KeIhsanan
Selasa, 4 Desember 2018
Tupoksi Nabi dilanjutkan Al-Ulama
Syekh M Fathurahman, M.Ag

idrisiyyah.or.id | Figur yang ditugaskan menjelaskan Risalah Islam kepada para sahabat setelah nabi ﷺ adalah Al-Ulama. Sehingga Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) para nabi dan rasul ada yang melanjutkan.

Firman Allah,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (QS. Al-Jumu’ah [62] : 02)

Dalam ayat ini dijelaskan tentang Tugas Pokok dan Fungsi Rasul, yakni:

Pertama, Membacakan Ayat-ayat Allah. Baik ayat yang berbentuk Qauliyah dalam kitab Al Quran maupun ayat kauniyah berbentuk makhluk-Nya. Contoh ayat Kauniyah, matahari siapa yang menciptakan dan menggerakan. Harmoni dengan planet lain. Kalau tidak ada yang mengaturnya, maka akan kacau. Disinilah peran sentral para Rasul, yang memiliki tugas untuk membacakannya.

Kedua, Muzaki an Nufus (Pembersih Jiwa). Untuk masalah kebersihan fisik tidak perlu diturunkan Rasul. Akal manusia sudah bisa mengatasinya, contohnya membersihkan kulit, rambut, dan gigi. memang Rasulullah ﷺ menyontohkan dengan siwak, tapi hal seperti itu cukup dengan akal mampu untuk dimengerti dan dilakukan. Kelainan dan sakit fisik sangat mudah dirasakan oleh manusia itu sendiri. Lain halnya dengan urusan hati, siapa yang tahu hatinya sedang sakit?

Setiap tahun universitas kedokteran di seluruh dunia meluluskan dokter, akan tetapi dokter-dokter itu tidak akan pernah bisa membersihkan jiwa manusia. Hanya Rasul-lah yang memiliki kapabilitas membersihkan jiwa manusia dari penyakit hati yang berbahaya. Karena Ruhani asalnya dari tiupan Allah, karena itu ilmunya langsung dari Allah Ta'ala. Dan ini hanya diberikan  kepada manusia-manusia pilihan.

Ketiga, Taklim. Memberikan edukasi atau tarbiyah tentang Al-Kitab (tertulis) dan Hikmahnya (tidak tertulis). Firman Allah Ta'ala:

"Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya." (QS Ali Imran [03] : 79)

Di ayat yang lain, Rasul adalah pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.

"Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan," (QS Fathir [35]:24)

Peran para Rasul dilanjutkan pewarisnya, yakni: "Al-Ulama" sehingga umat tidak hanya menerima Petunjuk dalam bentuk teks (Al Quran) tapi juga konteks. Ulama ini posisinya setara dengan para nabi di masa Bani Israil. Akan tetapi, ulama menurut ukuran manusia tidak sama dalam pandangan Allah. Agar mendapat bimbingan agama dari ulama seperti yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ harus sesuai dengan kriteria. Ulama yang menjadi pewaris nabi harus mumpuni: ilmu, hikmah dan amalnya.

Kitab Tanwir Al-Qulub menulis pada pembagian ketiga pembahasan ilmu Tasawuf, "sebagai umat Islam haruslah mendapatkan bimbingan lahir dengan ilmu Fiqih dan batin dengan ilmu Tasawuf.

Dalam kitab Hasyiyah Tafsir al Kasysyaf, Ath Thayibi mengatakan,

قال الطيبي: لا ينبغي للعالم - ولو تَبَحَّر في العلم حتى صار واحدَ أهل زمانه - أن يقتنع بما عَلمه، وإنما الواجب عليه الاجتماع بأهل الطريق ليدلوه على الطريق المستقيم، حتى يكون ممن يحدثهم الحق في سرائرهم من شدة صفاء باطنهم، ويُخَلَّصَ من الأدناس، وأن يجتنب ما شاب علمه من كدورات الهوى وحظوظ نفسه الأمارة بالسوء، حتى يستعد لفيضان العلوم اللدنية على قلبه، والاقتباس من مشكاة أنوار النبوة ؛ ولا يتيسر ذلك عادة إلا على يد شيخ كامل عالم بعلاج أمراض النفوس، وتطهيرها من النجاسات المعنوية، وحكمة معاملاتها علماً وذوقاً، لِيُخرجه من رعونات نفسه الأمَّارة بالسوء ودسائسها الخفية.

