SKAK MAT
Ustadz Luqman Al-Hakim • 20 September 2024
Suatu ketika ada seorang pria bercerita tentang kesannya terhadap pesantren Fadris (Idrisiyyah). Ia menilai ajarannya cukup bagus, kecuali satu hal yang terasa terlalu kaku. Yakni dalam hal larangan merokok. Lalu ia menceritakan pengalamannya di suatu kesempatan pernah datang ke pesantren bermaksud silaturahmi dengan Kyai-nya. Saat ia sedang merokok, tiba-tiba ia didatangi seseorang santri dan menegurnya supaya mematikan rokoknya karena di pesantren dilarang merokok. Merasa kesenangannya dilarang ia merasa tersinggung. Dan menyatakan bahwa santrinya tidak toleran kepada tamu yang datang di pesantren.
Beberapa saat kemudian ia dipersilahkan masuk ke rumah Kyai Dahlan (Syekh Akbar M. Dahlan). Setelah bersalaman dan duduk, mereka berbincang. Ketika Syekh Akbar Muhammad Dahlan melihat tamu mebawa bungkus rokok, beliau menyuruh pengurus yang menemani tamu, 'Tolong ambilkan asbak, hormati tamu!' Mendengar kata-kata tersebut, pengurus dengan sigap melakukan apa yang diperintahkan. Ia pun merasa lega karena merasa didukung. Syekh Akbar mengutarakan bahwa kita harus menghargai tamu, siapapun yang datang. Jika kondisinya lapar, diberi makan. Kalau haus, diberi minum. Dan banyak hal yang diceritakan tentang pentingnya saling menghargai dalam Islam. Walau secara hukum Islam merokok itu tidak bagus, buat diri dan orang lain. Dan Syekh Akbar membeberkan landasan hukumnya. Pada prinsipnya pesantren tidak melarang, tapi yang melarang adalah Allah melalui kitab suci-Nya.
Selesailah tamu berkunjung, terlihatlah wajah puas dan ekspresi ceria semuanya ketika keluar dari ruangan. Setelah itu tamu melanjutkan ceritanya kepada M. Daud (ketika itu masih pengurus). ‘Banyak wawasan agama yang didapat dalam perbincangan dengan Pak kyai’, jelasnya. Ia menilai bahwa Kyai Dahlan memang benar menerapkan sikap toleransi, tapi seharusnya beliau bersikap tegas dalam menyampaikan hukum. Sampaikan saja yang Haq, masalah tidak terima atau tidak itu bukan urusan kita. Biarlah Allah yang menilai, ujarnya dengan meyakinkan.
Mendengar ucapan tamu tersebut, M. Daud menimpali, 'Berarti anak santri tadi betul pak. Ia sudah benar menyampaikan yang haq tentang larangan merokok. Masalah bapak tidak terima itu bukan urusan dirinya. Ia sekadar menyampaikan yang haq!'
Laksana suara kilat menyambar, si tamu terdiam seribu bahasa, kena Skak Mat mendengar sambaran hujjah yang disampaikan pemuda M. Daud, sambil meninggalkan pesantren.
@MK_IDRISIYYAH