Artikel Dakwah
Sabtu, 21 Agustus 2010
Mursyid Al-Idrisiyyah (2010)
Syeikh Muhammad Faturahman, M.Ag.
headline1
Profile Syekh Muhammad Fathurrahman

Profil Syekh Muhammad Fathurrahaman MAg

Mursyid Al-Idrisiyyah (2010)

Syekh Muhammad Fathurrahman lahir tahun 1973 di Tasikmalaya. Dari pasangan seorang Ajengan kharismatik yang bernama Nasruddin dan Maimunah. Setelah Beliau diangkat sebagai menantu oleh Syekh al-Akbar Muhammad Daud Dahlan dari anaknya yang pertama, Beliau kemudian dipercayakan memegang tanggung jawab organisasi Yayasan Al-Idrisiyyah sebagai Ketua Umum. Dari jabatan yang diberikan inilah, banyak pengalaman yang diperolehnya terutama dalam masalah kepemimpinan.

Sejarah pendidikan Beliau di bidang agama diawali saat mengenyam pendidikan Tsanawiyyah. Belum dua tahun Beliau meneruskan pendidikannya, atas dasar keinginannya berkhidmah kepada Guru pendidikan formalnya sempat terhenti. Hari-harinya diisi dengan berkhidmah dengan membantu Gurunya dalam beraktivitas. Banyak pekerjaan lainnya yang beliau kerjakan, agar dapat berkhidmah secara penuh kepada Guru mursyid kita, Syekh al-Akbar Muhammad Dahlan. Seperti memotong kayu bakar, memanjat pohon kelapa untuk mengambil buahnya, jualan kecambah (taoge) di pasar, jualan ikan asin, mengurus gilingan tepung beras, dan mengurus bebek. Beliau rela putus sekolah, untuk dapat berkhidmah kepada Syekh al-Akbar Muhammad Dahlan.

Pendidikaan yang akrab dengan Beliau saat itu adalah mendalami keilmuan Pesantren tradisional, seperti mendalami kitab kuning. Tidak hanya di Pondok Fadris saja, tapi ia berusaha mengembangkan diri mencari ilmu-ilmu dasar kitab kuning ke berbagai Pesantren seperti di Garut, Limbangan, Sukabumi dan Banten.

Selanjutnya tuntutan keinginan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi muncul dalam dirinya ada suatu panggilan untuk menjadi kader yang dapat diandalkan Guru kita kelak di kemudian hari. Dengan bekal semangat yang tinggi walaupun tidak memiliki ijazah Tsanawiyyah, ia berusaha mencari sekolah formal yang dapat menerimanya sebagai siswa Aliyyah. Dengan berbagai upaya yang dilakukannya, akhirnya ia dapat mengikuti ujian di sekolah Aliyyah. Karena selama 5 tahun Beliau menyibukkan diri dengan mendalami kitab kuning maka pendidikan formal yang tertinggal Beliau kejar dengan mempelajari semua kurikulum pelajaran sekolah Aliyyah.

Hasilnya, Beliau mendapatkan hasil ujian (nilai Nem) tertinggi di sekolahnya. Kemudian Beliau dapat meneruskan pendidikan S1 di bidang Tarbiyyah Islamiyyah di UIN Sunan Gunung Jati hingga S2-nya di bidang Ulumul Quran.

Sejak Juni 2010 Beliau meneruskan kepemimpinan Al-Idrisiyyah yang sebelumnya dipegang oleh Guru sekaligus mertuanya, Syekh al-Akbar M. Daud Dahlan Ra. Meskipun usianya masih relatif muda (34 tahun) untuk memegang tanggung jawab besar, Beliau telah dipercaya menjadi wakil Gurunya menangani berbagai tugas baik internal maupun eksternal, seperti masalah dakwah, kegiatan ekonomi, dan lain-lain.

Ternyata beberapa tahun Beliau menjadi Ketua Umum sebelum diangkat menjadi Mursyid Al-Idrisiyyah, menjadi bekal dan motivasi Beliau dalam memimpin perjalanan Al-Idrisiyyah saat ini dan ke dapan. Banyak kebijakan strategis yang telah dilakukannya sebagai tajdid (pembaharuan) atas kebijakan Al-Idrisiyyah yang telah berjalan selama ini. Misalnya perubahan jadwal pengajian di Jakarta dan Tasikmalaya, menjadikan Ponpes Fathiyyah al-Idrisiyyah di Tasikmalaya sebagai pusat gerakan organisasi, baik pendidikan, dakwah maupun ekonomi.

Pada era kepemimpinan Beliau, Al-Idrisiyyah mengedepankan sikap keterbukaan dan kebersamaan. Hal ini terlihat dari perubahan konsep dakwah yang diterapkan langsung kepada seluruh jama’ah. Dengan konsep tersebut di bawah kepemimpinan Beliau Al-Idrisiyyah banyak mendapatkan sambutan hangat dari berbagai pihak, baik di kalangan Tarekat maupun non-Tarekat.

Hingga kini, banyak wilayah dakwah yang sudah dijangkau Beliau. Bahkan hingga ke luar negeri seperti Sudan, Hongkong, Malaysia dan Singapura. Dengan kemajuan teknologi saat ini informasi Dakwah Al-Idrisiyyah bisa dijangkau dengan mudah.