KeIhsanan
Rabu, 1 Agustus 2018
Dzikir Berjamaah
Dzikir Berjamaah
Foto: Idrisiyyah

idrisiyyah.or.id | Keihsanan - Mursyid Tarekat Idrisiyyah Syekh Muhammad Fathurahman, M.Ag kembali mengisi Majelis Ilmu dan Dzikir dalam pengajian rutin Arbain, Ahad (15/07/2018) di Masjid Al Fattah Pondok Pesantren Idrisiyyah, Tasikmalaya.

Setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah Syekh Muhammad Fathurahman, M.Ag memimpin Majelis Dzikir dan dilanjutkan dengan kajian singkat dengan tema “Dzikir Berjamaah”

Dzikir berjamaah dilaksanakan setelah shalat fardhu maupun dalam waktu lainnya, Rasulullah Saw memberikan penghormatan kepada Majelis Dzikir yang dikabarkan oleh Allah SWT seperti dalam kitab Fiqhu Sunnah dan Kitab Al Adzkar An Nawawi.

Pertama, Majelis Dzikir disebut taman surga, maka nabi mempersilahkan umatnya untuk memasuki taman-taman surga di Majelis Dzikir.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda, ”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya,”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) Dzikir.” (HR Tirmidzi)

Kedua, Berdzikir dengan suara yang dikeraskan setelah melaksanakan shalat fardlu dalam kitab Bukhari

Dari Ibnu Jarir, ia berkata, ‘Amr telah berkata padaku bahwa Abu Ma’bad bekas budak Ibnu ‘Abbas mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu ‘Abbas ra berkata,

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

“Mengeraskan suara pada Dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi Saw.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.” (HR. Bukhari no. 805 dan Muslim no. 583)

Ketiga, Majelis Dzikir merupakan Majelis malaikat. Juga menjadi penyebab turunnya ketenangan dan rahmat Allah. Allah membanggakannya kepada malaikat. Rasulullah Saw bersbada:

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah SWT, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat (Allah SWT) meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah SWT menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang ada di sisi-Nya. (HR Muslim)

Makna dari duduk di Majelis Dzikir bukan berarti dzikir hanya duduk saja, karena duduk merupakan salah satu bagian dari dzikir. Sebagaimana dalam shalat terdiri dari beberapa kaifiyat seperti berdiri, sama seperti dzikir salah satu kaifiyatnya adalah duduk.

Dalam hadits tersebut menerangkan pula bahwa Allah SWT memberikan 4 keutamaan bagi siapa saja yang duduk di Majelis Dzikir.

Pertama, Para malaikat mengerumuni orang-orang yang duduk di Majelis Dzikir, mereka adalah malaikat Sayyarah yang diberikan tugas oleh Allah SWT untuk mencari Majelis Dzikir di dunia.

Rasulullah Saw mengajarkan ketika berdzikir tidak diperbolehkan untuk mengantuk, maka metode yang ampuh adalah dengan mengeraskan suara saat berdzikir. Sebagaimana pada masa Rasulullah Saw Umar bin Khattab ra sering melaksanakan shalat tahajud dengan suara yang dikeraskan untuk membangkitkan sahabat lainnya supaya bangun mendirikan shalat tahajud.

Kedua, atmosfir Majelis Dzikir dipenuhi dengan rahmat Allah SWT.

Ketiga, Allah menurunkan ketenangan karena hati orang yang berdzikir sedang beserta dengan Allah, sementara hati akan gelisah ketika bersama dengan makhluk dan berambisi mengejar kesenangan dunia.

Keempat, Allah menyebut-nyebut nama orang yang berDzikir dihadapan para malaikat, mereka adalah malaikat muqarrabin yang bersama Allah.

Mencuri perhatian Allah SWT membuat Allah SWT bangga, sebab betapa mahal Majelis yang membuat hati tersambung dengan Allah SWT. Majelis Dzikir pun sangatlah efektif untuk membersihkan hati dan menumbuhkan kecintaan kita kepada Allah SWT. Maka pantas Allah SWT memberikan keutamaan dan menyebut nama orang yang berdzikir dihadapan para malaikat.

Rasulullah Saw bersabda,

قَالَ الله ُتَعَالَى: اَناَ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى وَاَنَا مَعَهُ اِذَا ذَكَرَنِى فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَاِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ

Allah SWT berfirman, Aku ini (bertindak) sesuai dengan prasangka hamba-Ku padaku. Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Apabila ia mengingat-Ku di dalam hatinya, maka Aku pun menyebutnya sendiri. Jika dia mengingat-Ku di tengah-tengah orang banyak, maka aku akan menyebutnya di tengah-tengah orang banyak yang lebih mulia dari pada orang banyak saat ia mengingat-Ku. (HR. al Bukhari dan ahli hadits lainnya)

Para wali Allah sampai fana dan tidak sadarkan diri karena merasakan 4 keutamaan dalam Majelis Dzikir ini, mereka tenggelam dalam Tauhid. Maka ketika belajar Ilmu Tauhid yang dipadukan dengan Ilmu Tasawuf  iman bukan hanya diucapkan akan tetapi sampai dinikmati dan dirasakan.

Dan hanya orang yang memadukan antara dzikir dan fikir maka Allah SWT akan memberikan rahasia dalam semua peristiwa yang sedang terjadi. Semua karena kehendak Allah dan disanalah ada rahasia dalam semua yang terjadi, dan hanya hati para wali Allah yang hatinya sentiasa berdizir dan bertafakur.


MUHAMMAD SYARIF