AL-FARABI INTELEKTUAL SUFI
Ustadz Luqman Al-Hakim • 25 September 2024
Dalam sejarah ilmu pengetahuan Islam, al-Farabi adalah sufi yang brilian. Ia konon membaca buku fisika Aristoteles 40 kali, dan De Anima-nya Aristoteles 200 kali, Ia menulis Ihsha al-'Ulum, ensiklopedia sains yang pertama, la menulis Madinah al-Fadhilah, buku sosiologi dan politik. Al-Farabi adalah seorang raksasa dalam sains Islam, tetapi hal itu tidak menghambatnya menjadi sufi. Ibnu Khalikan melukiskan al-Farabi sebagai berikut, “Ia adalah orang yang paling mengabaikan hal-hal duniawi. Ia tidak pernah memusingkan urusan kehidupan dan tempat tinggal.” Salah seorang murid al-Farabi mendirikan kelompok pencinta ilmu pengetahuan di Baghdad pada tahun 970. Kelompok ini menghidupkan tradisi intelektual yang mulai terancam di zaman itu. Tiga belas tahun kemudian, mungkin terilhami oleh kelompok murid al-Farabi ini, di Basrah berdiri Ikhwan al-Shafa (Saudara Ketulusan) yang ingin memperbaiki umat Islam, menyucikan mereka secara moral, spiritual dan politikal. Ikhwan al-Shafa adalah semacam gerakan sufi yang sekaligus juga gerakan ilmu pengetahuan. Mereka berkumpul, berdiskusi, dan merekam pembicaraan mereka dalam 51 risalah yang sampai kepada kita. Dalam risalah itu, mereka bukan saja membicarakan tauhid, akhlak, dan kesucian, tapi juga mendiskusikan gelombang suara, gerhana, kimia, dan fenomena alam lainnya. Mereka bukan saja mengulas dialektika Socrates, tetapi juga kezuhudan Ali bin Abi Thalib.
Melihat kenyataan di atas, secara hipotetis di sini berani dikatakan bahwa makin terbenam orang dalam pekerjaan intelektual, makin rindu ia kepada kehangatan spiritual. Kegersangan rasionalisme malahan mendorong orang untuk mencari keseimbangan dengan menghadirkan sufisme.