya berpendapat Ibn Al Mundir Qala`id”.

المجموع شرح المهذب ج 4 ص 332

فرع في مذاهبهم في الجمع في الحضر ولا سفر ولا مطر ولا مرض: مذهبنا ومذهب أبي حنيفة ومالك وأحمد والجمهور أنه لا يجوز. وحكى ابن المنذر عن طائفة جوازه بلا سبب. قال وجوزه ابن سيرين لحاجة أو ما لم يتخذه عادة. إهـ

“Cabang dalam madzhab-madzhab mereka dalam masalah jama’ dalam kondisi muqim tidak safar, tidak ada hujan, dan tidak sakit: Madzhab kami dan Madzhab Abu Hanifah, Malik, Ahmad dan Jumhur Ulama bahwa hal itu tidak boleh jama’. Dan Ibn al-Mundzir menghikayatkan dari sekelompok fuqaha boleh jama’ tanpa sebab. Berkata : Adapun Ibn Sirrin membolehkannya karena ada hajat atau karena sesuatu yang tidak dibiasakannya (untuk menjama’)”

 

Kondisi Hadlar

روضة الطالبين وعمدة المفتين ج 1 ص 394

فرع : المعروف في المذهب: أنه لا يجوز الجمع بالمرض، ولا الخوف، ولا الوحل. وقال جماعة من أصحابنا: يجوز بالمرض، والوحل. ممن قاله من أصحابنا: أبو سليمان الخطابي ، والقاضي حسين ، واستحسنه الروياني . فعلى هذا، يستحب أن يراعي الأرفق بنفسه، فإن كان يُحم مثلاً في وقت الثانية، قدمها إلى الأولى بالشرائط المتقدمة، وإن كان يُحم في وقت الأولى، أخَّرها إلى الثانية 

قلت : القول: بجواز الجمع بالمرض ، ظاهر مختار. فقد ثبت في «صحيح مسلم»: «أن النبي ، «جمع بالمدينة من غير خوف ولا مطر»» . وقد حكى الخطابي ، عن القفا الكبير الشاشي ، عن أبي إسحق المروزي : جواز الجمع في الحضر للحاجة من غير اشتراط الخوف، والمطر، والمرض، وبه قال ابن المنذر من أصحابنا. والله أعلم. إهـ

“Cabang: yang dikenal dalam Madzhab Syafii: Bahwasanya tidak boleh jama’ karena sakit, takut, dan becek. Lalu berkata jamaah dari sahabat-sahabat kami: boleh jama’ karena sakit, lumpur. Sebagian oang yang berpendapat demikian adalah: Abu Sulaiman Al-Khatabi, Al-Qadli Husain, dan dinilai baik oleh Ar-Ruwaini. Berdasarkan ini maka seseorang sebaiknya menjaga kesehatan dirinya, seandainya akan demam di waktu (rakaat) kedua maka boleh jama’ taqdim dengan syarat-syaratnya, dan apabila demam diwaktu pertama maka boleh jama’ ta`khir”.

Aku berkata: pendapat yang membolehkan jama’ karena sakit, adalah yang jelas dan dipilih. Sungguh telah tetap dalam Shahih Muslim: “Sesungguhnya Nabi Saw menjama` shalat di Madinah tanpa ada udzur takut, dan tidak pula hujan”. Al-Khattabiy telah meriwayatkan dari Al-Qafa al-Kabir asy-Syasyi dari Abi Ishaq al-Maruziy: Boleh jama’ dalam kondisi hadlar karena hajat tanpa ada syarat takut, hujan, sakit, dan dengannya berkata Ibn Mundzir dari sahabt-sahabat kami.”

كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار ج 1 ص 207-208

فرع: المعروف من المذهب أنه لا يجوز الجمع بالمرض ولا الوحل ولا الخوف، وادعى إمام الحرمين الإجماع منهما ممنوع؛ فقد ذهب جماعة من أصحابنا وغيرهما إلى جواز الجمع بالمرض، منهم القاضي حسين والمتولي والروياني والخطابي والإمام أحمد ومن تبعه على ذلك، وفعله ابن عباس رضي الله عنهما، فأنكره رجل من بني تميم، فقال له ابن عباس رضي الله عنهما: أتعلمني السنة لا أم لك، وذكر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم فعله، قال ابن شقيق: فحاك في صدري من ذلك شيء، فأتيت أبا هريرة رضي اللـه عنه فسألته عن ذلك فصدق مقالته، وقصة ابن عباس وسؤال ابن شقيق ثابتان في صحيح مسلم. قال النووي: القول بجواز الجمع بالمرض ظاهر مختار، فقد ثبت في صحيح مسلم أن النبي صلى اللـه عليه وسلم (جمع بالمدينة من غير خوف ولا مطر)؛ قال الاسنائي: وما اختاره النووي نص الشافعي في مختصر المزني، ويؤيده المعنى أيضاً فإن المرض يجوز الفطر كالسفر فالجمع أولى، بل ذهب جماعة من العلماء إلى جواز الجمع في الحضر للحاجة لمن لا يتخذه عادة؛ وبه قال أبو إسحاق المروزي، ونقلـه عن القفال، وحكاه الخطابي عن جماعة من أصحاب الحديث، واختاره ابن المنذر من أصحابنا، وبه قال أشهب من أصحاب مالك، وهو قول ابن سيرين، ويشهد لـه قول ابن عباس رضي اللـه عنهما أراد أن لا يحرج أمته حين ذكر أن رسول اللـه صلى اللـه عليه وسلم (جمع بالمدينة بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء من غير خوف ولا مطر)؛ فقال سعيد بن جبير: لم يفعل ذلك؟ فقال: لئلا يحرج أمته، فلم يعللـه بمرض ولا غيره، واختار الخطابي من أصحابنا أنه يجوز الجمع بالوحل فقط، واللـه أعلم. إهـ

“Menurut Imam Nawawi, pendapat yang membolehkan jamak shalat bagi orang sakit, sudah jelas jadi pilihan yang tepat. Dalam shahih Muslim, Nabi saw menjamak shalat di Madinah bukan karena kondisi terganggunya keamanan, hujan lebat, dan bukan pula karena sakit. Menurut Imam Asna’i, pilihan Imam Nawawi didasarkan pada pendapat Imam Syafii yang tercantum dalam kitab Mukhtasar Imam Muzanni. Pendapat ini diperkuat oleh sebuah perbandingan ketika alasan sakit, layaknya perjalanan jauh menjadi alasan sah untuk membatalkan puasa. Kalau puasa saja boleh dibatalkan, maka menjamak shalat tentu dibolehkan juga.

Bahkan sekelompok ulama membolehkan jamak bagi hadirin (orang mukim, yang tidak bersafar) untuk sebuah hajat. Dengan catatan, ini tidak menjadi sebuah kebiasaan. Abu Ishak Al Maruzi memegang pendapat ini. Ia mengutipnya dari Qaffal yang diceritakan oleh Al-Khathabi dari para ulama hadits. Ibnul Munzir Syafi‘i dan para pengikut Imam Malik menganut pendapat tersebut. Pendapat tersebut juga menjadi pendapat Ibnu Sirin. Hal ini dikuatkan dengan hadits Ibnu ‘Abbas, ia menginginkan saupaya umat nabi Muhammad saw tidak keberatan ketika ingat bahwa sesungguhnya Rasulullah saw menjama’ di Madinah antara shalat Zuhur dengan Asar, dan antara shalat Maghrib dan ‘Isya tanpa ada kondisi takut, dan hujan. Maka berkata Sa’ad bin Jubai, kenapa beliau saw berbuat demikian? Ibn Abbas berkata supaya umatnya tidak keberatan padahal tidak ada sebab dan sakit, atau lainnya. Al-Khattabiy dari ashab kita membolehkan dengan sebab lumpur (becek) saja”.

