KeIhsanan
Sabtu, 3 November 2018
Serambi Islami TVRI
Mesin Tarekat | Full Version
Mesin Tarekat | Syekh Muhammad Fathurrahman, M.Ag.

idrisiyyah.or.id | Keihsanan - Mursyid Tarekat Idrisiyyah, Syekh Muhammad Fathurahman M.Ag, menyampaikan Kajian Tasawuf di Program Religi Unggulan TVRI Nasional "Serambi Islami", dengan tema "Mesin Tarekat", Kamis (23/08/2018).


Ruh yang Menggerakkan

Mengutip dari Wikipedia berbahasa Indonesia, Mesin (bahasa Inggris:machine) adalah alat mekanik atau elektrik yang mengirim atau mengubah energi untuk melakukan atau alat membantu mempermudah pekerjaan manusia. Biasanya membutuhkan sebuah masukan sebagai pemicu, mengirim energi yang telah diubah menjadi sebuah keluaran, yang melakukan tugas yang telah disetel.

Sedangkan Makna Tarekat adalah:

اَلسَّيْرَةُ الْمُخْتَصَّةُ بِالسَّالِكِيْنَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ قَطْعِ الْمَنَازِلِ وَالتَّرَاقِيْ فِى الْمَقَامَاتِ.

"Tarekat adalah Jalan khusus orang-orang yang melakukan pengembaraan spiritual menuju kepada Allah SWT 'Azza wa Jalla, yaitu dengan menempuh manazil (level-level hawa nafsu) dan menaiki pilar-pilar ruhani (maqamat), seperti: tawakal, ikhlas, dan lain-lainnya". (Al Jurjani, at Ta'rifat, hlm 183, dan ‘Abdur Razaq, Mu'jam ishthilahat ash-Shufiyyah, hlm. 85).


Tarekat secara etimologis, artinya: Jalan. Adalah keniscayaan, sebuah destinasi harus menempuh jalannya. Pepatah mengatakan, "Dimana ada kemauan disitu ada jalan."  Agar melintas dengan selamat harus mengikuti aturan, rambu dan arahan Petugas.

Manusia terdiri dari dua unsur, Jasmani dan Ruhani. Sebagaimana jasmani, ruhani pun senantiasa bergerak, berjalan untuk mencapai tujuannya. Sesungguhnya esensi manusia adalah:  Ruh. Adapun anggota tubuh fisik dan panca indera sebagai alat bantu.  Fisik akan kembali kepada asalnya: tanah. Adapun Ruh akan kembali kepada Allah SWT, karena berasal dari tiupan Allah SWT. Jangan lupa sebuah mobil yang tampak  keren, didalamnya ada Mesin yang menggerakkan. Tentu kita tidak sedang berdebat penting mana body dengan mesin? Karena keduanya memiliki fungsi, body yang indah memang perlu, tapi mesin-lah yang menggerakkan. Lalu bagaimana jadinya manusia tanpa ruh?

Ibarat komputer ada perangkat hardware dan software. Ilmu Tasawuf adalah Ilmu yang menggali potensi jiwa manusia, sedangkan Tarekat adalah pelembagaan dari Ilmu Tasawuf itu sendiri. Sebagaimana mazhab dalam Ilmu Fikih. Ilmu Fikih lebih dikenal dengan istilah empat Imam Mazhab, seperti Imam Syafii disebut dengan Mazhab Syafiiyah. Mazhab dalam Ilmu Tasawuf disebut dengan Tarekat atau Thariqah. Ilmu Tasawuf yang dirumuskan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, maka disebut Tarekat Qadiriyyah. Rumusan tasawuf Syekh Abu Hasan Asy-Syazili dinisbatkan kepadanya menjadi Tarekat Syadziliyyah dan begitu pula yang lainnya.

