Artikel Dakwah
Rabu, 8 September 2010
Profil Guru (1884 -1947)
Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah
syeikh akbar abdul fatah
Mursyid Al-Idrisiyyah (Si Linggis)

Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah

(1884 – 1947)

A.    Mencari Guru Mursyid

Pada awal perjalanan spiritualnya, beliau sempat menimba ilmu kepada seorang Kiyai yang berhaluan Thariqat Tijaniyyah, yakni KH. Suja’i,[1] hingga tahun 1910. Di sini Sy. Abdul Fattah belajar lebih dari 7 tahun dan menjadi salah seorang santrinya yang ulet dan sungguh-sungguh menimba ilmu kepada gurunya. Beliau terkenal dengan sebutan ‘Si Linggis’, karena begitu tajam dan dalam analisa beliau terhadap berbagai masalah. Bahkan terkadang pelajaran yang belum disampaikan gurunya, telah mampu dikuasainya.[2] Hingga pada suatu ketika Sy. Abdul Fattah menjumpai sebuah ayat Al-Quran:

“Barang siapa yang mengambil hidayah (petunjuk) Allah maka dia termasuk orang yang diberi petunjuk, dan barangsiapa yang sesat (karena tidak mengambil hidayah) Allah maka ia tidak sekali-kali mendapatkan seorang Wali yang Mursyid”. (QS. Al-Kahfi[18]: 17)

Beliau mempertanyakan siapakah “Wali Mursyid” yang dimaksud dalam ayat tersebut. KH. Suja’i menjelaskan bahwa mencari Wali Mursyid itu adalah suatu keharusan, sedangkan KH. Suja’i sendiri mengaku bukan seorang Wali Mursyid. Karena itu beliau menyarankan Syekh Abdul Fattah untuk mencarinya.

Awal pencarian Guru Mursyid telah beliau lakukan di daerah Pulau Jawa dan Sumatera, hingga akhirnya beliau memutuskan mencarinya ke daerah Timur Tengah, khususnya Makkah Al-Mukarramah.

Keberangkatan beliau yang pertama, dengan membawa seluruh keluarganya. Harta benda dan tempat tinggal beliau tinggalkan demi mendapatkan cahaya petunjuk seorang Wali Mursyid. Konon, isteri beliau Ibu Siti Zubaidah merupakan keturunan orang yang berada, sehingga beberapa lahan tanahnya dijual untuk perbekalan selama perjalanan.

Perjalananpun dimulai, dengan kapal laut rombongan mulai singgah dari pelabuhan satu ke pelabuhan yang lain. Namun perjalanan menuju Mekkah menjadi terhenti, ketika kapal yang beliau tumpangi mengalami kerusakan di Singapura. Saat itulah terjadi musibah, di mana seluruh keluarga beliau mengalami kehilangan perbekalan.

Hanya ada satu pilihan, yakni mendarat di negeri Jiran Singapura. Beberapa catatan sejarah lisan menyatakan bahwa selama beliau di Singapura, beliau menjadi Guru agama di masjid-masjid. Di sinilah beliau mencoba mempertahankan hidup keluarganya (1922-1927). Beliau dan keluarga menetap di Watu Lima dan Gelang Serai, sambil mempersiapkan diri untuk melanjutkan pencarian Wali Mursyid ke tanah suci.

Hingga pada suatu ketika beliau dipertemukan dengan Ulama-ulama dari negeri seberang, Syekh Abdul Alim Ad-Daghistany. Di sanapun beliau bertemu dengan Ulama yang sering berkunjung ke tanah suci, yakni Syekh Abdullah Daghistani dari Pakistan yang banyak menginformasikan keberadaan Thariqat Sanusiyyah.

Pendapat lain yang sering dikemukakan oleh Asy-Syekh Al-Akbar Muhammad Dahlan ra. dalam suatu pengajiannya, bahwa Guru Syekh Abdul Fattah ketika di Singapura adalah Syekh Jamalullail. Syekh Jamalullail ini yang mendapatkan karamah Kasyfi yang dapat menguak rahasia-rahasia masa depan.