الإقناع في حلِّ ألفاظ أبي شجاع
قال في "الإقناع في حلِّ ألفاظ أبي شجاع" : (المعروف في المذهب أنه لا يجوز الجمع بالمرض ولا الخوف ولا الوحل وقال جماعة من أصحابنا يجوز بالمرض والوحل ، وممن قاله من أصحابنا أبو سليمان الخطابي والقاضي حسين واستحسنه الروياني) ، بل يحكي عنه الأوجه وقول الشربينيِّ هذا منقولٌ من شيخ المذهب الرافعيِّ في "الشرح الكبير" بنصِّه وينقل عنه النوويُّ ، وينسبَه للشافعيَّة ، وللنوويِّ عنايةٌ فائقةٌ بنقل أقوال الخطابي في "المجموع

“Berkata mushannif, dalam al-Iqna’ fi Halli Alfadzi Abi Syuja’: “Yang dikenal dalam Madzhab (Syafi’i) bahwa sanya tidak diperbolehkan jama’ disebabkan sakit, takut, dan sebab lumpur (jalan becek). Dan berkata jama’ah dari sahabat-sahabat kami diperbolehkan jama’ disebabkan sakit dan lumpur. Sebagian orang yang berkata demikian dari sahabat kami adalah Abu Sulaiman al-Khathabiy, dan al-Qadli Husain dan mengaggap baik hal itu Ar-Ruwayniy. Bahkan diriwayatkan darinya segi-seginya, dan pendapat Asy-Syarbainiy ini dinuqil dari Syaikh al-Madzhab (Syafi’i) yaitu Ar-Rafi’i dalam Syarhul Kabir dengan nashnya, dan menuqil darinya An-Nawawiy, dan Nawawi menisbatkannya kepada Asy-Syafi’i. Bagi Nawawi (Ad-Dimasyq) menjadi inayah yang unggul  dengan menuqil pendapat-pendapat al-Khathabiy dalam Majmu’-nya”.

تحفة الأحوذي ج 1 ص 492

قوله: (ورخص بعض أهل العلم من التابعين في الجمع بين الصلاتين للمريض وبه يقول أحمد وإسحاق) وقال عطاء يجمع المريض بين المغرب والعشاء كذا في صحيح البخاري معلقاً. ووصله عبد الرزاق قال الحافظ في الفتح: وصله عبد الرزاق في مصنفه عن ابن جريج عنه قال: واختلف العلماء في المريض هل يجوز له أن يجمع بين الصلاتين كالمسافر لما فيه من الرفق به أولاً فجوزه أحمد وإسحاق واختاره بعض الشافعية، وجوزه مالك بشرطه والمشهور عن الشافعي وأصحابه المنع ولم أر في المسألة نقلاً عن أحد من الصحابة انتهى كلام الحافظ

Sebagian ahli Ilmu dari kalangan Tabiin memberi dispensasi akan jama’ shalat karena sakit, inilah pendapat Imam Ahmad dan Ishaq. Imam ‘Atha’ memperkenankan menjama’ shalat maghrib dan Isya sebab sakit demikian keterangan yang dikaitkan dalam Shahih al-Bukhari dan sampai pada Abdur Razaq. Al-Hafidz dalam kitab al-Fath berkata “Pernyataan tersebut sampai pada Abdur Razaq dalam kitab karangannya dari Ibn Juraih, ia berkata “Ulama berbeda pendapat akan kewenangan orang sakit, bolehkah ia menjama shalat sebagaimana orang yang bepergian karena yang demikian terdapat unsur kasihan padanya, atau tidak diperbolehkan?"

Imam Ahmad, Ishaq dan sebagian pengikut madzhab Syafi’iyyah memilih membolehkannya, Imam Malik memperkenankan dengan persyaratan sedang pendapat yang masyhur dan para sahabatnya melarangnya dan aku tidak melihat dalam masalah ini keterangan yang dapat diambil dari kalangan sahabat nabi Saw.

