MENTAL DAN PENGETAHUAN

Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag • 08 Oktober 2024

MENTAL DAN PENGETAHUAN

Ketika walisongo membuat wayang kulit, karakter mental masing-masing peran (sosok) sudah dapat dikonsepkan secara fisik. Dari bentuk wajah, tubuh atau warnanya menggambarkan sifat atau mentalnya. Hal itu sudah menjadi standar mental yang dimiliki oleh manusia dari waktu ke waktu.


Pola mental yang sama juga telah disebutkan dalam Al Quran ketika menceritakan bagaimana perilaku anak Adam yang berani membunuh saudaranya. Ada yang bermental ikhlas dan ada yang ingin dihargai/dihormati. Demikian pula yang kita baca dalam sejarah-sejarah atau film-film yang banyak kita saksikan.


Agama dengan menghadirkan tasawuf adalah begitu tepat, karena sasarannya adalah bagaimana mendidik mental manusia, yang polanya sama dari dulu hingga sekarang.


Di sisi lain, pengetahuan atau teknologi dapat berubah sewaktu-waktu. Contohnya, dulu tidak ada pesawat, mobil, hp, dll. Sekarang sudah ada dan berganti-ganti. Perkembangan di bidang ini maju tak terbendung, seiring semangat manusia membangun dan memajukan kehidupan dunia.


Misi utama agama adalah perubahan mental manusia. Hasil dakwahnya adalah perubahan tujuan hidup manusia dari 'dunia oriented' menjadi 'akhirat oriented'. Oleh karenanya, peran agama adalah merubah paradigma berfikir dan sikap mental. Jika seseorang beragama tapi tidak mengubah 2 aspek tersebut, berarti ia sekadar menyandang Islam KTP, atau tidak beragama dalam arti sebenarnya.


Mencari pengetahuan adalah naluri (tidak perlu diajarkan), sedangkan sikap mental mesti diajarkan. Seseorang bisa saja tahu segalanya, tapi tak bernilai manakala mentalnya bobrok.


Pengetahuan bisa diperoleh dengan cara instan, seperti melalui kursus atau bimbingan tes. Medianya pun banyak. Sedangkan perubahan sikap mental tidak bisa diraih dengan sekejap. Jika pengetahuan terbangun dari apa yang dibaca dan dipelajari, maka mental seseorang terbangun dari pergaulan teman dan, lingkungannya.


Pendidikan di negara kita banyak yang gagal karena kurang memperhatikan masalah mental ini (terabaikan). Tolok ukur keberhasilan pendidikan selalu diukur melalui nilai-nilai (angka). Sayangnya, anggaran negara yang besar di bidang pendidikan pun kurang menyentuh masalah ini.