Salah satu Kasyfi beliau adalah ketika mendekati ajalnya, beliau menyuruh Abdul Fattah untuk segera pergi ke tanah suci, karena di sana telah menunggu Guru Mursyid yang sebenarnya (yang dicari-cari selama ini). Namun sebelum ke sana ia meminta Abdul Fattah untuk memakamkan Gurunya tersebut di Pemalang.[3]

Tepat pada tahun 1928, setelah memulangkan keluarganya ke Tasikmalaya, Syekh Abdul Fattah berangkat ke Mekkah bersama jama’ah dari Indonesia seperti KH. Toha dari pesantren Cintawana Tasikmalaya dan KH. Sanusi dari pesantren Cantain Sukabumi. Namun kedua Kiyai tersebut pada saat mukim di tanah suci lebih mencari dan mendalami ilmu-ilmu zhahir, sedangkan Syekh Abdul Fattah bergabung dengan Zawiyyah Sanusiyyah di Jabal Abu Qubais[4] untuk belajar kepada Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi selama lebih kurang 5 tahun.

Selama berguru kepada Syekh Ahmad As-Sanusi yang menjadi Wali Mursyid, Syekh Abdul Fattah menunjukkan keseriusannya dalam belajar dan berkhidmah, sampai ia mendapat kepercayaan untuk ikut membai’at/mentalqin murid-murid baru.

Dikisahkan bahwa suatu hari Syekh Abdul Fattah berkeinginan berziarah ke maqam Rasulullah Saw. Dengan perbekalan secukupnya, bersama-sama dengan beberapa orang Kiyai dari Jawa beliau berjalan kaki dari Mekkah menuju Madinah. Di tengah perjalanan rombongan dihadang perampok bangsa Arab dengan persenjataan lengkap. Syekh Abdul Fattah mengambil inisiatif pimpinan rombongan, setelah seluruh jama’ah musafir tidak ada yang mampu mencari jalan keluar atas apa yang sedang terjadi, apalagi peristiwa terjadi di negeri orang.

Dengan kepungan perampok yang berdiri di atas kuda sambil menghunus pedangnya, Syekh Abdul Fattah mengisyaratkan kepada seluruh anggota rombongan untuk melepaskan apa yang di tangannya ke arah kanan dan kiri, sebagai lambang kepasrahan seorang hamba yang dhaif dan faqir. Seketika itu pula sambil melepaskan apa yang dimiliki, berteriaklah Syekh Abdul Fattah dengan suara lantang: As-Sholaatu was Salaamu ‘Alaika Yaa Rosuulallaah, Qod Dhooqot Hiilatii, Adriknii Yaa Rosuulallaah! (Hilangkanlah rintangan jalan kami menuju engkau wahai Rasulullah!)” Beliau ucapkan dengan lafal bahasa Arab.

Pada saat itulah terjadi suatu keajaiban, serta merta para perampok memegang lehernya sambil berteriak kesakitan: “Ampun Syekh Jawa, ampun Syekh Jawa! Panas! Panas!” Pemimpin perampok itu meminta agar ia dibebaskan dari siksaan yang dialaminya, dengan janji tidak akan meneruskan niat jahatnya dan bersedia memberikan apa saja yang dia miliki. Karena selama Syekh Abdul Fattah meneriakkan Sholawat tadi, pada saat itu pula muncul hawa panas yang luar biasa di tengorokannya.

Kemudian Syekh Abdul Fattah mendatangi pimpinan perampok dan anak buahnya yang sudah bergelimpangan, meronta-ronta kesakitan. Setelah itu barulah reda dari rasa sakitnya.

Di depan Syekh Abdul Fattah, pimpinan rampok menyatakan taubatnya, dan bersedia mengantarkan rombongan Syekh Abdul Fattah menuju tujuannya kemana saja. Lalu Syekh Abdul Fattah berkata: “Kalian ini adalah bangsa Arab yang berdekatan dengan kampungnya Rasulullah Saw. Kami masing-masing datang dari negeri yang amat jauh dari negeri kalian, untuk berziarah kepada Rasulullah Saw. Apakah kalian tidak merasa malu melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini. Sudah sepantasnya kalian semua ini lebih berbangga daripada kami orang yang bukan Arab bahwa negerinya dikunjungi banyak orang dari seluruh pelosok negeri”.

Akhir cerita para perampok Arab itu mengantarkan seluruh rombongan Syekh Abdul Fattah menuju Madinah, sebagai ungkapan rasa bersalah atas apa yang telah mereka lakukan. Kesemua rombongan naik kuda diiringi para mantan perampok dengan berjalan kaki sampai ke tujuan.