الموسوعة الفقهية:

اختلف الفقهاء في جواز الجمع للمريض: فذهب المالكيّة والحنابلة إلى جواز الجمع بين الظّهر والعصر وبين المغرب والعشاء بسبب المرض واستدلّوا بما روي عن ابن عبّاس رضي الله عنهما قال : « جمع رسول اللّه صلى الله عليه وسلم بين الظّهر والعصر ، وبين المغرب والعشاء من غير خوف ولا مطر » وفي رواية : « من غير خوف ولا سفر » وقد أجمعوا على أنّ الجمع لا يكون إلاّ لعذر فيجمع للمرض وقد ثبت « أنّ النّبيّ صلى الله عليه وسلم أمر سهلة بنت سهيل وحمنة بنت جحش رضي الله عنهما لمّا كانتا مستحاضتين بتأخير الظّهر وتعجيل العصر والجمع بينهما بغسل واحد، ثمّ إنّ هؤلاء الفقهاء قاسوا المرض على السّفر بجامع المشقّة فقالوا : إنّ المشقّة على المريض في إفراد الصّلوات أشدّ منها على المسافر، إلاّ أنّ المالكيّة يرون أنّ الجمع الجائز بسبب المرض هو جمع التّقديم فقط لمن خاف الإغماء أو الحمّى أو غيرهما وإن سلم من هذه الأمراض ولم تصبه أعاد الثّانية في وقتها، أمّا الحنابلة فيرون أنّ المريض مخيّر بين التّقديم والتّأخير كالمسافر ، فإن استوى عنده الأمران فالتّأخير أولى، لأنّ وقت الثّانية وقت للأولى حقيقة بخلاف العكس، والمرض المبيح للجمع عند الحنابلة هو ما يلحقه به بتأدية كلّ صلاة في وقتها مشقّة وضعف

“Para Fuqaha telah berbeda pendapat mengenai bolehnya jama’ bagi orang yang sakit: Malikiyah dan Hanabilah membolehkan jama’ antara Zuhur dan Ashar, dan antara Maghrib dan Isya’ dengan sebab sakit tanpa karena takut atau hujan (saja), dan dalam satu riwayat (tanpa takut dan hujan). Sungguh telah ijma’ bahwa jama’ tidak ada kecuali karena uzur (syar’i) maka boleh menjama’ bagi yang sakit. Sungguh telah tetap “Sesungguhnya Nabi Saw memerintahkan Sahlah bin Sahil dan Hamnah bin Jahsy ketika keduanya istihadlah dengan mengakhirkan Zuhur dan menyegerakan Ashar dan menjama’ diantara keduanya dengan satu kali mandi. Kemudian para Fuqaha ini mengqiyaskan yang sakit kepada safar dengan sebab menghimpunnya masyaqah, mereka berkata: “Sesungguhnya masyaqah atas sakit dalam hal shalat lebih dahsyat dari pada orang yang safar, hanya saja Malikiyyah berpendapat bahwa bolehnya jama’ dengan sebab sakit itu hanya jama’ taqdim bagi orang yang takut pingsan atau demam, atau selain keduanya. Jika selamat dari sakit-sakit ini dan tidak menimpanya, maka ia mengembalikan waktu (shalat) yang kedua pada waktunya. Adapun Hanabilah maka mereka berpendapat bahwa yang sakit diberi pilihan antara jama’ taqdim dengan jama’ ta`khir seperti orang yang safar. Maka jika keduanya sama baginya maka jama’ takhir lebih utama. Karena waktu yang kedua hakikatnya berbeda dengan sebaliknya. Adapun orang sakit yang boleh menjama menurut Hanabilah adalah sesuatu yang menemuinya masyaqah dengan sebabnya dalam menunaikan setiap shalat dan juga kelemahan fisik”.

