Meluruskan Kesalahpahaman Zuhud

Syekh Akbar M. Fathurahman, M.Ag • 20 Desember 2024

Meluruskan Kesalahpahaman Zuhud
  • Salah satu sikap yang disalahpahami tentang sufi adalah menganggap orang yang belajar tasawuf atau sufi harus meninggalkan dunia. Orang yang memasuki dunia tasawuf berarti menyiapkan diri untuk miskin. Seorang sufi diilustrasikan dengan mereka yang terus menerus berdiam di masjid sambil memegang tasbih. Itu pula yang mereka gambarkan kepada sosok walisongo yang terlihat bersurban dan memegang tasbih. Dunia dianggapnya suatu hal yang tercela, tabu dan harus dijauhi. Kondisi itu diyakini sebagai kesempurnaan ahwal seorang salik di hadapan Allah, di mana sudah tidak lagi memikirkan dunia.



  • Akibat keyakinan itu ada anggapan orang bahwa mereka yang masih menggeluti dunia pertanda beragamanya masih jauh dari sempurna karena dianggap masih memikirkan dunia.



  • Penyakit yang disebabkan oleh dunia dan kehidupannya adalah hubbud dunia. Hadis menyebutkan bahwa ia merupakan pangkal (sumber) segala dosa dan kesalahan. Dan obatnya adalah zuhud. Dunia bisa mengandung arti positif dan negatif. Positif manakala dijadikan sarana (media) untuk taat, negatif manakala ia menjadi penyebab ia jauh dari Allah SWT. Maka yang patut dihindari dari dunia adalah ekses negatifnya, berupa kenikmatan dan kesenangan yang menipu.



  • Dalam pengertian ini perkara zuhud adalah adalah perkara batin (hati). Bisa jadi seseorang kaya tapi hatinya zuhud dan bisa jadi ada yang miskin tapi hatinya bergantung dengan dunia. Kaya atau miskin bukan menjadi barometer zuhud atau kesufian seseorang.