************

Berbagai ujian telah dialami Syekh Abdul Fattah sebagai murid Thariqat Sanusiyyah. Pernah suatu ketika, di majelis Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi mengamuk. Apa yang ada di samping beliau dilempar dan diarahkan kepada murid-muridnya. Tentu saja semua hadirin yang ada di sana berhamburan keluar karena takut akan marahnya sang Guru. Namun ada seorang murid yang tetap diam di tempat, tidak bergeming sedikitpun dari tempat duduknya. Dia adalah Syekh Abdul Fattah. Melalui Sir hati beliau diketahui bahwa sikap yang dilakukan oleh gurunya tersebut adalah hanya sebagai ujian bagi murid-muridnya. Dari sinilah Gurunya, Syekh Ahmad Syarif melihat suatu kelebihan pada pribadi muridnya, Abdul Fattah.

************

Dikisahkan pula bahwa Syekh Ahmad Syarif memiliki sebuah singgasana tempat mengajar yang tidak sama sekali seorangpun berani menjamah atau mendudukinya. Mengapa demikian? Karena siapa saja yang berani mendudukinya akan merasa terbakar. Hingga suatu ketika, Syekh Ahmad memerintahkan Syekh Abdul Fattah untuk mewakilkan posisinya dalam mengajar, dengan tenang beliau duduk dengan tanpa kejadian apapun yang mencelakainya.

Waktu demi waktu kepercayaan dan kasih sayang Syekh Ahmad Syarif semakin bertambah kepada Abdul Fattah. Sehingga dalam beberapa waktu dan kesempatan, baik ketika berepergian atau sedang uzur sering beliau menunjuk Abdul Fattah sebagai wakilnya untuk mengajar, bahkan memberikan bai’at/talqin kepada murid-murid baru Idrisiyyah ketika itu.

Akhirnya pada suatu hari, Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi memanggil Syekh Abdul Fattah, mengabarkan bahwa Rasululullah tadi malam memerintahkan bahwa kekhalifahan Thariqat Sanusiyyah harus dilimpahkan kepada Kiyai Abdul Fattah Al-Jawi, untuk selanjutnya dikembangkan di negerinya. Lebih kurang dua tahun setelah itu Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi wafat.

Pada tahun 1930[5] Syekh Abdul Fattah pulang ke Indonesia, yakni ke Cidahu Tasikmalaya dengan membawa Thariqat Sanusiyyah yang kemudian diganti dengan Thariqat Al-Idrisiyyah. Sedikitnya ada 3 (tiga) alasan mengapa pergantian nama itu dilakukannya :

  1. Untuk mencari keamanan politis, sebab kala itu gerakan Sanusiyyah sudah menjadi gerakan yang sangat ditakuti oleh negara-negara kolonialis Eropa termasuk Belanda.
  2. Pada prinsipnya ajaran Al-Idrisiyyah merupakan anak dari ajaran Thariqat Sanusiyyah yang kandungan ajarannya tidak berbeda. Untuk silsilah keguruannya pun Al-Idrisiyyah maupun Sanusiyyah menggunakan jalur Ahmad bin Idris ke atas.
  3. Untuk mencari barakah dari Syekh Ahmad bin Idris atas keistimewaan lafazh dzikirnya yang langsung diajarkan oleh Rasulullah Saw yang datang bersama Nabi Khidhir As., yaitu lafazh: Fii Kulli Lamhatin wa Nafasin ‘adada maa Wasi’ahuu ‘Ilmullah.[6]

Dari Cidahu Abdul Fattah beserta keluarga pindah ke Jakarta dan menetap di Gang Kartini I dan Gang Kartini II. Setelah itu mereka pindah lagi ke Kebon Kelapa yaitu Jalan Batu Tulis - Ir.H. Juanda III sekarang.[7] Di sinilah Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah membuka Mejelis Taklim yang dilanjutkan oleh putranya, Asy-Syekh Al-Akbar Muhammad Dahlan untuk menyiarkan ajaran-ajaran Thariqat Al-Idrisiyyah.

Pada mula beliau mengembangkan dakwah di Jakarta beliau pertama menapakkan kaki di Masjid Kebon Jeruk (Jakarta Kota). Setelah beberapa waktu beliau berhasil mendapatkan pengikut, yang akhirnya beliau menjadi Guru tetap di sana. Selang beberapa waktu datanglah para Ulama dari Pakistan. Maka terjadilah dua kekuatan pengaruh yang ada di masjid itu.