قال النووي رحمه الله تعالى بعد أن ذكر أن مشهور مذهب الشافعي عدم جواز الجمع بسبب المرض: وقال المتولي: قال القاضي حسين: يجوز الجمع بعذر الخوف والمرض كجمع المسافر ويجوز تقديما وتأخيرا والأولى أن يفعل أرفقهما به واستدل له المتولي وقواه....... وهذا الوجه قوي جدا، ويستدل له بحديث ابن عباس قال: جمع رسول الله صلى الله عليه وسلم بالمدينة من غير خوف ولا مطر. رواه مسلم، ووجه الدلالة من أن هذا الجمع إما أن يكون بالمرض وإما بغيره مما في معناه أو دونه ولأن حاجة المريض والخائف آكد من الممطور. انتهى

“Berkata An Nawawi setelah menyebutkan qaul masyhur dari madzhab Syafii, tidak bolehnya jama’ karena sakit. Berkata al-Mutawalli: telah berkata Al Qadli Al Husain: Boleh menjama’ bagi yang uzur khawatir, sakit, seperti jama’ bagi yang safar, dan boleh jama’ taqdim atau ta`khir. Dan utamanya mengerjakan yang lebih mudah di antara keduanya dan Al Mutawalli mengambil dalil baginya dan menganggapnya kuat. Ini pendapat yang kuat sekali. Ia mengambil dalil dari hadis Ibn ‘Abbas ia berkata:  “Rasulullah Saw telah menja’ma di Madinah tanpa ada takut, dan hujan,” (HR Muslim).

Dari segi penunjukannya adalah bahwa jama’ yang dilakuan Rasulullah ini apakah karena sakit, atau yang lainnya dari makna sakit atau selainnya, karena hajat, sakit dan yang takut, lebih kuat dari orang yang terkena hujan”.

التقريرات السديدة قسم الإبادة ص ٣٢٢ ط دار العلوم.

الجمع في المرض : لا يجوز الجمع للمريض تقديما و تأخيرا على المعتمد في المذهب , و اختاره الإمام النووي و غيره جوازه كالقاضي حسين و ابن سريج و الروياني و الماوردي و الدارمي و المتولي.

ضابط المرض المبيح للجمع : أن تلحقه مشقة شديدة إذا صلى كل صلاة في وقتها , و قال بعضهم : يجوز إذا كان المرض يبيح الجلوس في الصلاة

“Jamak shalat ketika sakit tidak boleh menjamak shalat bagi orang yang sakit baik itu jamak taqdim atau takhir berdasarkan pendapat yang mu'tamad dalam mazhab Syafi'i. Akan tetapi imam Nawawi membolehkannya dan juga ulama lain seperti : Imam Al Qodi Husain, Imam.Ibnu Suroij, Imam Rowyani, Imam Mawardi, Imam Darimi, Imam Mutawali, dan Imam Hamd bin Sulaiman. Definisi sakit yang diperbolehkan menjamak shalat: Sekiranya orang yang sakit merasakan kesulitan yang sangat benar-benar sulit untuk shalat pada waktunya. Akan tetapi ada sebagian ulama berpendapat boleh jamak bagi orang yang sakit seandainya sakitnya itu membolehkannya shalat secara duduk.”

على مذاهب الأربعة ج 1 ص 440-441  الفقه

الشافعية

قالوا : يجوز الجمع بين الصلاتين المذكورين حمع تقديم أو جمع تأخير للمسافر مسافة القصر... ويجوز جمع تقيدم فقط بسباب نزول المطر.... يسن الجمع إذا كان الحاج مسافرا وكان بعرفة أو مزذلفة فالأفضل للأول حمع العصر مع الظهر تقديما وللثاني حمع المغرب مع العشاء تأخيرا... ومثل المطر الثلج والبرد الذائبان....... وليس من الأسباب التي تبيح للمقيم هذا الجمع الظلمة الشديدة والريح والخوف والوحل والمرض على المشهور, ورجح جواز الجمع تقديما وتأخيرا للمرض.