Dari definisi di atas, tergambar apa sebenarnya Tarekat itu. Dengan Tarekat, batin atau ruhani manusia memiliki roadmap, yakni peta jalan menuju Allah SWT. Roadmap juga sering diartikan Blueprint, Grand Design atau  simpelnya Rencana Kerja. Jika dikaitkan dengan fikih sebagai jalan menuju kepada Allah SWT yang bersifat lahir ­-dalam pemenuhan aspek syariat- munculah Mazhab.

Ibadah tidak cukup dengan fikih saja, tapi harus menyempurnakannya dengan memperjalankan ruhani. Berjalan menuju kepada Allah SWT: Jalan itu tiada lain melalui ilmu Tasawuf, yang dilembagakan menjadi Thariqah (Tarekat). Para ulama menyimpulkan: Ath-thruruq kal madzahib (Thariqah-thariqah laksana mazhab-mazhab dalam fikih).


Potensi Manusia

Manusia makhluk Allah SWT yang sempurna. Salah satu bentuk kesempurnaannya, ada dua unsur yang berlawanan dalam diri manusia. Kedua unsur itu memiliki potensi untuk tumbuh, jadi harus selalu dikelola.

Pertama, Potensi kebaikan yang ada di dalam hati dan dibantu oleh akal.

Kedua, Potensi keburukan yang bisa menimbulkan kejahatan, yaitu: hawa nafsu.

Tarekat -sebagai pelembagaan ilmu tasawuf dan cara mengaplikasikannya­- memiliki mesin yang bergerak dalam dua hal. Mesin itu membersihkan dari potensi buruk dan sekaligus menumbuhkan potensi baik. Potensi buruk dari hawa nafsu selalu dididik, sebaliknya potensi baik harus digali.

Firman Allah SWT,

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

"Maka Allah SWT mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya," (QS. Asy-Syam [91] : 08)


Mujahadah An Nafs

Mujahadah An nafs adalah cara mendidik dan mengendalikan hawa nafsu. Unsur buruk dalam diri manusia apabila dibiarkan akan berpotensi melakukan tindak kejahatan. Mujahadah ini  menjadi mesin utama dalam tarekat untuk menempa manusia menjadi, Insan Kamil.


Mujahadah ini adalah Mesin Tarekat. Cara kerjanya adalah mendidik dan membersihkan jiwa dan hati kotoran dan penyakit batin, diantaranya adalah penyakit ujub, takabur, sombong, riya. Lihatlah, orang yang terkena penyakit batin ini, kerjanya hanya mencari perhatian orang. Riya adalah penyakit hati yang bersumber dari hawa nafsu.

Fitrahnya manusia memenuhi kebutuhannya, sandang, pangan, papan dan urusan biologis lainnya. Jadi nafsu itu dididik bukan dibunuh. Hawa nafsu merupakan sesuatu yang fitrah makanan, minuman, pakaian, dan kesenangan duniawi bukan harus diputus. Tetapi dalam Islam harus bisa mengatur polanya. Jangan sampai hawa nafsu terus dituruti. Nabi saw mewanti-wanti, hawwan muttaba (menuruti hawa nafsu) menjadi salah satu tanda kecelakaan (Alamat As Saqawah).

Manajemen hawa nafsu agar diatur dengan baik sesuai dengan kebutuhannya adalah mujahadah yang dilakukan setiap saat. Dalam hadits disebutkan:

أَعْــدَى عَــدُوِّكَ  نـَفْـسُـكَ  الَّــتِي  بـَيْـنَ جَـنْـبَـيْـكَ أخرجه: الطبراني رواه البيهقي

Musuh besarmu adalah nafsu yang ada di antara kedua lambungmu (HR Thabrani dan Baihaqi)

Nafsu tidak mengenal waktu dan tempat. Nafsu tidak mengenal di dalam atau di luar masjid. Dia akan terus bergejolak menuntut, semakin ingin meningkatkan ibadah ajakan nafsu semakin lembut. Syekh Ibnu 'Athaillah menyebutkan dalam kitabnya Al-Hikam, Ajakan hawa nafsu bisa mengajak kepada ketaatan secara lahir. Pada akhirnya bentuk ketaatan tersebut bersifat semu, sedangkan batinnya diacak-acak dan dihancurkan oleh hawa nafsu. Orientasi ketaatannya bukan kepada Allah SWT melainkan untuk memenuhi hawa nafsunya. Inilah perjuangan melawan hawa nafsu yang memiliki karakteristik selalu menyukai hal-hal yang berlebih-lebihan di luar akal sehat (alam realitas). Selama keimanan kuat dan akal sehat berjalan maka selama itu pula kita mampu mengendalikan laju hawa nafsu.

Rasulullah saw bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

"Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menundukkan hawa nafsunya untuk tunduk pada ajaran yang aku bawa." (Diriwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih menurut Imam Nawawi.).


Riyadhah

Allah SWT menganugerahkan potensi yang baik yang ada dalam hati manusia yang mempunyai nilai ketuhanan. Semua ruh manusia tanpa terkecuali pernah menyaksi kepada Allah SWT sebagai rabb-nya, sang Pencipta dan Pemelihara.

Firman Allah SWT,

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (QS. Al-Hijr [15] : 29)

inilah potensi yang Allah SWT anugerahkan kepada kita, sehingga seluruh semua manusia mempunyai nilai ketuhanan dan kebenaran. Maka kita dapat membohongi orang lain akan tetapi tidak akan pernah bisa membohongi hati kita, karena hati pada orisinilitasnya adalah bersih dan mengandung nilai ketuhanan, kebenaran dan kebaikan. Maka mesin tarekat yang kedua ini, karena dalam diri manusia ada potensi kebenaran jangan dibiarkan tapi harus digali potensi tersebut. Istilah dalam Tasawuf disebut dengan Riyadhah menurut bahasa artinya mengolah.

Istilah yang biasa kita kenal dalam kehidupan adalah "Olahraga", para pendiri banga kita menyanyikan lagu Indonesia raya dalam salah satu baitnya yakni bagunlah jiwanya bangunlah badannya. Hal ini menunjukan yang harus kita bangun adalah jiwa kemudian raga. Jiwa manusi harus dibangun dalam ilmu tasawuf disebut Riyadhoh atau membangun potensi ruhani agar semakin mengenal kepada Allah SWT. Karena apabila terlantar ruhnya yang  tidak digali potensinya dan hawa nafsu yang dididik maka dalam Al-Quran dijelaskan kedudukannya lebih rendah dari binatang.

Firman Allah SWT,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah SWT) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah SWT), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah SWT). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al A'raaf [07] : 179)

Apabila kita belajar di Tarekat Mutabarah yang shahih dan sah yang memenuhi kriterianya maka mesin Tarekat akan berjalan untuk menempa kita. Seorang murid akan mendapatkan pembinaan yang komprehenship karena ada Mursyid dalam Tarekat yang memberikan bimbingan. Dulu para Sahabat Nabi saw berhasil tergali potensinya hati dan hawa nafsunya bisa ditundukan sehingga disebut dalam Al-Quran menjadi umat pilihan dan umat terbaik. Karena sebelumnya kegelapan menyelimuti jazirah Arab berubah menjadi dunia yang penuh dengan ilmu pengetahuan dengan cahaya dan petunjuk. Para sahabat sukses ditempa oleh Rauslulah saw dengan mujahdah dan Riyadhah.

Firman Allah SWT,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah SWT. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran [03] : 110)

Para ulama dengan segala kapasitasnya keahlian ada dibidang Tauhid, Fikih dan tasawuf. Rasulullah mewariskan semua ilmu agama kepada para ulama, maka apabila ingin mendalami tasawuf dengan baik harus ada dalam bimbingan seorang mursyid dalam tarekat mutabarah. Seorang murid akan belajar karena ada figur nyata pembimbingnya. Pola seperti ini akan membuatnya terhindar dari kesalah fahaman termasuk dalah dalam mempraktekannya. Seorang mursyid dalam tarekat dengan kapasitsnnya dan kepakarannya akan melihat kondisi jiwa yang menjadi jamaahnya dengan kemampaun bimbingan ruhani.


