Keterbelakangan Politik: Penyebab Umat Terjebak di Panggung Marginal
MK IDRISIYYAH • 20 Agustus 2025
Di tengah gemuruh ritual keagamaan dan kajian Islam, ada satu pilar peradaban Islam yang nyaris runtuh: politik. Umat Islam hari ini ibarat pasukan yang sibuk mengasah pedang, tetapi lupa bahwa medan pertempuran telah direbut musuh. Padahal, Nabi Muhammad Saw tidak hanya mewariskan shalat dan puasa, tetapi juga teladan membangun negara Madinah yang berdaulat.
Lantas, mengapa kita justru terbelakang dalam ranah yang menentukan nasib umat ini?
Umat Islam sibuk mengejar kesalehan individual—menghafal kitab, berdebat madzhab, berkhalwat—tetapi lupa bahwa Rasulullah Saw setelah menerima wahyu di Gua Hira, justru turun ke medan dakwah sosial-politik. Beliau tidak kembali menyepi. Inilah kesalahan fatal: memisahkan spiritualitas dari kewajiban membangun peradaban.
Realitas Umat Saat Ini
- Mahasiswa menghabiskan tahunan di kampus mempelajari teori agama.
- Santri menghabiskan masa muda di pesantren meneliti perbedaan madzhab.
- Ulama sibuk berselisih soal hukum atau aturan syariat.
Padahal, Allah berfirman:
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi." (QS. Al-Anfal: 60)
Kekuatan terbesar umat ada pada politik dan kepemimpinan (imamah), bukan pada debat furuiyyah. Namun, energi umat terkuras pada hal-hal sekunder, sementara pilarnya—politik—dilupakan.
Akibat yang Terjadi
Kini umat Islam hanya diberi “kavling” kecil dalam peta kekuasaan:
- Kementerian Agama seolah “jatah” NU.
- Kementerian Pendidikan dianggap “hak” Muhammadiyah.
- Sementara APBN triliunan rupiah, kebijakan strategis, dan arah negara dikendalikan pihak di luar umat Islam.
Padahal, suara yang mengangkat pemimpin berasal dari umat Islam sendiri! Kita terjebak dalam mentalitas buruh, bukan pemilik proyek. Organisasi besar seperti NU dan Muhammadiyah pun rela “menyembah-nyembah” demi kursi menteri, bukan memperebutkan kursi presiden.
“Betapa kita cemburu melihat anggaran negara dikelola serampangan, tapi tak punya kuasa untuk mengubahnya.”
Fikih yang seharusnya solutif berubah menjadi menara gading—berjilid-jilid kitab membahas hal yang tak menyentuh masalah rakyat: pengangguran, judi, korupsi, dan sebagainya. Ilmu agama yang seharusnya memandu peradaban justru sering menjadi pelarian dari tanggung jawab politik.
Solusi Menghadapi Keterbelakangan Politik
1. Stop Fanatisme Madzhab, Bangun Persatuan
Imam Sanusi dalam Iqazhul Wasnan mengingatkan: ta’assub (fanatisme buta) pada satu madzhab sama dengan mengecilkan agama. Padahal, empat imam madzhab saling berguru dan menghormati perbedaan. Saatnya kita belajar dari semangat mereka: bersatu di atas tujuan besar, bukan terpecah di detail kecil.
2. Politik adalah Fardhu Kifayah yang Terlupakan
Membangun peradaban wajib dimulai dari menguasai politik:
- Mengontrol anggaran negara untuk membangun pesantren dan sekolah tanpa mengemis proposal.
- Mengendalikan kebijakan agar syariat tidak sekadar menjadi ritual marginal.
- Menyatukan kekuatan NU, Muhammadiyah, dan ormas Islam untuk mengusung pemimpin yang menguasai siyasah syar’iyyah.
"Jika umat Islam bersatu, presiden akan datang pada kita, bukan kita yang memohon pada mereka."
3. Kembali ke Esensi: Agama untuk Memimpin Peradaban
Al-Qur’an menegaskan:
"Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia: menyuruh yang ma’ruf, mencegah yang mungkar." (QS. Ali Imran: 110)
Keterbelakangan umat Islam dalam politik bukanlah takdir. Ia adalah buah dari prioritas yang keliru dan fragmentasi kekuatan. Saatnya beralih:
- Kurangi debat fikih yang tidak produktif.
- Alihkan energi ke pembangunan kekuatan politik.
- Satukan visi: kuasai kepemimpinan nasional.
Seperti pesan Syekh Akbar:
"Agama tak akan tegak tanpa kepemimpinan. Jika imamah tak berdiri, syariat hanya jadi hiasan.”
Ini bukan hanya tentang amar ma’ruf dalam majelis taklim, tetapi tentang memimpin negara untuk menegakkan keadilan. Nabi Yusuf As bukan hanya ahli tafsir mimpi, ia menjadi menteri perekonomian yang menyelamatkan Mesir dari krisis.
Umat Islam harus bangkit dari keterlenaan. Politik bukan najis, tapi medan jihad peradaban. Saatnya merebut kembali tongkat estafet kepemimpinan yang diwariskan Rasulullah Saw.
Hanya dengan itu, Islam akan kembali menjadi rahmatan lil ‘alamin, bukan sekadar ritual di pinggiran sejarah.
"Mereka yang meninggalkan politik akan dihukum oleh politik yang buruk." – Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA.