KeIhsanan
Minggu, 25 November 2018
PETIKAN MUTIARA QINI NASIONAL 1
Ilustrasi 01

قال الطيبي: لا ينبغي للعالم - ولو تَبَحَّر في العلم حتى صار واحدَ أهل زمانه - أن يقتنع بما عَلمه، وإنما الواجب عليه الاجتماع بأهل الطريق ليدلوه على الطريق المستقيم، حتى يكون ممن يحدثهم الحق في سرائرهم من شدة صفاء باطنهم، ويُخَلَّصَ من الأدناس، وأن يجتنب ما شاب علمه من كدورات الهوى وحظوظ نفسه الأمارة بالسوء، حتى يستعد لفيضان العلوم اللدنية على قلبه، والاقتباس من مشكاة أنوار النبوة ؛ ولا يتيسر ذلك عادة إلا على يد شيخ كامل عالم بعلاج أمراض النفوس، وتطهيرها من النجاسات المعنوية، وحكمة معاملاتها علماً وذوقاً، لِيُخرجه من رعونات نفسه الأمَّارة بالسوء ودسائسها الخفية.

idrisiyyah.or.id | Dalam kitab Hasyiyah Tafsir al Kasysyaf, ath Thayibi mengatakan, “Tidak pantas seorang yang alim – meskipun dia memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam, sehingga ia menjadi salah seorang Ulama besar pada masanya – untuk merasa puas dengan apa yang telah diketahuinya. Yang wajib baginya adalah bergabung dengan para ahli tarekat, agar mereka menunjuki jalan yang lurus. Sehingga, dia menjadi salah seorang yang diajak berbicara oleh Allah di dalam hati mereka karena kesucian batin mereka, dan dibebaskan dari sifat-sifat tercela. Dia juga harus menghindari tercampurnya ilmu pengetahuan dengan kekeruhan-kekeruhan syahwat dan menghindari nafsunya yang selalu mengajak kepada kejahatan. Sehingga, dia siap untuk menerima ilmu-ilmu ladunni yang masuk ke dalam hatinya dan menyerap cahaya-cahaya kenabian. Biasanya hal ini tidak dapat dicapai kecuali di bawah asuhan seorang Mursyid kamil yang mengetahui cara mengobati penyakit-penyakit jiwa dan menyucikannya dari kotoran-kotoran maknawi, serta memahami hikmah berinteraksi dengan jiwa, baik secara keilmuan maupun secara intuitif. Sehingga, dia dapat mengeluarkan sang murid dari kekeruhan-kekeruhan jiwa yang selalu mengajak kepada kejahatan dan bisikan-bisikannya yang tersembunyi.”