DASAR UTAMA ROBITHOH
Ustadz Luqman Al-Hakim • 10 September 2024
Syekh Akbar M. Fathurahman M.Ag menyatakan bahwa Rābithah itu merupakan ekspresi dari cinta.
Dalil utama rābithah adalah hadis yang berbunyi:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ.
"Tidak (sempurna) iman seseorang sehingga aku lebih ia cintai daripada anak, orang tua dan manusia seluruhnya”. (H.R. Bukhari, Muslim, Nasai).
Adapun dalil-dalil hadis yang banyak yang diungkapkan dalam kitab Talāzum al-syarī’ah wa al-haqīqah (تلازم الشريعة والحقيقة) karya Syekh Zakariya al Kandahlawi Rhm, yang membahas tentang masalah tashawwuru al-syekh (memvisualisasikan syekh), adalah cabang-cabangnya saja.
Dalam kehidupannya yang kental dalam suasana thariqah Syekh Zakariya pada kitab tsb tidak sependapat dengan orang yang melarang membayangkan Guru (tashawwuru al-syekh) secara mutlak, karena menurut Al-Muhaddits ini banyak hadis-hadis yang mendukung. Di antaranya:
Sayidatina Aisyah Ra berkata saat menggunakan wangi-wangian di bulan Muharram,
كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى وَبِيصِ الطِّيبِ فِي مَفْرِقِ رَسُولِ اللهِ ﷺ
"Seakan-akan aku melihat kilauan minyak wangi di belahan rambut Rasulullah Saw.” Hingga akhir hadis.
Dalam riwayat Ibnu Mas'ud yang disebutkan oleh Bukhari dan Muslim, ia berkata,
كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِي نَبِيًّا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ.
"Seakan-akan aku melihat Rasulullah Saw menceritakan kisah seorang Nabi yang dipukuli oleh kaumnya.” Hingga akhir hadis.
Terbayang-bayangnya para Sahabat akan sesuatu menyebabkan ia teringat kepada sosok Rasulullah Saw dan perjuangannya dalam menegakkan agama. Hal itu tiada lain karena di dalam hatinya telah tertanam benih kecintaan, yang secara alamiah aktifitas tashawwur (visualisasi) terhadap Rasulullah Saw muncul dengan sendirinya. Tentu, tashawwuru al-syekh hanyalah sebagai alat semata yang tujuan utamanya adalah wushūl ilallāh.
Rasulullah Saw bersabda:
عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا قَالَ: قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, أَيُّ جُلَسَائِنَا خَيْرٌ؟ قَالَ: مَنْ ذَكَّرَكُمُ اللهِ رُؤْيَتُهُ, وَزَادَ فِيْ عِلْمِكُمْ مَنْطِقُهُ, وَذَكَّرَكُمْ بِالْآخِرَةِ عَمَلُهُ. (رواه أبو يعلى, ورواته رواة الصحيح إلا مبارك ابن حسّان)
Dari Ibnu Abbas semoga Allah meridhai keduanya, dia berkata: 'Rasulullah Saw pernah ditanya; 'Ya Rasulullah, siapakah teman duduk yang paling baik? Beliau menjawab: "Orang yang mengingatkan kalian kepada Allah saat melihatnya, ucapannya menambah ilmu pada kalian dan amalannya mengingatkan kalian akan negeri akhirat". (H.R. Abu Ya'la dan para perawi semuanya sahih kecuali Mubarak bin Hassan)
Pada zaman sekarang orang yang beriman tidak mampu melakukan hal ini secara fisik karena tidak berjumpa dengan sosok Rasululllah Saw. Hanya mungkin dilakukan dengan menghadirkan sosok Mursyid hakiki pada masanya.