Kisah Syekh Ahmad bin Idris Al-Fasi

Sayid Ahmad memiliki seorang Syekh yang teguh, yang merupakan salah satu ulama Syinqit (Mauritania), dikenal sebagai al-'Allamah al-Mujaydri [Limjaydri]. Yang terakhir ini biasa mengunjungi Fez dari waktu ke waktu. Sementara dia berada di Fez, Sayid Ahmad ra. biasa mempelajari beberapa kitab tebal kepadanya -saya kira kitab Hadis dan kitab agama yang sepertinya tidak dipelajari di Fez. Suatu saat Limjaydri ingin kembali ke Syinqit, tapi ada beberapa buku yang tafsir belum selesai dipelajari. Sayid Ahmad bertanya kepadanya, "Wahai Guruku, izinkan saya pergi denganmu supaya bisa menuntaskan kitab-kitab ini."

Limjaydri menjawab, "Bersabarlah sampai saya dapat izin untuk Anda dari Guru saya."

Sayid Ahmad bertanya kepadanya, "Apakah kamu punya seorang Guru?"

"Ya, dia Sayid Abd al-Wahab al-Tazi ra."

Sayid Ahmad terkejut bahwa Limjaydri masih memiliki seorang Guru ra, yang menurutnya tidak jelas dan kedudukan spiritualnya tidak diketahui oleh kebanyakan orang.

Beberapa saat kemudian Limjaydri mengatakan kepadanya, "Syaikh tidak memberi izin, namun menyuruh saya untuk membawa Anda kepadanya sehingga dia bisa mempersatukan Anda dengan Rasulullah Saw."

Kekaguman Sayid Ahmad menjadi semakin besar. Kemudian Sayid Ahmad pergi dengan Limjaydri mengunjungi Sayid Abdul Wahab. Dia mengambil Tarekat darinya dan berkhidmah kepadanya, tinggal bersama dan menyerahkan diri sepenuhnya.

Syaikh at-Tazi telah menghadiri beberapa ceramah bersama Ibnu Idris. Pada pertemuan pertama mereka, at-Tazi berkata,

"Apa yang terjadi dengan suara gemuruh itu (hadrah), wahai Ahmad?" Guru dan orator yang hebat sekarang duduk paling rendah di hadapan guru Syaikhnya. Syaikh Ahmad ibn Idris tinggal bersamanya selama empat tahun dan dia timba dari sumur ilmu bukan hanya jalan spiritual (Tarekat Khadiriyah) tapi juga ilmu-ilmu hadits.

Syaikh Ahmad ibn Idris menulis, "Kami mengambil Tarekat dari Ghauts pada zamannya dan imam masanya, Syekh yang mulia, Tuan dan Pemimpinku, Abdul Wahab at-Tazi al-Fasi. Dia mengambilnya dari Ghauts pada zamannya dan Imam masanya, Hasan Sharif, Tuan dan Pemimpin kami, Sayyidi Abdul Aziz al-Dabbagh al-Fasi. Dia mengambil dari Gurunya, seorang Arif, Sayyidi Abu al-Abbas Ahmad al-Khidir as."

Seorang murid Syaikh Ahmad ibn Idris, Syaikh Muhammad bin Ali al-Sanusi berkomentar, "Ini adalah jalur (sanad) keguruan yang paling mulia di antara sanad yang singkat karena Nabi Khidir as bertemu langsung dengan Nabi saw, saat hidupnya dengan cara yang sama seperti yang dialami oleh semua sahabat dari Nabi ra. Demikian juga Sayyid Abdul Aziz ad Dabbagh mengambil darinya dengan cara yang sama seperti semua penerus para Sahabat (Tabi'in) yang mengambil otoritas para Sahabat yang sezaman dengan Nabi saw dan seterusnya. Dengan demikian perantara antara kita dan Nabi saw adalah empat (orang)."

