Khusyu' dalam Shalat: Antara Usaha dan Pemberian Allah

Syekh Akbar Muhammad Fathurahman M.Ag • 04 Oktober 2024

Khusyu' dalam Shalat: Antara Usaha dan Pemberian Allah

Khusyu' adalah elemen penting dalam setiap ibadah, terutama dalam shalat. Ada dua jenis khusyu' yang bisa kita pahami: pertama adalah khusyu' yang kita upayakan, dan kedua adalah khusyu' yang merupakan karunia dari Allah.


Artikel ini akan mengulas kedua jenis khusyu' tersebut, bagaimana kita mencapainya, serta peran Allah dalam menghadirkan kekhusyu'an sejati.


1. Khusyu' yang Diupayakan


Khusyu' yang diupayakan adalah fokus yang kita usahakan selama salat. Khusyu' jenis ini adalah dimana kita berusaha agar hati dan pikiran tertuju kepada Allah sebagai satu-satunya yang kita sembah. Fokus ini diwujudkan dengan menjaga hati agar tetap hadir (hudurul qalbi) ketika berdiri di hadapan-Nya. Usaha ini sangat penting karena tanpa khusyu yang diusahakan ini maka shalat bisa menjadi rutinitas tanpa makna yang mendalam.


Namun, meski kita berusaha sebaik mungkin untuk Khusyu', indera kita tetap berfungsi. Contohnya, telinga kita masih bisa mendengar suara di sekitar, mata kita mungkin menangkap objek yang ada di hadapan. Seorang yang berusaha khusyu' mungkin tetap mendengar suara orang lain atau melihat Ka'bah jika sedang di Masjidil Haram, tetapi itu tidak mengganggu fokus utamanya kepada Allah.


Rasulullah SAW memberi contoh bagaimana mengelola khusyu' ketika menjadi imam shalat. Dalam sebuah hadits, disebutkan bahwa ketika beliau mendengar tangisan seorang anak saat sedang memimpin shalat berjamaah, beliau mempercepat gerakan shalat tanpa mengurangi rukun yang wajib. Ini menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, khusyu' yang diupayakan tetap memperhatikan keadaan sekitar. Imam yang baik harus jeli melihat kondisi makmumnya, seperti kehadiran orang tua yang mungkin sulit sujud dan tidak bisa berlama-lama dalam sholatnya atau anak-anak yang menangis.


2. Khusyu' yang Diberikan Allah


Selain khusyu' yang diupayakan, ada pula khusyu' yang diberikan oleh Allah SWT. Ini adalah kekhusyu'an yang berada di luar kendali manusia, di mana hati bergetar dan air mata mengalir tanpa disadari. Kekhusyu'an ini tidak bisa dipaksakan atau diusahakan. Dalam Al-Quran, Allah menyebut keadaan ini sebagai "wajilat qulubuhum" (hati mereka bergetar) ketika mengingat Allah. Getaran ini bukanlah sesuatu yang bisa diusahakan dengan latihan, tetapi murni pemberian Allah.


الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَالصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَآ اَصَابَهُمْ وَالْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِۙ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ


(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar, sabar atas apa yang menimpa mereka, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.


Ketika Allah memberikan khusyu' ini, seorang hamba merasakan kedalaman spiritual yang lebih tinggi. Ada rasa nikmat dan lezat dalam ibadah yang dijalankan. Inilah tanda bahwa Allah sedang mencurahkan rahmat-Nya kepada hamba-Nya dalam bentuk kekhusyu'an yang luar biasa.


Khusyu' dalam shalat adalah sebuah perjalanan spiritual yang memerlukan usaha dan ketulusan. Sebagai hamba, kita harus berusaha untuk fokus dan menghadirkan hati di hadapan Allah. Namun, di sisi lain, kita juga perlu menyadari bahwa ada kekhusyu'an yang merupakan karunia dari Allah, yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Oleh karena itu, selain berusaha, kita juga harus memohon kepada Allah agar dianugerahi kekhusyu'an yang sejati, sehingga salat kita tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga sumber kedamaian dan ketenangan jiwa.

Wallahu a'lam.


https://youtu.be/t8xBC_OGxZc