Dakwah Simpatik - Pendekatan dakwah sufi dengan 'qaulan layyina'
Luqmanul Hakim • 10 Desember 2024
MK Idrisiyyah, Kisah Dakwah - Ujian berupa cacian, makian, dan hujatan sudah menjadi hal biasa bagi jamaah Tarekat Idrisiyyah, termasuk di masa Syekh Akbar Muhammad Dahlan Ra. Salah satu peristiwa yang menggambarkan hal ini terjadi di Rajapolah, ketika seorang ulama setempat menyampaikan ceramah yang berisi hinaan kepada Syekh Akbar. Dalam ceramahnya, ia merendahkan ilmu Syekh Akbar sebagai sesuatu yang dangkal.
Berita ini sampai ke telinga Muhdiyat, seorang tokoh masyarakat Rajapolah yang juga bagian dari Idrisiyyah. Menyadari bahaya dari ucapan tersebut, Muhdiyat berinisiatif memberikan pemahaman kepada sang Kiai. Namun, ia paham bahwa pendekatannya harus bijaksana agar tidak memicu konflik, terutama di kalangan jawara Idrisiyyah yang dikenal militan dalam membela kehormatan tarekat.
Muhdiyat memilih strategi cerdas: ia berpura-pura menjadi murid dan menyatakan keinginannya untuk belajar kitab kepada sang Kiai. Dengan penuh kerendahan hati, ia rutin mendatangi rumah sang Kiai, membaca kitab bersamanya, dan secara perlahan memberikan pemahaman tentang Idrisiyyah. Sikap sopan dan bijaksana Muhdiyat membuat sang Kiai tanpa sadar mulai memahami dan menerima ajaran Idrisiyyah.
Seiring berjalannya waktu, perubahan besar terjadi pada sang Kiai. Dari yang awalnya memusuhi, ia kini justru menjadi pendukung dakwah Idrisiyyah. Bahkan, ia mulai memuji Syekh Akbar dan mengajak masyarakat untuk mendukung perjuangan tarekat tersebut.
Namun, sebelum perubahan ini sepenuhnya terlihat, sempat terjadi insiden yang hampir berbuntut anarkis. Abdurahman, seorang jawara yang setia kepada Idrisiyyah, mendengar kabar tentang hinaan sang Kiai. Dengan membawa golok, ia mendatangi rumah sang Kiai dalam keadaan marah besar, berniat untuk melibasnya.
Sesampainya di rumah sang Kiai, betapa kagetnya Abdurahman ketika melihat Muhdiyat – sahabat sekaligus sosok yang ia hormati – sedang asyik membaca kitab bersama sang Kiai. Kemarahan Abdurahman seketika reda, dan ia pulang dengan perasaan campur aduk.
Di kemudian hari, Abdurahman menyaksikan sendiri perubahan sikap sang Kiai. Kini ia tidak lagi memusuhi Syekh Akbar, melainkan mendukung perjuangannya. Setelah mendengar penjelasan Muhdiyat tentang pendekatan dakwah yang ia lakukan, Abdurahman merasa kagum dan bersyukur. "Untung Kang Muhdiyat memberi tahu. Kalau tidak, mungkin lehernya sudah putus dengan golok ini!" ujar Abdurahman dengan nada menyesal.
Kisah ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya pendekatan dakwah yang moderat dan santun. Dakwah yang dilakukan dengan penuh kebijaksanaan terbukti lebih efektif dan berpengaruh dibandingkan dengan cara radikal atau anarkis.
Semoga kisah ini dapat menginspirasi kita untuk selalu mengedepankan akhlak mulia dalam menyampaikan kebenaran.