BERPIKIRAN MELANGIT

Ustadz Luqman Al-Hakim • 11 September 2024

BERPIKIRAN MELANGIT

Sebenarnya, manusia adalah makhluk yang berasal dari langit dan diturunkan ke bumi. Ia seharusnya memiliki pemikiran yang melangit, bukan hanya terfokus pada hal-hal lokal. Sebagai ilustrasi, jika telur elang dierami oleh ayam, maka anak yang dihasilkan akan memiliki karakter seperti anak ayam, yang tidak dapat terbang. Suatu ketika ia sudah agak besar dan bermain dengan anak-anak ayam, lalu ia melihat induk elang yang terbang tinggi, ia pun merasa terkagum-kagum dengannya. Ia bertanya kepada induk ayam sang ‘ibu angkat’, "Siapa itu?" Induk ayam menjawab, "Itu adalah raja langit!" Namun, sungguh menyedihkan nasibnya, meskipun ia sebenarnya anak elang kini karakternya telah berubah menjadi anak ayam. Sebab ia telah terjebak dalam kehidupan yang sangat berbeda dari induknya yang bebas menjelajahi angkasa dan memiliki pandangan yang jauh ke depan.


Perumpamaan ini menggambarkan bahwa jika seseorang terjebak dalam lingkungan yang hanya berfokus pada duniawi, materi, kesenangan, kemewahan hidup, pangkat, jabatan, dll. ia akan terkurung dalam visi kehidupan yang amat terbatas. Bergaul dengan orang-orang yang hanya memikirkan target duniawi akan membuatnya terasing dari potensi spiritualnya. Seperti anak elang yang tidak bisa terbang jauh seperti ibunya, ia hanya akan berputar di sekitar lingkungan anak ayam.


Diutusnya Nabi dan Rasul, serta Mursyid sebagai penerusnya, bertujuan untuk menggali potensi spiritual (ruhani) yang sering diabaikan oleh banyak orang. Oleh karena itu, cita-cita dan harapan seorang murid harus melangit, menjulang tinggi. Jiwa harus mampu menembus langit, dengan tujuan akhir yang dituju adalah Allah dan kehidupan akhirat. Dengan demikian, manusia dapat menundukkan langit, dan kembali menjadi ‘makhluk langit’.