Keteladanan Syekh Al-Mahdi dalam Bekerja

MK IDRISIYYAH • 17 Juli 2025

Keteladanan Syekh Al-Mahdi dalam Bekerja

Sidi Ahmad al-Syarif pernah bercerita kepada Amir Syakib Arsalan: “Syekh Al-Mahdi memiliki lima puluh unta khusus miliknya sendiri. Ia sendiri yang membersihkan dan merawatnya—tidak membiarkan seorang pun dari ratusan muridnya melakukannya. Hal itu sengaja dilakukannya agar orang-orang mencontohnya dan memahami pentingnya persiapan jihad serta kelengkapan peralatan perang.”


Setiap hari Jumat, Syekh Al-Mahdi mengadakan pelatihan militer. Kegiatan seperti pacuan kuda, latihan memanah, dan sejenisnya dilaksanakan dengan serius. Beliau duduk di tempat tinggi sementara para kesatria berbaris dalam dua kelompok. Mereka mulai berpacu dan tak berhenti hingga sore hari. Kadang-kadang mereka juga melakukan latihan menembak sasaran.


Para penuntut ilmu dan murid-murid di bawah bimbingannya dikenal sebagai kesatria dan pemanah andal karena seringnya mereka berlatih. Mereka yang menang dalam pacuan atau memiliki akurasi tinggi dalam memanah akan diberi hadiah berharga sebagai bentuk motivasi.


Hari Kamis setiap pekan dikhususkan untuk kerja tangan. Pada hari itu, semua pelajaran ditinggalkan dan digantikan dengan kegiatan praktis—seperti membangun, berdagang, menyolok sepatu, menenun, mencetak, dan lain-lain. Tak seorang pun terlihat menganggur; semua tampak bekerja dengan tangannya masing-masing. Bahkan Sayid Al-Mahdi sendiri turut bekerja tanpa canggung, sehingga semangat kerja menyebar ke seluruh penjuru.


Sayid Al-Mahdi dan ayahnya sangat serius dalam bidang pertanian dan penanaman pohon. Hal ini tampak dari zawiyah-zawiyah yang mereka bangun, lengkap dengan taman-taman di sekelilingnya. Setiap zawiyah selalu memiliki satu atau dua kebun. Mereka bahkan mendatangkan berbagai jenis pohon dari negeri-negeri jauh ke Kufra dan Jaghbub—tanaman-tanaman yang sebelumnya belum pernah dikenal di wilayah tersebut.


Suatu kali, beberapa murid meminta Syekh Muhammad al-Sanusi untuk mengajarkan ilmu kimia. Ia menjawab:


“Kimia ada di bawah mata bajak.”

Maksudnya, ilmu sejati terdapat dalam kerja nyata, seperti pertanian, bukan hanya teori semata. Ia juga pernah berkata:


“Kimia adalah debu-debu pekerjaan dan keringat di dahi.”

Beliau mendorong para murid dan pengikutnya agar tekun dalam berbagai profesi keterampilan dan kerajinan tangan. Ia juga menghibur mereka agar tidak merendahkan profesi tersebut atau merasa lebih rendah dari para ulama. Beliau berkata:


“Cukuplah bagimu dalam agama ini untuk berpegang pada niat baik dan menunaikan kewajiban syariat. Orang lain tidak lebih mulia darimu.”


Bahkan, terkadang beliau turun langsung dan menyatu dengan para pekerja. Sambil bekerja bersama mereka, beliau berkata:


“Para penggemar kertas-kertas (teori) dan ahli pidato menyangka mereka akan mendahului kami di sisi Allah. Tidak! Demi Allah, mereka tidak akan pernah mendahului kami!”