Pentingnya Keseriusan Beribadah dan Meraih Lailatul Qadar
Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag. • 09 Maret 2026
Kita harus bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah, terutama dalam upaya meraih Lailatul Qadar, yang merupakan anugerah terbesar bagi umat Nabi Muhammad SAW. Malam ini sangat istimewa karena satu malam saja nilainya dapat mengungguli ibadah selama 84 tahun, atau setara dengan 1.000 bulan. Namun, anugerah ini hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar serius dalam beribadah; mereka yang di siang hari berpuasa dengan menjaga pancaindra dan hati, serta di malam hari menghidupkannya dengan shalat Tarawih dan membaca Al-Qur’an hingga khatam.
Pada malam Lailatul Qadar, Malaikat Jibril memimpin para malaikat turun ke bumi untuk menetapkan berbagai urusan dan takdir makhluk selama satu tahun ke depan. Karena itu, pada malam tersebut kita dianjurkan untuk bersungguh-sungguh memohon kepada Allah SWT, berdoa dengan penuh harap agar takdir yang ditetapkan bagi diri kita, keluarga, dan sahabat merupakan keputusan terbaik di sisi-Nya. Dalam hal ini, penting bagi kita untuk terus meningkatkan kebersihan hati dan kekhusyukan dalam beribadah, karena anugerah yang Allah sediakan pada malam tersebut sangatlah besar.
Sebagai perbandingan, pada masa Bani Israil terdapat seorang pemuda yang berperang di siang hari dan melaksanakan qiyamulail pada malam hari selama 1.000 bulan. Namun, umat Nabi Muhammad SAW diberi kemuliaan untuk dapat menyamai bahkan melampaui amal tersebut hanya dalam satu malam, yaitu Lailatul Qadar. Sangat disayangkan apabila keutamaan ini disia-siakan oleh sebagian umat yang menjalankan puasa dan Tarawih sekadar formalitas, tanpa menghadirkan kesadaran akan kehadiran Allah.
Kita patut bersyukur atas bimbingan dan wasilah dari guru serta Mursyid yang membantu kita semakin yakin terhadap janji Allah, sebelum kelak kita berpulang ke alam barzakh.
Oleh karena itu, setiap dari kita perlu bertekad agar Ramadan tahun ini menjadi lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut dapat terlihat dari kualitas puasa, pelaksanaan Tarawih, tilawah Al-Qur’an, maupun iktikaf. Perlu dipahami pula bahwa wasilah kepada Mursyid merupakan wasilah tertinggi yang tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga mengantarkan hati menuju wusul hingga mencapai makrifat kepada-Nya.
Karena peran penting Mursyid inilah, Iblis sangat membenci jalan tersebut dan berusaha merusaknya dengan memprovokasi manusia melalui berbagai argumen yang menyesatkan, seolah-olah berwasilah kepada wali atau Mursyid merupakan perbuatan syirik.
Bagi orang-orang yang telah sampai kepada Allah (minal wasilina), hati mereka akan selalu tenang dan damai dalam keadaan apa pun, baik ketika memiliki banyak harta maupun ketika sedikit. Mereka merasakan bahwa hidupnya selalu berada dalam genggaman Allah SWT.
Selagi Allah masih memberikan kesempatan hidup, janganlah menyia-nyiakan waktu untuk terus menambah bekal ibadah. Sebagai target nyata, usahakan membaca Al-Qur’an minimal satu juz setiap hari. Namun, jangan merasa cukup dengan satu juz saja. Berusahalah untuk dapat mengkhatamkan Al-Qur’an dua hingga tiga kali selama bulan Ramadan.