KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW
Ustadz Luqman Al-Hakim • 03 Oktober 2024
Istilah Habib atau Sayid sering kita dengar di tengah masyarakat. Sering sebutan itu disalahartikan, sehingga tidak dipakai menurut hal yang semestinya atau malah disalahgunakan (untuk kepentingan duniawi). Dahulu sebutan habib hanya disandang untuk kalangan Ulama, kini menjadi sebutan umum. Bahkan anak kecil saja sudah disebut habib. Efek dari penyebutan ini pada akhirnya timbul rasa kesombongan, merasa nasab terbaik.
Penelitian Kiyai Imaduddin Utsman Al-Bantani tentang klaim, 'Pengakuan Para Habib sebagai Keturunan Nabi Belum Terbukti Secara Ilmiah' adalah merupakan kritik bagus yang mesti diambil positifnya.
Dalam Surat Asy Syura ayat 23 disebutkan: Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali mencintai keluargaku". Ayat tersebut memang betul bahwa orang beriman harus saling mencintai, mencintai saudaranya seperti mencintai diri sendiri. Dan terhadap keluarga Nabi Saw ada kekhususan. Dengan ayat tersebut habaib merasa merekalah yang harus dicintai.
Namun yang mesti menjadi pegangan dan bahkan sebagai sumber hukum adalah ahlul bait yang ditugaskan (tidak semua habaib). Semua mursyid merupakan ahlul bait Nabi Saw.
Setelah diteliti hadis-hadis berkenaan dengan masalah Ahlul Bait ini, keduanya memang benar. Pertama hadis 'aku tinggalkan dua pusaka (tsaqalain) yakni Quran dan Hadis' kedua 'Quran dan Ahlul Baitku'. Hadis menunjukkan penjelas terhadap Quran. Tidak mungkin melaksanakan perintah shalat dalam Al Quran tanpa penjelasan dari hadis. Sedangkan yang dimaksud Ahlul Bait (keluarga Nabi Saw) adalah keturunan yang diberikan mandat (tidak semuanya). Merekalah para Mursyid. Para Mursyid merupakan orang yang mendapatkan mandat untuk membimbing umat. Karenanya semua mursyid adalah keturunan Nabi Saw.
Mursyid dalam tarekat Idrisiyyah mulai dari Syekh Abdul Aziz ad Dabbagh hingga Syekh Ahmad Syarif as Sanusi berasal dari keturunan Hasan Ra (Al Hasani). Sedangkan sejak Syekh Akbar Abdul Fattah berasal dari keturunan Husein Ra (Al Husaini).
Mursyid terbagi 2, ada yang memiliki silsilah (seperti kuda yang memiliki BRK), dan ada yang tidak. Tradisi Arab memang memiliki hal semacam itu. Sedangkan keturunan Nabi Saw yang berasal dari negara lain tidak memilikinya. Seperti kuda yang hebat berketurunan kuda juara tapi tidak bisa menunjukkan bukti BRK-nya.
Syekh Akbar Muhammad Dahlan pernah mengatakan kepada Ajengan Nasrudin (ayahanda Syekh Akbar M. Fathurahman), 'Engkau juga keturunan dari Syarif Hisayatullah, tapi dari jalur yang lain (Sunan Boer alias Eyang Jaya Sri)'. Syekh Akbar Abdul Fattah pun sisilahnya dari H. M. Syarif bin Umar bin Eumbak bin Atok Larang yang konon merupakan keturunan Sunan Gunung Djati. Atok Larang memiliki makam di daerah Panjalu.
Suatu hari ruhani Rasulullah Saw datang kepada Syekh Akbar M. Fathurahman dan berkata, 'Anta dzurriyyati (engkau adalah keturunanku!') Hanya saja, ibarat kuda tidak memiliki BRK-nya, atau tidak ada bukti secara tertulis. Karenanya disimpulkan bahwa semua Mursyid itu adalah keturunan Nabi Saw. Sebab jika bukan, tidak akan kuat memikul tugas yang diembannya. Darah atau trah itu penting dalam hal ini. Demikian pula seekor kuda, tidak mungkin hebat jika tidak memiliki darah kuda yang hebat sebelumnya. Selalu trah yang hebat berasal dari trah yang hebat sebelumnya. Namun tidak semua keturunan trah hebat menjadi hebat pula.