Tragedi Si Murid “Kacing Calang”
MK IDRISIYYAH • 02 Desember 2025
Proses pendidikan ruhani sering diibaratkan seperti proses pengeraman telur oleh induk ayam. Seorang guru, dengan penuh kasih sayang dan kesabaran, memberikan “kehangatan” berupa ilmu, hikmah, dan tarbiyah (pendidikan) kepada murid-muridnya. Harapannya satu: agar cangkang kejahilan pecah dan lahir sosok baru yang hidup hatinya.
Namun, tidak semua telur yang dierami akan menetas. Di sinilah kisah sedih seorang murid “Kacing Calang” bermula.
Secara lahiriah, murid ini tampak sama seperti yang lain. Ia duduk di tempat yang sama, shalat bersama, mengaji bersama, berdzikir bersama, dan menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam asuhan sang guru. Dari luar, cangkangnya tampak utuh, putih, dan meyakinkan. Orang awam mungkin melihatnya sebagai “telur” yang memiliki potensi besar.
Akan tetapi, waktu adalah penguji yang paling jujur. Ketika murid-murid lain mulai menyerap kehangatan tarbiyah, membiarkan cahaya ilmu menembus kalbu, dan perlahan mengalami transformasi batin, murid ini justru sebaliknya.
Alih-alih hatinya semakin bercahaya dan lembut, ia justru semakin gelap dan keras. Kehangatan sang guru tidak membuatnya “matang” atau “hidup”, melainkan memicu pembusukan di dalam dirinya. Bisa jadi hal itu disebabkan oleh kesombongan yang tersembunyi, keraguan yang terus dipelihara, atau rasa merasa paling pintar yang menutup pintu penerimaan.
Setiap hari ia berada di sumber cahaya, namun setiap hari pula hijab (penghalang) di hatinya semakin tebal. Ia seperti telur yang menolak kehidupan. Proses internal yang terjadi bukanlah pembentukan organ-organ spiritual yang sehat, melainkan pembusukan niat dan akhlak.
Hingga tibalah masa “menetas”, yakni saat pembuktian di ujung perjalanan. Teman-temannya telah pecah cangkangnya, lahir sebagai “anak ayam” yang hidup, lincah, dan siap tumbuh menjadi penerus yang kuat secara ruhani. Mereka berhasil menyerap tarbiyah dan mengalami perubahan positif dalam hidupnya.
Sedangkan dirinya tetap menjadi telur. Namun, tragedi sesungguhnya bukan hanya karena ia gagal menetas. Tragedinya adalah karena keadaannya telah menjadi “Kacing Calang” — telur yang busuk.
Ia berada dalam posisi yang paling tidak berguna. Ia gagal lahir ke dalam kehidupan baru. Ia tidak bisa menjadi “anak ayam” (murid yang berhasil) karena tidak ada kehidupan ruhani yang terbentuk di dalam dirinya. Ia pun tidak bisa kembali menjadi telur biasa. Seandainya ia pergi lebih awal, mungkin ia masih bisa dimanfaatkan. Namun kini, isinya telah keruh, mencair, dan berbau busuk.
Ia tidak layak dipelihara, dan tidak layak pula dikonsumsi. Keberadaannya hanya menjadi limbah yang harus disingkirkan, karena bau busuknya dapat mengganggu lingkungan di sekitarnya.
Itulah seburuk-buruknya keadaan seorang penuntut ilmu: telah lama berguru, telah tua di perjalanan, namun akhirnya berakhir tanpa makna — tersisih dari manfaat dan terbuang dari rahmat. Semoga kita terhindar dari menjadi murid seperti ini.
(Diadaptasi dari: Ibarat2, Perumpamaan Sufistik yang Mencerdaskan dan Mencerahkan, Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag.)