UZLAH TIDAK PERLU KE GUNUNG

Ustadz Luqman. Al-Hakim • 20 Desember 2024

UZLAH TIDAK PERLU KE GUNUNG

Untuk menjaga keselamatan dan konsistensi dalam menerapkan tasawuf, kita tidak perlu melakukan uzlah (mengasingkan diri) atau khalwat (menyendiri) di gua atau di gunung. Yang terpenting adalah kita dapat merasakan kebersamaan dengan Allah di dalam hati . Qalbu atau hati membutuhkan bantuan dari tentara-tentara spiritual yang dapat memperkuat imannya. Sebenarnya, makhluk Allah yang paling banyak adalah para malaikat. Jika hati bersih, kita akan mendapatkan kekuatan dan pertolongan dari para malaikat.


Ada hadits Nabi Saw yang menyatakan bahwa jika berada di padang pasir dan kendaraan kita hilang, maka kita dapat berdoa, "Ya hamba-hamba Allah, tahan kendaraanku." Jadi, kita diperbolehkan untuk meminta pertolongan kepada para malaikat, karena di tempat-tempat terpencil kita tidak dapat meminta bantuan kepada sesama manusia. Malaikat adalah makhluk terbanyak setelah manusia, disusul oleh jin dan setan. Malaikat memiliki banyak tugas, termasuk mendoakan dan memohonkan ampunan untuk kita. Selain itu, tentara-tentara hati kita yang lain adalah cahaya Allah yang bersumber dari para ulama. Oleh karena itu, kita harus memperkuat tentara-tentara spiritual kita. Tasawuf modern mengajarkan kita untuk tidak merasa sendiri, melainkan selalu merasa bersama dengan Allah. Dengan demikian, kita dapat menjalani kehidupan spiritual dengan aman dan konsisten.


Uzlah, atau menyendiri untuk beribadah, merupakan langkah penting untuk mempercepat kedekatan kita dengan Allah. Ketika berada di tempat-tempat ibadah seperti pondok pesantren atau masjid, kita berada di lingkungan yang Allah cintai. Konsep hijrah mengajarkan kita untuk mencari lingkungan yang kondusif bagi perkembangan spiritual kita. Jika kita berada di tempat yang banyak kemaksiatan dan hati kita belum kuat, kita mungkin akan merasa paling unggul dalam beribadah padahal belum sepenuhnya ikhlas. Oleh karena itu, kita perlu mencari tempat yang ada ulama, mursyid, dan orang-orang yang dapat menguatkan ibadah kita sehingga kita terbimbing 24 jam. Sebagaimana dikatakan oleh Syekh Ibnu Athoillah, kita sebaiknya bergaul dengan orang-orang yang senantiasa mengajak kepada Allah, bukan dengan orang yang lisannya saja tidak menunjukkan kepada-Nya. Untuk urusan dunia, memang kita boleh berlomba-lomba, tapi untuk urusan akhirat kita wajib berlomba-lomba. Kita rela menghabiskan seluruh upaya untuk urusan dunia yang fana, namun mengapa kita tidak berlomba-lomba untuk urusan akhirat yang abadi? Sudah selayaknya kita berlomba untuk meraih derajat tertinggi di sisi Allah.