Disisi lain, Syaikh Ahmad ibn Idris menulis kepada muridnya, al-Mirghani: Ada aspek lain yang lebih tinggi lagi dari sanad yang telah kita sebutkan ini, yaitu kita menerima Tarekat dari Syaikh Abdul Wahab (at Tazi) yang telah disebutkan di atas dan ia menerimanya dari Nabi saw. Karena saya telah mendengar dia berkata, 'Saya mendengar Rasulullah saw bersabda:

Saya belum pernah melihat sesuatu yang lebih menguntungkan daripada (zikir dengan) "La ilaha illa Allah SWT Muhammadur Rasulullah, ShallAllah SWTu 'alayhi wa sallam. ''

Dan ini memang diterima langsung dari Rasulullah saw. Ketika sanad yang tinggi, berdasarkan silsilah yang singkat, itu dianggap lebih sempurna dan lebih baik oleh keistimewaan isnad (rantai silsilah)."

Setelah beberapa waktu, at Tazi berkata kepada Syaikh Ahmad ibn Idris, "Saya pikir Syekh Anda, Limjaydri, telah bepulang ke Rahmatullah."

Sayid Ahmad bertanya, "Wahai Guru, bagaimana Anda tahu hal ini?"

Dia menjawab, "Seorang Guru Mursyid memiliki kesempatan untuk mengunjungi murid-muridnya. Selama mereka masih hidup, Gurunya tidak selalu menemui mereka dalam keadaan yang sama. Terkadang jiwa mereka bersinar dan terkadang jiwa mereka redup, sesuai kesungguhan mereka bertarekat dan ketaatan mereka kepada Allah SWT. Terkadang mereka dekat dengan-Nya dan terkadang jauh sekali. Untuk beberapa hari ini jiwanya bersinar dengan cahaya yang tak tergoyahkan sama seperti saat terakhir aku meninggalkannya."


Kisah Usman bin Affan ra

Dikisahkan oleh Anas bin Malik RadhiyAllah SWTu ‘anhu, telah datang seorang laki-laki kepada sosok yang pernah menyumbangkan tujuh ratus unta yang penuh muatan dalam jihad. Sosok yang didatangi itu sedang berkhutbah di mimbar Rasulullah ShallAllah SWTu ‘alaihi wa Sallam.

Kisah Anas, "Dalam perjalanannya, laki-laki itu bertemu dengan seorang wanita. Ia menatap dan memperhatikan kecantikannya."

Sesampainya laki-laki tersebut, sosok shalih yang dua kali berhijrah itu berkata, "Telah masuk di antara kalian seorang yang terdapat bekas zina di matanya."

"Tidakkah engkau tahu, bahwa zinanya mata adalah pandangan?" lanjut sosok yang juga pernah sedekahkan sumur kepada kaum muslimin, "Hendaklah engkau bertaubat," jika tidak, lanjutnya menasihati, "akan aku kenakan hukuman ta'zir kepadamu."

Laki-laki yang merasa pun amat terperangah. Kaget. Bingung. Kecamuk dalam pikirannya bercampur dengan penyesalan atas dosa yang ia lakukan itu. Dalam hati ia bertanya, "Bagaimana ia bisa mengetahuinya?"

Ia pun mengira bahwa wahyu masih turun. Namun, yang dialami oleh lelaki shaleh itu adalah firasat orang yang beriman. Firasat yang jernih sebab dekatnya ia dengan Allah SWT Ta'ala.

Maka benarlah sabda Nabi,

اتقوا فراسة المؤمن ، فإنه ينظر بنور الله

"Takutlah (hati- hatilah) dengan firasat orang yang beriman, sesungguhnya dia melihat dengan cahaya ALLAH SWT. "

(HR Tirmidzi).

 


MUHAMMAD SYARIF | SALMAN AL-FARIZI