SI PEMBERANI (Kisah 2)
Ustadz Luqman Al-Hakim • 15 September 2024
Syekh Akbar M. Daud Dahlan pernah menjadi supir bis steady safe (armada kendaraan sebelum Trans-Jakarta) antara tahun 1985-1990. Seperti biasanya beliau menyetir keliling Jakarta menerima dan mengantarkan penumpang. Tapi suatu hari ia mengangkut penumpang seorang oknum tentara. Tiba-tiba tentara tersebut bentrok mulut dengan salah seorang penumpang yang sulit dilerai. Akhirnya Syekh Akbar sebagai supir mencoba mengingatkannya dengan kata-kata, karena keributan itu akan mengganggu tugasnya sebagai supir. Semua penumpang mendukung apa yang dikatakan supir. Mendengar hal itu tentara tersebut bukan berhenti, malah merasa dirinya disudutkan. Cekcok mulut pun tak terhindarkan, yang berakhir dengan tantangan dari oknum tentara tersebut. Syekh Akbar melihat kondisi yang kurang menyenangkan itu pun memberhentikan bis yang dikendalikannya.
Syekh Akbar beranjak dari bangku supir untuk menenangkannya. Tapi tentara itu malah langsung menyerangnya dengan pukulan. Untungnya Syekh Akbar yang tubuhnya kala itu masih kurus dan berkacamata itu berhasil menangkisnya. Akhirnya di dalam bis itu perkelahian sengit pun terjadi. Keduanya bergumul hebat saling memukul. Kacamata yang dikenakan Syekh Akbar pun terpental entah kemana. Beliau sudah tidak sadar dengan apa yang dilakukan. Ia hanya berteriak, 'Madaad Syekh Akbaar!' sambil memukul ke sana ke mari. Perkelahian antara supir dan penumpang itu tidak ada yang berani melerainya. Malah penumpang bersorak mendukung supir yang melawan tentara 'arogan'. Setelah beberapa puluh menit berlalu perkelahian itu usai. Sang tentara sambil memegang mukanya yang penuh dengan luka memar, turun dari bis, sambil mengeluarkan kata-kata ancaman. ‘Awas kamu, kemanapun kamu pergi akan saya cari. Saya tunggu di halte. Saya tahu semua jalur bis ini!’ Sedangkan Syekh Akbar ketika itu terasa segar bugar, tidak merasakan apa-apa dan segera melanjutkan perjalanannya.
Karena mendapatkan ancaman oknum tentara tersebut, para penumpang memberikan masukan kepada dirinya agar berhati-hati. Karena di kemudian hari oknum tentara itu akan dendam kepada supir. Ia bisa menunggu di tempat pemberhentian yang biasa dilaluinya. Akhirnya dengan beberapa pertimbangan, Syekh Akbar berhenti dari Steady Safe dan menjalani profesi lainnya.