MEMINTA TOLONG KEPADA WALI-NYA
Ustadz Luqman Al-Hakim • 18 September 2024
Dalam kitab Jāmi'u Karāmatil Awliyā, karya Syekh Yusuf an Nabhani, dikisahkan suatu peristiwa karamah (keistimewaan) yang dimiliki oleh Syekh Ahmad bin Idris Ra, seorang wali yang sangat dekat dengan Allah SWT. Pada suatu ketika, salah seorang murid Syekh Ahmad bin Idris sedang melakukan perjalanan jauh menyeberangi padang pasir yang luas. Di tengah perjalanan, murid tersebut kehabisan perbekalan dan merasa kebingungan, karena pada masa itu belum ada sarana komunikasi seperti telepon genggam yang dapat diandalkan. Ketika sedang berzikir menyebut nama Allah, "الله.. الله.. الله", murid itu teringat pada sebuah ayat Al-Quran yang menyatakan agar meminta pertolongan kepada ahlinya (orang-orang yang dekat dengan Allah). Lantas ia berdoa memohon bantuan kepada gurunya, seraya berkata, "Wahai Sayyidi Ahmad bin Idris, tolonglah aku karena perbekalanku habis!" Tak lama kemudian, tiba-tiba di atas sebuah pohon muncul hidangan makanan yang lengkap, termasuk berbagai macam makanan dan buah-buahan yang lezat.
Murid tersebut sangat bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diterimanya, yang bahkan melebihi keenakan dan kelezatan makanan yang pernah ia rasakan sebelumnya, seolah-olah seperti ketika Nabi Isa As. berdoa agar diturunkan hidangan dari langit. Setelah menikmati hidangan tersebut, ia tidak lagi merasa lapar atau haus hingga tiba di tempat tujuan.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Syekh Ahmad bin Idris memiliki karamah berupa kemampuan untuk mendatangkan pertolongan dan bantuan dengan Izin Allah Yang Maha Kuasa bagi mereka yang membutuhkan. Hal ini memperkuat keyakinan dan kepercayaan akan kewalian dan keistimewaan Syekh Ahmad bin Idris di sisi Allah SWT. Juga salah satu bukti bahwa meminta pertolongan kepada makhluk selain dari Allah bukanlah syirik, karena hal itu malah diperintahkan dan diperkuat oleh syara', di antaranya hadis:
إِذَا أَضَلَّ أَحَدُكُمْ شَيْئًا أَوْ أَرَادَ أَحَدُكُمْ عَوْنًا وَهُوَ بِأَرْضٍ لَيْسَ بِهَا أَنِيْسٌ، فَلْيَقُلْ: يَا عِبَادَ اللهِ أَغِيْثُوْنِيْ، يَا عِبَادَ اللهِ أَغِيْثُوْنِيْ، فَإِنَّ لِلَّهِ عِبَادًا لَا نَرَاهُمْ.
”Apabila salah seorang kalian kehilangan sesuatu atau menghendaki pertolongan, sedang ia berada di tanah lapang yang tiada seorangpun manusia, maka hendaklah ia ucapkan, ’Wahai hamba Allah, tolonglah aku, wahai hamba Allah, tolonglah aku! Karena Allah memiliki hamba-hamba yang kita tidak melihatnya’. (H.R. Thabrani)
Amatlah rugi orang-orang yang tidak mempercayai karamah ini apabila ia mengalami kesulitan dalam perjalanan seperti yang diceritakan. Orang yang menentang hal ini (karena meminta kepada selain Allah dianggap syirik) tidak akan mengalami karamah seperti tadi. Bagaimana mungkin merasakannya, sebab ia sibuk membahasnya dari sisi khurafat, bid'ah, syirik perbuatan tersebut tanpa ada kesempatan untuk menikmati anugerah Allah tersebut. Wallahu A'lam.