Dengan pertimbangan mengalah, beliau mencari tempat lain untuk dijadikan zawiyah. Dan di daerah Batu Tulis-lah beliau mendapatkan apa yang diinginkan. Namun untuk bertahan di tempat tersebut, beliau harus menundukkan tokoh-tokoh berpengaruh di wilayah tersebut, yang kebanyakan dikuasai oleh para jawara (preman kampung). Selanjutnya banyak murid-murid beliau mewakafkan tanahnya untuk dijadikan tempat dakwah beliau. Bahkan untuk murid-murid beliau yang jauh, beliau sediakan lahan sebagai tempat tinggal, agar senantiasa dekat dengan bimbingan beliau.

************

Pernah Rasulullah Saw datang lewat mimpi kepada Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah, ‘Berbahagialah, bahwasanya dengan datangnya Al-Idrisiyyah Indonesia akan merdeka’. Ungkapan ini pernah diungkapkan oleh Asy-Syekh Al-Akbar Muhammad Dahlan ra. dalam suatu pengajian.

H. Syarif, orang tua dari Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah merupakan keturunan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Ia memiliki sebuah kitab Sejarah yang bernama Kacirebonan yang ditulis sendiri oleh Syarif Hidayatullah tersebut. Kitab tersebut diberikan secara turun temurun kepada keluarganya generasi demi generasi. Pada sebuah halaman kitab tersebut disebutkan bahwa nanti pada suatu saat akan muncul keturunanku yang ke tujuh, yang akan meneruskan perjuangan dakwahku di Pulau Jawa ini. Apabila telah sampai pada generasi tersebut bakarlah kitab ini!’

B.     Gelar Asy-Syekh Al-Akbar

Kalimat Asy-Syekh Al-Akbar’[8] yang diletakkan di depan nama beliau dan Khalifah sesudahnya adalah gelar kehormatan yang diberikan oleh Rasulullah Saw[9] kepada Sulthan Awliya pilihan pada zamannya, bukan semata-mata ungkapan pujian atas sesuatu kelebihan dari murid-muridnya. Sebab banyak di zaman sekarang menjadi ‘latah’ untuk memberikan penghormatan khusus kepada Guru Mursyid atau Ulama yang dikaguminya, baik yang masih hidup maupun telah wafat. Hal demikian tidak mengapa, asalkan tidak terlalu berlebihan, yakni tidak melebihi daripada kadar (proporsi) yang sebenarnya. Gelar yang utama bagi seorang Syekh adalah yang diberikan dari atas ke bawah, bukan dari bawah ke atas. Karena martabat yang di atas itu terlebih tinggi daripada martabat yang di bawah.[10]

Pemberian ‘Asy-Syekh Al-Akbar’ ini seolah-olah mengisyaratkan bahwa di akhir zaman dunia ini akan dipimpin oleh seorang yang memiliki martabat khusus. Kalimat Asy-Sykh Al-Akbar merupakan Dakwah Mursyidah, yang diungkapkan seperti mengajak semua manusia untuk mencari tahu siapakah yang dikatakan sebagai ‘Asy-Syekh Al-Akbar’ itu dan siapakah Guru Mursyid sebenarnya (hakiki), yang merupakan pilihan Rasulullah Saw pada setiap zamannya. Sehingga meskipun ia berada di belahan bumi manapun, maka hendaknya ia mencarinya agar senantiasa mendapat petunjuk dan tidak tersesat. Hal ini mengingatkan kita pada suatu keterangan hadits.[11]

Istilah ‘Asy-Syekh Al-Akbar’ ini dalam sisi pengajaran Tasawuf maksudnya menafikan ‘nama’, ‘ego’, kemegahan diri, dsb. Karena cenderung tidak menyebutkan nama Syekhnya, sehingga tidak ada kesan memiliki. Dalam suatu majelis, Asy-Syekh Al-Akbar Muhammad Dahlan sering menyebut bahwa semua murid yang hadir ini adalah murid Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah, bukan murid Bapak, Bapak (Sy. Muh. Dahlan) hanyalah menjalankan amanat/tugas. Dan demikian pula Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah-pun mengatakan demikian, bahwa semua muridnya adalah murid Asy-Syekh Ahmad Syarif Sanusi, dan seterusnya.[12] Sehingga begitu kalimat itu sampai kepada Rasulullah Saw, maka Rasulullah Saw mengatakan bahwa semua murid adalah hamba Allah. Inilah tuntunan dalam kefaqiran (merasa tidak memiliki) dan ketawadhu’an (merendahkan diri/menjauhi kemegahan diri).

