Ridha Adalah Kunci Ketentraman Jiwa dan Penyembuh Bagi Hati
KOMINFO IDRISIYYAH • 28 Januari 2025
Ridha Adalah Kunci Ketentraman Jiwa dan Penyembuh Bagi Hati
Ketika seseorang diberi ujian berupa sakit, tidak jarang reaksi yang muncul adalah kemarahan, ketidakpuasan, atau bahkan mencari kambing hitam untuk menyalahkan pihak lain. Sikap seperti ini, alih-alih memperbaiki keadaan, justru menambah beban pikiran dan memperberat sakit yang dirasakan. Sakit yang semestinya menjadi ladang introspeksi diri malah berubah menjadi penyebab stres dan tekanan yang lebih besar.
Namun, ada hikmah luar biasa bagi siapa saja yang mampu menyikapi ujian sakit dengan sikap rida. Ketika hati mampu menerima ketentuan Allah dengan penuh kerelaan dan keyakinan bahwa semua terjadi atas izin-Nya, maka rasa sakit itu sendiri dapat berkurang. Rida adalah kunci utama untuk mendatangkan ketenangan batin. Dengan berkata dalam hati, “Ya Rabb, tanpa izin-Mu, sakit ini tidak akan menimpa diriku. Aku menerima takdir-Mu dengan lapang dada,” maka hati pun menjadi tenteram.
Menurut ilmu psikologi, seseorang yang mampu menerima keadaan dengan hati yang ikhlas cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah. Dengan demikian, proses penyembuhan menjadi lebih efektif. Hati yang tenang akan mengarahkan pikiran pada langkah-langkah positif, seperti berobat dengan teratur tanpa kepanikan. Sebaliknya, rasa tidak terima dan kepanikan hanya akan memperparah kondisi fisik dan mental seseorang.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216). Ayat ini mengajarkan kita untuk selalu rida terhadap ketetapan Allah karena Dia lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
Ridha dalam Setiap Takdir
Rida bukan hanya soal menerima sakit, tetapi juga tentang kesiapan hati menghadapi segala takdir Allah di masa depan. Masa depan adalah misteri yang penuh dengan ketidakpastian. Namun, bagi orang yang memiliki sifat rida, apa pun yang terjadi sudah diterima dengan hati yang lapang. Mereka yakin bahwa di balik setiap takdir Allah, tidak ada sedikit pun kezaliman. Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana.
Sifat rida inilah yang membawa kebahagiaan sejati. Orang yang rida adalah mereka yang tidak mudah terbebani oleh pikiran-pikiran negatif. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki banyak anak tidak perlu merasa tertekan dengan kekhawatiran berlebihan tentang biaya pendidikan mereka di masa depan. Sebab, rezeki setiap anak sudah ditentukan oleh Allah bahkan sebelum mereka dilahirkan. Kekhawatiran berlebihan hanya akan menjadi beban pikiran yang tidak perlu.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: *"Seandainya engkau bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya engkau akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang."* (HR. Tirmidzi). Hadis ini mengingatkan bahwa tawakal dan rida kepada Allah akan mendatangkan rezeki dan ketenangan dalam kehidupan.
Belajar Menumbuhkan Sifat Ridha
Oleh karena itu, marilah kita belajar menumbuhkan sifat rida dalam hati. Rida terhadap takdir Allah, baik yang menimpa diri sendiri, keluarga, pekerjaan, maupun lingkungan sekitar. Dengan keyakinan penuh bahwa takdir Allah selalu membawa kebaikan dan keadilan, kita akan mampu menjalani hidup dengan lebih tenang dan bahagia.
Sungguh, rida adalah obat bagi jiwa dan penyembuh bagi hati. Dengan rida, seseorang siap menghadapi apa pun yang Allah takdirkan, baik suka maupun duka. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Betapa menakjubkan urusan orang mukmin, karena segala urusannya adalah baik. Jika dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur; maka itu baik baginya. Dan jika dia ditimpa musibah, dia bersabar; maka itu baik baginya.” (HR. Muslim).
Potongan Kajian Syekh Akbar Muhammad Fathurahman M.Ag
Masjid Agung Trans Studio Bandung