“Fuqaha Syafi’iyyah berkata: Boleh menjama’ diantara dua shalat yang disebutkan baik jama’ taqdim maupun jama’ ta`khir bagi musafir sejauh (perjalanan) yang membolehkan qhasar. Boleh jama’ taqdim saja dengan sebab turunnya hujan (lebat)….. disunahkan jama’ apabila orang yang berhaji dalam keadaan safar dan berada di ‘Arafah atau Mudzdalifah, maka yang lebih utama bagi yang awal adalah menjama’ ‘Ashar beserta Zuhur (jama’) taqdim, dan bagi yang kedua (Mudzdalifah) menjama’ Maghrib beserta ‘Isya (jama’) ta`khir dan seumpama hujan adalah salju dan es yang mencair dan tidak ada sebab-sebab boleh jama’ bagi yang mukim berupa gelap yang pekat, angin, takut, becek, sakit menurut pendapat yang masyhur, maka diutamakan bolehnya jama’ taqdim atau ta`khir bagi yang sakit”  

 

Pendapat Asal dari Madzhab Syafi’i

الأم : ج 1 ص 95

... والجمع في المطر رخصة لعذر, وان كان عذر غيره لم بجمع فيه لأن العذر في غيره خاص, وذالك المرض والخوف وما أشبهه, وقد كانت أمراض وخوف فلم يعلم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم جمع.

“… dan jama’ dalam keadaan hujan adalah dispensasi karena uzur, dan jika terbukti udzur selainnya , maka tidak boleh jama’ di dalamnya karena uzur selain hujan adalah khusus (harus ada nash), dan demikian sakit, takut dan yang serupa. Dan sungguh telah terjadi sakit-sakit dan ketakutan (pada zaman Nabi Saw) dan tidak diketahui bahwa Rasulullah Saw menjama’ (shalat)”.

فقه الشافعي ج 1 ص463

وخرج بذلك الحل والريح والظلمة والمرض والخوف وغير ذلك من الأعذار المبيحة لترك الجماعة فلا يجوز الجمع بسببها لأنها قد كانت في زمان النبي صلى الله عليه و سلم ولم ينقل أنه جمع لأجلها ولحديث المواقيت فلا تجوز مخالفته إلا بنص صريح

“Dikecualikan dengan itu lumpur becek, angin, gelap, sakit, takut, dan selainnya berupa uzur-uzur yang diperbolehkan untuk meninggalkan berjama’ah shalat maka boleh menjama’ dengan sebab uzur tersebut. Maka tidak diperbolehkan menjama’ dengan sebab itu, karena hal itu tentu ada pada masa Nabi Saw dan tidak dinukil bahwasanya Nabi Saw menjama’ karenanya. Adapun adanya hadis mengenai waktu-waktu shalat maka tidak boleh menyelisihinya kecuali dengan nash yang jelas”.

المهذب ج 1 ص 105

فأما الوحل والريح والظلمة والمرض فلا يجوز الجمع لاجلها فإنها قد كانت في زمان النبي صلى الله عليه وسلم ولم ينقل أنه جمع لاجلها

“Dikecualikan dalam hal tersebut lumpur becek, angin, gelap, sakit, takut dan halangan-halangan lainnya yang memperkenankan meninggalkan shalat berjamaah maka tidak diperkenankan menjalankan jama’ shalat karenanya karena hal-hal demikian telah terjadi dizaman nabi Saw dan tidak dinukil beliau menjama’ shalat karenanya dan berdasarkan hadits “al-mawaaqit” maka tidak boleh menyalahinya kecuali dengan dalil yang sharih (jelas).”

