Apakah Nabi Sulaiman Bukan Seorang Sufi?

Syekh Akbar M. Fathurahman, M.Ag • 19 Oktober 2024

Apakah Nabi Sulaiman Bukan Seorang Sufi?

Banyak Sufi yang menunjukkan nama belakang sebagai profesi selain nama asalnya. Seperti Al Haddad, Al Ghazali, Al Dabbagh, dll. Hal itu menandakan bahwa seorang Sufi adalah pekerja, bukan berpangku tangan atau pemalas. Sebagai contoh adalah guru mursyid Imam Al Ghazali adalah seorang tukang sol sepatu yang mengais rezeki melalui tangannya sendiri tanpa meminta-minta kepada orang lain. Para Ulama melabeli namanya dengan sebutan tersebut agar memudahkan identitasnya di samping sebagai perkenalan terhadap pola kebiasaan hidupnya. Ternyata bila melihat nama-nama para Sufi, mereka semua adalah pekerja keras, bukan orang yang berpangku tangan.


Seorang sufi bukanlah orang yang menjauhi dunia dari kehidupannya. Seorang muslim yang menjauhi dunia menunjukkan adanya penyimpangan dalam beragama. Justru ia takluk dengan kehidupan dunia. Karenanya ia dituntut untuk selalu aktif (bekerja). Seorang pria dewasa akan dimintai pertanggungjawaban bagaimana ia menafkahi keluarganya.


Para Nabi As dan Sahabat Ra seluruhnya adalah pengamal tasawuf. Kepada merekalah banyak contoh teladan perilaku bertasawuf, seperti Sabar, Tawakkal, Syukur, Ridha, Syaja’ah, Mahabbah, dll. Seandainya orang sufi digambarkan sebagai orang yang faqir dan miskin, tentu Nabi Sulaiman dan para Sahabat tidak termasuk ke dalamnya. Nabi Sulaiman As adalah orang yang zuhud, yakni orang yang telah sukses menghilangkan ekses negatif dunia dalam hatinya.


Ketika Ratu Balqis mengirimkan berbagai hadiah ke kerajaannya, tidak satupun pemberian itu diambilnya. Karena tujuannya hanya menyampaikan Risalah Allah. Suatu ketika Beliau lalai shalat Ashar lalu beliau kurbankan 900 ekor kuda kesayangannya sebagai penebus kelalaiannya itu. Beliau tidak terpukau dengan harta yang dimilikinya. Jika seorang sufi itu harus miskin dan lusuh, bagaimana dengan Nabi Sulaiman? Apakah orang yang bergelimang harta tapi hatinya tak tergoda dengan segala kesenangannya bukan seorang Sufi?


Suatu ketika Beliau sedang terbang dibawa oleh angin, lalu mendengar dari kejauhan seorang rakyat jelata mengucapkan tasbih. Tasbih itu membuatnya gemetar, dan Beliau menghampiri petani tersebut. Lalu Beliau katakan, bahwa jika tasbih yang diucapkannya itu lebih baik daripada seluruh isi kerajaan yang dimilikinya. Perkataan tersebut menegaskan apalah arti harta, kekuasaan atau jabatan bagi Nabi Sulaiman. Di hatinya, Keagungan Allah adalah segala-galanya.


Sementara orang banyak melirik ‘wow’ terhadap kekayaan dan kekuasaan yang dimilikinya, tapi jarang memandang ‘wow’ hatinya yang bersih, zuhud dan tidak silau dengan itu semua. Karena itu banyak orang berdoa merindukan kekayaan materi seperti Nabi Sulaiman, tapi jarang yang menginginkan kekayaan hati seperti Nabi Sulaiman, yang bagaikan emas mulia, dan tak tergoda dengan gemerlap dunia karena di dalam hatinya tertancap Keagungan Allah.