Menyebut kata ‘Asy-Syekh Al-Akbar’ berarti menyebut semua Guru dalam silsilah Thariqat. Ketika seorang murid meneriakkan ‘Madad (tolong) Asy-Syekh Al-Akbar!’ maka secara langsung berarti ia memohon pertolongan kepada Allah Swt, sebab dalam sekejap setiap Syekh yang mendengar panggilan muridnya itu akan meneriakkan kalimat tersebut kepada Gurunya masing-masing, hingga yang rantai penyampaiannya sambung menyambung dari Guru pertamanya hingga terakhir.

Asy-Syekh Al-Akbar, dalam nuansa ketawadhu’an, bukanlah artinya seorang Syekh yang paling agung (terbesar), tetapi maknanya adalah seorang Syekh yang senantiasa merasakan seluruh gerakan nafasnya berada dalam genggaman Allah Yang Besar (Akbar), selanjutnya Syekh tersebut belajar untuk taat dan mematuhi segala perintah Allah Yang Besar.

Asy-Syekh Al-Akbar mengandung pengertian seorang Guru yang mengajak atau membawa murid-muridnya atau orang-orang agar kembali kepada Yang Akbar, yakni Allah Swt, demikian penuturan lugas Asy-Syekh Al-Akbar Muhammad Daud Dahlan ra.

C.    Sikap Politik melalui Petunjuk Allah

Banyak orang tidak mengetahui dasar atau sebab yang menjadikan mesranya Al-Idrisyyah dengan Golkar (sekarang Partai). Di antaranya adalah:

Pertama, dikisahkan pada suatu hari Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah bercerita: "Beberapa hari yang lalu aku mendapat ilham lewat sebuah mimpi. Adapun mimpiku itu adalah sebagai berikut : ‘Aku bersama murid-murid sedang naik kapal Al-Idrisiyyah yang besar di laut luas. Pemegang kemudi kapal adalah anak laki-lakiku tertua, yaitu Muhammad Dahlan. Di tengah-tengah lautan luas itu tiba-tiba muncul seekor binatang yang sangat besar. Setelah dekat tampaklah jelas bahwa binatang itu adalah seekor naga, dan membuka mulutnya. Kapal Al-Idrisiyyah yang dikemudikan oleh Muhammad Dahlan itu melaju lurus menuju mulut naga dan terus masuk ke dalam mulut naga".

Kedua, Ibu Siti Zubaidah (istri Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah yang juga ibunda Asy-Syekh Al-Akbar Muhammad Dahlan) pernah berakata kepada dua orang murid lama sebagai berikut : ‘Wahai anak-anakku kelak murid-murid Asy-Syekh Al-Akbar Muhammad Dahlan akan duduk-duduk dengan tenang di bawah pohon beringin. Tapi Ibu waktu itu tidak ada lagi di dunia ini’.

Kedua ilham tersebut tidak diberikan takwilnya sehingga para murid tidak ada yang tahu makna dan pengertiannya. Baru pada awal tahun 1977 dalam suatu pengajian Asy-Syekh Al-Akbar Muhammad Dahlan menjelaskan bahwa Kapal Al-Idrisiyyah yang beliau pimpin pada masa itu harus masuk ke dalam Pemerintah yang dikuasai oleh kekuatan Golkar. Tanpa merinci aspek lain yang berhubungan dengannya, perintah Asy-Syekh Al-Akbar Muhammad Dahlan yang akhirnya mewajibkan seluruh murid-muridnya masuk ke tubuh Golkar tiada lain berdasarkan perintah Allah Swt dalam hal ini bagi murid Thariqat Al-Idrisiyyah.

Pada tahun 1947, oleh karena Cidahu sudah tidak cukup memadai lagi untuk pengembangan pesantren, Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah mendirikan Pesantren di Pagendingan, Cisayong. Pusat gerakan Thariqat juga, dipindahkan ke Pagendingan. Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah tinggal di sana, hanya sekitar lima (5) bulan.

Malam Minggu 14 Juni 1947[13] pada jam 24.00 tengah malam Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah meninggalkan dunia yang fana ini dalam usia 63 tahun. Sesuai dengan dengan ilham yang diterima dua tahun sebelumnya, maka pimpinan Thariqat Al-Idrisiyyah diserahkan kepada Asy-Syekh Al-Akbar Muhammad Dahlan.

(Dikutip dari Buku ‘Biografi Tokoh-tokoh Al-Idrisiyyah’)

--------------------------------------------------------------------------------

[1] Pesantren Kudang, Tasikmalaya. Pada masa lalu disebut sebagai Pesantren Mamak Kudang. Panggilan Mamak diperuntukkan bagi orang-orang yang dianggap sepuh.

