Memahami Lailatul Qadar Sebagai Peristiwa Ruhani

MK IDRISIYYAH • 23 Maret 2025

Memahami Lailatul Qadar Sebagai Peristiwa Ruhani

Lailatul Qadar adalah malam penuh kemuliaan, sebuah peristiwa gaib yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera. Keberadaannya hanya dapat dirasakan melalui kepekaan batin dan kedalaman spiritual. Meraih esensi Lailatul Qadar bukanlah hal yang mudah dan umum, melainkan anugerah khusus yang diberikan kepada mereka yang memiliki kedekatan istimewa dengan Allah SWT.


Meragukan keberadaan Lailatul Qadar dapat dianalogikan dengan meragukan Al-Qur'an sebagai wahyu Ilahi. Lailatul Qadar adalah sebuah kebenaran hakiki, fenomena ruhani yang telah ditetapkan dan akan terus berlangsung hingga hari kiamat. Dalam Al-Qur'an, Lailatul Qadar disebut sebagai anugerah besar yang mendorong orang beriman untuk mencarinya. Rasulullah SAW sendiri menganjurkan umatnya untuk mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.


Polemik seputar penentuan waktu pasti Lailatul Qadar tidak akan pernah menemukan titik akhir jika hanya mengandalkan ilmu lahiriah. Perbedaan persepsi antara mereka yang memiliki kepekaan terhadap alam gaib dan yang tidak, ibarat perbedaan antara air dan minyak dalam satu wadah—terlihat menyatu tetapi sejatinya tetap terpisah. Lailatul Qadar, sebagaimana fenomena gaib lainnya seperti kedatangan Imam Mahdi di akhir zaman, hanya dapat dipahami dan dirasakan melalui pendekatan ruhani. Mereka yang tidak memiliki kepekaan batin hanya akan meraba-raba dalam kegelapan, sementara mereka yang memiliki "mata hati" akan melihatnya dengan jelas, bukan sekadar berdasarkan cerita, tetapi melalui pengalaman langsung.


Orang yang tidak memahami tanda-tanda Lailatul Qadar diibaratkan seperti orang buta yang membutuhkan pemandu. Lebih dari sekadar mengetahui tanda-tandanya, mengisi malam Lailatul Qadar dengan amalan yang benar juga membutuhkan bimbingan. Pemandu bagi orang buta ini bisa berupa "tongkat" (buku atau petunjuk tertulis) atau "manusia yang hidup" (Mursyid Hakiki). Orang yang tidak dapat melihat harus berserah diri sepenuhnya kepada orang yang dapat melihat, karena keselamatan dan kebahagiaan ruhani hanya dapat dicapai melalui penyerahan diri kepada orang pilihan.


Dalam perjalanan spiritual ini, petunjuk dari mereka yang telah mencapai pemahaman ruhani sangatlah penting. Tanpa bimbingan yang tepat, seseorang dapat tersesat dalam labirin spiritualitas. Oleh karena itu, bagi mereka yang masih buta mata hatinya, berserah diri kepada sosok Mursyid Hakiki adalah pilihan bijak agar terhindar dari kesesatan dan hal-hal yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.