KESUFIAN SYEKH IBNUL MUBARAK

Ustadz Luqman Al-Hakim • 27 September 2024

KESUFIAN SYEKH IBNUL MUBARAK

Pada sebuah situs yang pro Salafi Wahabi ada tulisan dalam bentuk tanya jawab:


- Memangnya kenapa jika kita belajar dari Ustadz Bid’ah, apa berbahaya?


Jawaban: Tentu saja belajar kepada Ahlul Bid’ah sangat terlarang. Bahkan, di antara tanda-tanda kiamat adalah banyaknya orang yang belajar kepada Ahlul Bid’ah.


Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam hadits shahih bersabda, “Sesungguhnya di antara tanda hari Kiamat adalah, ilmu diambil dari al-Ashaghīr.” [Hadits Shahih Riwayat Ibnul Mubarak dan Al Lalikai]


Ibnul Mubarak menjelaskan bahwa Al-Ashaghir artinya adalah Ahli Bid’ah.


—oOo—


Mari kita telaah artikel Salafi di atas tentang siapa Ibnul Mubarak (w. 797 H). Kalau saja kaum Salafi Wahabi mengenalnya pasti pembahasan bid’ah menjadi hambar baginya. Kenapa? Karena Ibnul Mubarak merupakan sosok sufi (suatu hal yang pasti ditentang oleh Salafi Wahabi). Ia adalah anak dari seorang budak yang jujur yang bernama Mubarak (kisah ini termuat dalam Kitab An-Nawādir, Al Qalyubi). Karena kejujurannya-lah kemudian ayahnya menikah dengan wanita cantik anak majikannya yang kaya.


Ibnu al-Mubarak adalah seorang ulama yang digelari dengan al-Hāfizh (penghafal al-Quran), Syaikhul Islam, Mujahid, Imam, Alim, dan pimpinan orang-orang yang bertakwa pada zamannya. Haditsnya adalah hujjah berdasarkan kesepakatan ulama dan terdapat di dalam kitab-kitab musnad dan ushul.


Salah satu ungkapannya yang sering kita dengar dalam Muqadimah Sahih Muslim adalah:


"Sanad merupakan bagian agama. Jika tidak ada sanad maka orang akan berbicara seenaknya tentang agama".


Al-Abbas bin Mush’ab meriwayatkan dari Ibrahim bin Ishaq al-Bunani, ia meriwayatkan bahwa Ibnul Mubarak berkata; “Aku telah belajar kepada empat ribu guru, dan aku meriwayatkan hadis dari 1000 guru”. Al-Abbas bin Mush’ab berkata: “Maka aku pun menelusuri guru-guru yang ia riwayatkan hadis dari mereka, sehingga terkumpul bagiku 800 gurunya. Subhānallāh.”


Seorang ahli hadis, Hammad bin Usamah, berkata tentang Abdullah bin al-Mubarak, “Ibnul Mubarak di kalangan ahli hadits adalah serupa dengan amirul mu’min (penguasa umat) di kalangan manusia secara umum.”


Tidak hanya Ibnul Mubarak, banyak perawi yang memiliki validity tsiqah yang bagus berasal dari kalangan Sufi. Jika kaum Salafi Wahabi ini menolak Tasawuf atau Sufi, maka sebagian besar hadis tidak akan sampai ke tangan mereka. Karena sebagian besar perawi yang handal berasal dari kaum Sufi. Banyak catatan sejarah keterkaitan dengan sufi ini dihilangkan oleh Salafi Wahabi.


Karena Ibnul Mubarak mewarisi kekayaan yang banyak itulah harta kekayaannya dibelanjakan untuk menuntut ilmu, menyantuni ulama, membantu fakir miskin dan berperang di jalan Allah. Ia berniaga bukan untuk memperkaya diri lagi. Ibnul Mubarak pernah berkata kepada sesama wali sufi, Fudhail bin ‘Iyadh, “Andaikata bukan karena kamu dan teman-temanmu (maksudnya adalah para ulama) niscaya aku tidak akan berniaga.”