SUASANA WAFATNYA IMAM IBNU TAIMIYAH

Ustadz Luqman Al-Hakim • 28 September 2024

SUASANA WAFATNYA IMAM IBNU TAIMIYAH

Al-Hafizh Ibnu Katsir (700-774 H), Ulama mufassir bercerita dalam kitabnya Al-Bidāyah wa an-Nihāyah Juz 14 hal 156-157 tentang wafatnya Syaikh Ibnu Taimiyah:


"Syaikh Alamuddin berkata dalam At-Tārikh: Pada malam Senin tanggal 20 Dzulqa'dah, Syaikh Ibnu Taimiyah putra al-Mufti Shihabuddin Abi al-Mahasin, wafat di sebuah tempat di Damaskus di ruangan tempat ia di penjara. Saat wafatnya banyak orang yang datang ke tempat itu dan mereka diizinkan untuk masuk. Para jamaah duduk di dekat mayat Ibnu Taimiyah sebelum dimandikan, mereka membaca al-Quran, mereka mencari berkah dengan melihat mayatnya dan menciumnya, lalu mereka berpindah. Berikutnya jamaah perempuan, mereka juga melakukan hal yang sama (mereka membaca al-Quran, mereka mencari berkah dengan melihat mayatnya dan menciumnya), kemudian mereka berpindah dan hanya orang-orang yang memandikannya saja.


Selesai dimandikan, maka mayatnya dikeluarkan. Kemudian berkumpullah orang-orang di tempat tersebut, di jalan menuju masjid Jami', di pelatarannya, di pintu Barid, di pintu Saa'at ke pintu Labadin dan Ghaurah. Dan janazah dihadirkan pada jam 4 siang, diletakkan di masjid Jami'. Pasukan tentara mengelilingi dan menjaganya karena banyaknya orang berdesakan. Ia lalu dishalatkan pertama kali, yang maju dahulu adalah Syaikh Muhammad bin Tamam. Kemudian dishalatkan di masjid Jami' al-Umawi sesaat setelah Zhuhur. Dan sungguh makin banyak berkumpulnya manusia, lalu makin bertambah hingga tempat-tempat menjadi sempit, begitu pula pasar-pasar.


Setelah dishalatkan jenazahnya kemudian dipikul di atas kepala orang-orang dan tangan-tangannya. Keranda yang di dalamnya terdapat Ibnu Taimiyah keluar dari pintu al-Barid dan makin dahsyat orang berdesakan, suara-suara tangis, pujian dan doa kepadanya makin bergemuruh. Orang-orang melempar saputangannya, surbannya dan pakaiannya ke arah keranda tersebut. Sandal-sandal mereka hilang dari kaki mereka, begitu pula songkoknya, saputangannya dan surbannya, mereka tidak menghiraukannya dan terkonsentrasi melihat janazahnya. Keranda itu berada di atas kepala, terkadang maju, mundur atau terhenti hingga orang-orang berjalan.


Orang-orang keluar dari masjid Jami', dari semua penjuru pintu, sangat penuh dengan berdesakan. Satu pintu lebih penuh berdesakannya daripada yang lain. Kemudian orang-orang keluar dari pintu-pintu negeri karena banyaknya berdesakan. Tetapi tempat berdesakan terbanyak ada di 4 pintu, pintu al-Faraj, tempat keluarnya janazah, pintu al-Faradis, pintu al-Nasr dan pintu al-Jabiyah.


Masalah ini makin menjadi beban di pasar al-Khail, dan orang-orang makin bertambah. Jenazah diletakkan disana dan yang maju untuk mensalatinya adalah saudaranya, Zainuddin Abdurrahman. Selesai dishalati, janazah dipikul ke makam Shufi. Ia dikubur di dekat saudaranya Syarafuddin Abdullah. Pemakamannya menjelang Ashar, hal ini karena banyaknya orang yang berdatangan dan menyalatinya, baik yang dari kebun, pedalaman, pedesaan dan lainnya. Orang-orang menutup tokonya dan tidak ada yang tertinggal kecuali yang berhalangan hadir, namun tetap mendoakan kepada Ibnu Taimiyah, seandainya mampu maka ia turut hadir. Begitu pula para wanita sangat banyak, kira-kira 15000 wanita, selain para wanita yang ada di lantai atas rumah dan sebagainya, kesemuanya mendoakan dan menangis. Sementara para lelaki diperkirakan mencapai 60.000 sampai 100.000, bahkan lebih sampai 200.000 orang.