KeIhsanan
Selasa, 4 Desember 2018
Proses Suluk dalam Tarekat Mutabarah
Syekh M Fathurahman, M.Ag

idrisiyyah.or.id | Ilmu Tasawuf memiliki metodologi dan epistemologi tersendiri. Tasawuf Lebih spesifik dibanding ilmu Fiqih, karena tidak bisa belajar hanya dari buku, menghafal atau otodidak. Singkatnya harus menyelam hingga ke dasarnya, tak bisa hanya berdiri di pantai, terus melontar komentar. Metodologinya dengan praktik adab suluk dalam Tarekat mutabarah. Metodologi itu ada dua, yakni: Mujahadah An Nafs dan Riyadhah. Keduanya mutlak di bawah bimbingan seorang Mursyid

Pertama, Mujahadah An Nafs Menaklukkan hawa nafsu. Memerangi hawa nafsu sepanjang hidup, nabi menyebutnya jihad al-akbar. Jihad ini lebih besar dibandingkan dengan jihad di medan perang.

رجعتم من الجهاد الاصغر الى الجهاد الأكبر فقيل وماجهاد الأكبر يارسول الله؟ فقال جهاد النفس

Kalian semua pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran besar. Lalu ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ. Apakah pertempuran besar wahai Rasulullah? Rasul menjawab "jihad (memerangi) hawa nafsu.

Hadis di atas memang secara sanad dihukumi lemah (daif). Hadis ini diriwayatkan Al Baihaqi dalam Az Zuhd, Al Khathib dalam Tarikh Baghdad, An Nasa’i dalam Al Kuna. Al Baihaqi mengatakan, hadza isnadun fihi dhu’fun (sanad ini mengandung kelemahan).

Sekalipun dikatakan lemah Al Baihaqi, namun sebenarnya tidak ada masalah dalam kontennya. Secara substansi, makna hadis tersebut sahih.

Ada peperangan hebat pada masa Nabi ﷺ, yaitu perang Badar dan Uhud. Tapi Nabi Muhammad ﷺ  menyebutnya ada yang lebih besar, yakni memerangi hawa nafsu. Mengapa? Sebab orang yang akan pergi ke medan perang di jalan Allah Taala, harus mampu mengalahkan hawa nafsunya lebih dulu. Seseorang yang mampu menjinakkan nafsunya, maka akan mampu menjauhi larangan Allah Ta'ala.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ  bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.” (HR. Muslim)

Rasulullah ﷺ  menyatakan, ketahuilah jalan surga dikelilingi oleh ketidaksukaan dari hawa nafsu. Jalan kebaikan dikelilingi oleh sesuatu yang tidak disukai oleh hawa nafsu, contoh yang sederhana, malas kantuk dan pegal mendadak muncul ketika pengajian. Sebaliknya, jalan ke neraka dikelilingi oleh apa saja yang disukai hawa nafsu. Pantas, hilang kantuk ketika sedang menonton tayangan sinetron. Pegal pun  mendadak hilang ketika menonton sepak bola walaupun larut malam.

Jadikan momentum Qini Nasional 139 ini sebagai latihan untuk  mujahadah an-nafs sekaligus riyadloh ruhiyah. Tentu, mujahadah an-nafs bukan pekerjaan instan satu atau dua jam, tapi sepanjang hidup.

Syekh Ibnu At-Thaillah As-Sakandari menyampaikan,

حَظُّ النَّفْسِ فِى الْمَعْصِيَةِ ظَاهِرٌ جَلِىٌّ وَ حَظُّهََا فِِى الطَّّاعَةِِ بَاطِنٌٌ خَفِىٌّ وَ مُدَاوَةُ مَا يَخْفَى صَعْبٌ عِلاَجُهُ٠

Hawa nafsu setan itu selamanya mengambil posisi penting dan menempatkan dirinya dalam ketaatan dan kemaksiatan yang terus dilanjutkan dengan menyebarkannya ke tempat-tempat yang strategis. Peranan setan di dalam menyebarluaskan hawa nafsu mendominasi seluruh kegiatan dan fungsi raga dan jiwa manusia.

Tak hanya dalam maksiat dalam ibadah pun nafsu menyelinap. Pelakunya terjangkiti virus riya sebelum beramal dan ujub setelah beramal. Ibadah hanya ingin dipuji sebagai orang  shalih. Hati yang dikuasai hawa nafsu membuat ibadah sia-sia. Ketika beramal bukan karena Allah, maka muncullah sikap bangga diri. Ruku dan sujudnya tidak merasakan hina dihadapan Allah Taala. Demikianlah sebagian dari penyakit hati yang bertopeng amal shalih.

Bersihkan hati dengan ilmu Tasawuf, agar baik dan benar amalan lahir, batin dan hatinya hadir bersama Allah. itulah ibadah yang sesungguhnya yakni ibadah yang haq dan benar disisi Allah. Agar ini tercapai, ikuti ulama yang benar-benar menjadi pewaris para nabi. Karena ilmu yang pernah diberikan kepada para Nabi as diberikan pula kepada para ulama. Ilmu itu mencakup, fungsi membersihkan jiwa manusia. Fungsi kenabian lainnya (seperti kepemimpinan) ada pada  ulama pewaris nabi.