“Tidak pantas seorang Alim –meskipun memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam, sehingga ia menjadi salah seorang Ulama (Tokoh) pada masanya– untuk merasa puas dengan apa yang telah diketahuinya. Wajib baginya bergabung dengan ahli tarekat. Agar mereka menunjuki jalan yang lurus. Sehingga, dia menjadi salah seorang yang diajak berbicara oleh Allah di dalam hati mereka (ahli tarekat) karena kesucian batin mereka. Sehingga dibebaskan dari sifat-sifat tercela. Dia (alim) juga harus menghindari tercampurnya ilmu pengetahuan dengan kekeruhan syahwat. Menghindari nafsunya yang selalu mengajak kepada kejahatan. Sehingga, dia siap untuk menerima ilmu-ilmu ladunni yang masuk ke dalam hatinya dan menyerap pijar cahaya kenabian. Hal ini tidak dapat dicapai kecuali di bawah asuhan seorang Mursyid Kamil. Figur yang mengetahui cara mengobati penyakit-penyakit jiwa sekaligus menyucikannya dari kotoran-kotoran maknawi. Mursyid yang memahami hikmah berinteraksi dengan jiwa, baik secara keilmuan maupun secara intuitif. Murysid yang dapat mengeluarkan sang murid dari kekeruhan-kekeruhan jiwa yang selalu mengajak kepada kejahatan dan bisikan-bisikannya yang tersembunyi.”

Syekh Muhammad Amin al Kurdi asy Syafi’i berkata:

فقد أجمع أهل الطريق على وجوب اتخاذ الإنسان شيخاً له، يرشده إلى زوال تلك الصفات التي تمنعه من دخول حضرة الله بقلبه، ليصح حضوره وخشوعه في سائر العبادات، من باب ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب، ولا شك أن علاج أمراض الباطن واجب، فيجب على كل من غلبت عليه الأمراض أن يطلب شيخاً يُخرِجه من كل ورطة، وإن لم يجد في بلده أو إقليمه وجب عليه السفر إليه

Para ahli thariqah sepakat bahwa wajib bagi seseorang untuk mengambil seorang Mursyid yang dapat menuntunnya untuk melenyapkan sifat-sifat yang menghalangi untuk masuk ke hadirat Allah melalui hati, agar konsentrasi hati dan kekhusyuannya dalam mengerjakan semua ibadah menjadi sah. Konsensus para ahli thariqah ini berdasarkan pada kaidah bahwa sesuatu yang tanpanya suatu kewajiban tidak dapat dilaksanakan, maka sesuatu itu menjadi wajib juga. Tidak diragukan lagi bahwa hukum mengobati penyakit-penyakit batin adalah wajib. Oleh sebab itu, wajib hukumnya bagi setiap orang yang di dalam jiwanya terdapat penyakit untuk mencari seorang Mursyid yang dapat mengeluarkan dirinya dari jurang tersebut. Apabila dia tidak menemukan seorang Mursyid di negerinya, maka dia wajib melakukan perjalanan ke negeri lain untuk mencarinya.

Ilmu Tasawuf mempunyai metodologi dan epistimologi untuk mendapatkannya dan lebih spesifik dibandingkan dengan menggapai ilmu Fiqih, metodologinnya adalah dengan menekuni adab suluk dalam Tarekat mutabarah.

Tugas pokok dan fungsi ini wujud keadilan dan rahmah Allah SWT kepada hamba-Nya. Hadirnya Figur pemimpin yang menjadi Patron di dunia dan akhirat bagi kaumnya.


(Tulisan kedua dari tiga tulisan)

 

Selanjutnya : Proses Suluk dalam Tarekat Mutabarah

Sebelumnya : Urgensi Wali Mursyid