 

Fiqih Hanbali:

كشاف القناع) جزء 2/5) 
  (فصل في الجمع ) بين الصلاتين ... يجوز الجمع بين الظهر والعصر في وقت إحداهما ، وبين العشاءين في وقت : إحداهما. فهذه الأربع هي التي تجمع : الظهر والعصر , والمغرب والعشاء ، في وقت إحداهما ؛ أما الأولى , ويسمى جمع التقديم , أو الثانية , ويقال له جمع التأخير, في ثمان حالات :
إحداها : ( لمسافر يقصر ) أي يباح له قصر الرباعية , بأن يكون السفر غير مكروه ولا حرام
والحالة الثانية : المريض يلحقه بتركه مشقة وضعف ؛ وقد ثبت جواز الجمع للمستحاضة وهي نوع مرض ، واحتج أحمد بأن المرض أشد من السفر ، واحتجم بعد الغروب ثم تعشى , ثم جمع بينهما
والحال الثالثة : ( لمرضعٍ لمشقة كثرة النجاسة ) أي مشقة تطهيرها لكل صلاة . قال أبو المعالي : هي كمريض
والحال الرابعة : ( لعاجز عن الطهارة ) بالماء ( أو التيمم لكل صلاة ) ، لأن الجمع أبيح للمسافر والمريض للمشقة , والعاجز عن الطهارة لكل صلاة في معناهما
الحال الخامسة : المشار إليها بقوله : ( أو ) عاجز ( عن معرفة الوقت كأعمى ) ومطمور ( أومأ إليه أحمد ) قاله في الرعاية , واقتصر عليه في الإنصاف
والحال السادسة : ( لمستحاضةٍ ونحوها ) كصاحب سلس بول أو مذي أو رعاف دائم ونحوه ، لما جاء في حديث حمنة حين استفتت النبي صلى الله عليه وسلم في الاستحاضة , حيث قال فيه : ( فإن قويتِ على أن تؤخري الظهر وتعجلي العصر فتغتسلين ثم تصلين الظهر والعصر جميعا , ثم تؤخرين المغرب وتعجلين العشاء ، ثم تغتسلين وتجمعين بين الصلاتين : فافعلي ) رواه أحمد وأبو داود والترمذي وصححه ، ومن به سلس البول ونحوه في معناها
والحال السابعة والثامنة : ( لمن له شغل أو عذر يبيح ترك الجمعة والجماعة ) كخوف على نفسه أو حرمته أو ماله , أو تضرر في معيشة يحتاجها بترك الجمع ونحوه.

“Pasal dalam jama’ diantara dua shalat. Boleh  menjama’ di antara Zuhur dengan Ashar, Maghrib dengan Isya pada waktu salah satunya, yang pertama disebut jama’ taqdim dan yang kedua disebut jama’ ta`khir.

Boleh jama’ dalam 8 kondisi:

1.  Orang yang shafar yang membolehkan qashar (shalat yang empat raka’at) apabila safarnya bukan dalam perkara yang makruh atau haram.

2.  Sakit karena terdapat masyaqah dan kelemahan, sebagaimana telah tetap bolehnya jama’ bagi wanita yang istihadlah. Imam Ahmad berhujah sakit itu lebih masyaqah dari pada safar. Apabila hijamah setelah gurub matahari kemudian masuk Isya maka boleh dijama’.

3.  Wanita yang menyusui karena masyaqah banyaknya najasah, menurut Ibn Ma’ali ini pun seperti kondisi sakit.

4.  Tidak mampu bersuci dengan air atau tayamum bagi setiap shalat. Ini pun dalam kondisi seperti safar dan sakit.

5.  Tidak mampu dari mengetahui waktu shalat seperti orang buta, ini yang diisyaratkan oleh imam Ahmad.

6.  Wanita yang istihadalah dan yang semisalnya, seperti sakit beser, atau madzi, atau mimisan yang terus menerus.

7.  dan 8.  Orang yang sibuk atau udzur yang diperbolehkan meninggalkan shalat Jumat dan jamaah shalat, seperti takut atas dirinya, atau kehormatannya, atau hartanya. Bisa juga karena darurat jika meninggalkan menjama’ shalat dalam masalah maisyah yang ia membutuhkannya.


USTADZ RIZAL FAUZI