Firman Allah SWT,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al-Bayyinah [98] : 05)

Ujub asalnya dari hawa nafsu, sebaliknya syukur bersumber dari hati. "Tanpa-Mu, tanpa bimbingan-Mu aku tidak akan bisa menjalankan ketaatan ini," itulah salah satu bentuk syukur. Hatta dalam dakwah sekalipun apabila tidak dibimbing ulama, bisa terjebak oleh dorongan hawa nafsu. Dengan peran seorang Murysid, ketika hawa nafsu mendorong untuk riya dan ujub akan diberi kemampuan untuk mengantisipasinya.

Ketahuilah, Mujahadah an-Nafs berlangsung sepanjang hidup. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ »

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

Dunia penjara bagi orang beriman, maksudnya memenjarakan hawa nafsunya. Bukan berarti umat Islam tidak boleh berpolitik, ekonomi atau aktivitas duniawi lainnya. Artinya, tidak sebebas orang kafir karena terdapat aturan. Sebaliknya bagi mereka orang kafir dunia dijadikan surga bagi hawa nafsunya. Mereka membebaskan hawa nafsunya, laksana surga di dunia. Makan, minum dan berpakaian, sesuka hati. Perilakunya tidak ingin diatur oleh Allah.

Jangan menganggap kafir itu non muslim saja. Mereka yang mengaku muslim tapi mengingkari ketetapan Allah bisa dibilang sebagai sebuah bentuk kekafiran. Mereka menjadikan dunia sebagai surga untuk hawa nafsunya.

Banyak ucapan dan tindakan orang kafir yang melecehkan ayat-ayat Allah SWT. Aspek hukum, ekonomi, sosial, peribadatan dilecehkan oleh prilaku dan ucapannya. Di akhirat keadaan berbalik, orang beriman akan mengolok-olok orang kafir. Seperti ketika di dunia orang kafir mengolok-olok orang yang beriman.

Firman Allah,

“Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (al-Muthaffifiin: 22-36)

Bersabarlah, karena dunia singkat. Nabi Muhammad ﷺ mewanti-wanti, umur umatnya antara 60 sampai 70 tahun. Umur kita tidak sampai seribu tahun, Rasulullah ﷺ sebagai manusia istimewa saja, usianya hanya 63 tahun. Menunggu kematian bukan berarti berpangku tangan, tapi terus melakukan amal shalih.

Firman Allah,

قُلْ إِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْآخِرَةُ عِنْدَ اللَّهِ خَالِصَةً مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Katakanlah: "Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar. (Al-Baqarah [02] : 94)

Mujahadah an-nafs yang paling ampuh adalah dengan dzikrul maut, menghidupkan keyakinan bahwa manusia akan mati. Apabila hawa nafsu merengek untuk dipuaskan, ingatlah kematian. Semua manusia hawa nafsunya akan tertunduk ketika sakaratul maut tiba. Tunduk, seperti Firaun ketika tubuhnya terombang-ambing di Laut Merah.

Firman Allah,

۞ وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (Yunus [10] : 90)

آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (Yunus [10] : 90)

Firaun Sang Raja Diraja hingga mengaku tuhan adalah gambaran, semua manusia ketika sakaratul maut hawa nafsunya tidak berdaya lagi. Hatinya akan percaya kepada Allah. Namun sayang penyesalannya tak bermanfaat, karena pintu taubat sudah ditutup.

Dzikrul maut tidak membuat pesimis, sebaliknya menjadi optimis. Etos hidup yang dibangun dari dzikrul maut, Sikap siaga, bersegera, tidak menunggu hari esok. Memaksimalkan waktu dan kesempatan yang Allah berikan. Sesungguhnya, dari sakaratul maut mulailah pembalasan Allah SWT. Begitu sakaratul maut ditunjukkan catatan amal dan diperlihatkan tempat kembalinya. Jadikan dunia ladang amal dan akhirat saatnya memetik panen.

Kedua, Riyadhah. Mengolah batin dengan ilmu Tasawuf. Tasawuf bukan ilmu hafalan, praktiknya adalah kesungguhan mengikuti bimbingan dalam Tarekat. Tarekat adalah aplikasi dan pengamalan dari ilmu tasawuf. Terjun langsung dan terus menyelami samudera Tarekat di bawah bimbingan Mursyid.

Ketika berzikir kepada Allah, maka Allah akan menguji sabar atau tidak dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Teruslah basahi lisan dengan dzikir, jangan putus asa ketika berdzikir kepada Allah SWT. Berzikirlah hingga Musyahadah menyaksikan keagungan Allah SWT. Itulah anugerah dari Allah, bukan usaha kita. Usaha kita adalah terus berlatih berzikir kepada Allah SWT baik diucapkan atau di dalam hati.

Teruslah berzikir walaupun belum mencicipi nikmatnya. Jangan terputus dalam berlatih, wirid, zikir atau shalawat. Hingga timbullah Mahabbah (cinta kepada Allah) di atas kecintaan kepada makhluk. Cintai Allah SWT di atas segala-galanya. Kecintaan itu atas dorongan iman yang berbuah khusu, mahabbah hingga fana.


(Tulisan ketiga dari tiga tulisan)


Sebelumnya :

- Urgensi Wali Mursyid

- Tupoksi Nabi dilanjutkan Al Ulama