[2] Ada yang mengungkapkan sebutan si Linggis disebabkan karena beliau pandai mengalahkan lawan-lawan debatnya. Beberapa permasalahan yang tidak mampu dipecahkan pada waktu itu banyak diserahkan kepada beliau, agar terbuka jalan untuk mencapai penyelesaian.

[3] Karamah lainnya adalah pengungkapan terhadap diri Muhammad Dahlan kecil, ketika itu dikatakan: ‘Ini adalah Wali Akbar’, yang menunjukkan penerus kekhalifahan Rasulullah Saw, setelah Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah.

[4] Bukit Abu Qubais, dikenal sebagai pusat berbagai legenda dan tradisi kuno. Dari puncaknya yang bermahkotakan sebuah masjid mungil putih dengan dua menara rendah, kita menyaksikan pemandangan mengagumkan ke lembah Mekkah dengan lapangan Masjidil Haram dan Ka’bah di dasarnya, sedang panggung rumah-rumah aneka warna bagaikan memanjat lerengnya yang gundul berbatu dari segala penjuru. Agak di sebelah bawah puncak bukit Abu Qubays, setumpuk bangunan batu bagaikan menggantung di atas sebuah teras sempit laksana onggokan sarang rajawali; itulah dia tempat kedudukan persaudaraan Sanusi di Mekkah. (Ilustrasi dalam buku Road to Mecca).

[5] Menurut informasi dari beberapa saksi, ternyata Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah telah membuka Majelis Taklimnya di Gg. Wedana Jakarta Pusat pada tahun 1926. Pada tahun itu pula beliau di Indonesia bertemu dengan Maulana Ash-Shiddiqi seorang Ulama dari Pakistan. Pada pertemuan itu, keduanya membahas masalah munculnya Ahmadiyyah yang dipimpin oleh Mirza Ghulam Ahmad dari India. Hal ini menunjukkan bahwa sebelum Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah membawa Thariqat ke Indonesia beliau sudah mempunyai beberapa majelis taklim di berbagai tempat.

[6] Keterangan ini dapat disimak dalam kitab Afdholus Shalawat, Sy. Yusuf Nabhani.

[7] Beberapa informasi menyebutkan bahwa banyak napak tilas perjalanan dakwah Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah sewaktu di Jakarta, di antaranya adalah Masjid Kebon Jeruk dan Masjid Al-Makmur, sebuah masjid tertua di wilayah Tanah Abang. Di Masjid ini beliau mengajar dan berdakwah. Hanya beberapa gelintir orang saja di Tanah Abang yang tahu sejarah beliau ketika mengajar di Masjid ini.

[8] Dalam literatur yang penulis temukan, ada dua sosok Ulama Shufi yang disebut sebagai Asy-Syekh Al-Akbar oleh kalangan murid atau pengikutnya, yaitu: Muhyiddin Ibnu ’Arabi (seorang Shufi Andalusia, Spanyol), dan Syekh Bahauddin Naqsyabandi (lihat Kitab Tanwirul Qulub).

[9] Gelar ‘Asy-Syaikh Al-Akbar’ diberikan oleh Rasulullah Saw kepada Syekhuna Abdul Fattah lewat seorang murid Al-Idrisiyyah yang dimukasyafahkan, beliau bernama Ajengan Mukhtar dari Awipari, Tasikmalaya. Setelah itu banyaklah pengalaman ruhani yang menyebutkan kedudukan ‘Asy-Syekh Al-Akbar’ bagi Sulthan Awliya pada kepemimpinan Thariqat Al-Idrisiyyah di Indonesia selanjutnya.

[10] Artinya gelar seorang Syekh yang diberikan seorang murid kepadanya berbeda dengan gelar yang diberikan Rasulullah. Karena banyak orang menyanjungkan seseorang hanya sebagai ungkapan Mahabbah kepadanya, bukan berdasarkan pengetahuan Ilahiyyah dari Rasulullah Saw. Wallaahu A’lam.

[11] Dalam suatu hadits diceritakan bahwa pemimpin seperti Imam Mahdi itu harus dicari ke manapun meskipun ia harus merangkak di atas salju.

[12] Ungkapan ini juga dikemukakan oleh penerus beliau, Asy-Syekh Al-Akbar Muhamad Daud Dahlan.

[13] Bertepatan dengan 13 Sya'ban 1366 H.

http://blog.its.ac.id/syafii/2008/04/15/syekh-akbar-abdul-fatah/