KeIhsanan
Sabtu, 1 Desember 2018
Pembukaan QINI 139
Ceramah Syekh Muhammad Fathurahman: Urgensi Wali Mursyid
Syekh M Fathurahman, M.Ag

idrisiyyah.or.id | Keihsanan - Mursyid Tarekat Idrisiyyah Syekh Muhammad Fathurrahman, M.Ag., Membuka Qini   Nasional ke-139 Tarekat Idrisiyyah, Tasikmalaya, Kamis (22/11), dengan taklim ilmu bertema: Urgensi Wali Mursyid.

Misi Besar
Misi besar diciptakannya manusia adalah untuk beribadah. Dalam rangka membimbing manusia menjalankan misinya, Allah Ta'ala tidak membiarkan makhluknya berjalan tanpa petunjuk. Dia sempurnakan nikmat-Nya dengan dua Panduan:  Pertama, Figur yang ditugaskan membimbing. Kedua, Al-Kitab dan Al-Hikmah sebagai petunjuk.  Keduanya sebagai gambaran umum bentuk keadilan dan kasih-sayang Allah SWT.

Betapa sempurna bimbingan itu, Allah SWT mengirim, utusannya dari golongan manusia. Bukan sembarang manusia, tapi telah dipersiapkan terlebih dulu sebelum diberi mandat. Seperti yang dialami Muhammad ﷺ sebelum diberi mandat, melakukan proses uzlah. Rasulullah juga dibersihkan hatinya oleh Malaikat Jibril as. Hingga tibalah saatnya, pada 17 Ramadhan Jibril as datang dalam wujud aslinya. Tubuh pun sontak gemetar, tidak kuat menghadapi sosok malaikat Jibril as. Betapa Nabi Muhammad ﷺ saja yang sudah dipersiapkan terasa berat menerimanya.

Firman Allah,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At Taubah [09] : 128)

Penyampai Risalah bukan dari para malaikat atau jin, tapi dari golongan manusia itu sendiri. Jika yang diutus bukan dari golongan manusia, bagaimana menirunya? Bahasa Al-Quran merupakan bahasa yang mudah difahami oleh Nabi ﷺ dan orang Qurais. Ketika itu percakapan yang digunakan adalah bahasa Arab. Demikianlah, Allah SWT memberikan bimbingan petunjuk agar ibadah memberikan keselamatan. Bukan untuk akhirat saja, tapi sejak di dunia sudah merasakan kebahagiaan.

Diutus orang yang layak pada zaman dahulu para Nabi dan Rasul lalu ditutup oleh Nabi Muhammad ﷺ. Akan tetapi, ditutupnya masa kenabian ini bukan berarti tidak ada lagi orang yang menyampaikan agama Allah. Dengan Sifat Adil-nya Allah Ta'ala, tongkat estafet para Nabi dilanjutkan oleh Figur ulama. Ulama yang menjadi Patron bagi manusia dan disetiap zamannya.

Rasulullah saw bersabda,

علماء أمتي كأنبياء بني إسرائيل

“Ulama-ulama umatku seperti para Nabi Bani Israil”

Ini menunjukan setelah berakhirnya rangkaian para Nabi Allah Ta'ala tidak membiarkan umat ini berjalan tanpa pemimpin. Allah Ta'ala pilih Al-Ulama sehingga Al-Quran yang sempurna tidak membutuhkan lagi wahyu setelahnya. Sosok kredibel sehingga Allah Ta'ala tidak mengutus lagi Nabi yang membawa wahyu. Rantai estafet ini Allah akan menjaganya sampai akhir zaman kelak. Figur yang ditugaskan menjelaskan Risalah Islam kepada para sahabat setelah nabi ﷺ adalah Al-Ulama. Sehingga Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) para nabi dan rasul ada yang melanjutkan.


(Tulisan kedua dari tiga tulisan)



Selanjutnya: Tupoksi Nabi dilanjutkan Al-Ulama