Perjalanan Laut yang Sarat Makna: Kapal Tradisional dan Modern Mengantar Jama’ah ke Pulau Untung Jawa

KOMINFO IDRISIYYAH • 07 Mei 2025

Perjalanan Laut yang Sarat Makna: Kapal Tradisional dan Modern Mengantar Jama’ah ke Pulau Untung Jawa

Halal Bihalal Zawiyah Utama Jakarta | Pulau Untung Jawa, 4 Mei 2025 – Dalam rangkaian kegiatan Halal Bihalal Tarekat Idrisiyyah yang diselenggarakan di Pulau Untung Jawa, kisah perjalanan menuju pulau tersebut menyimpan cerita yang tak kalah menarik dibandingkan acaranya sendiri. Sebanyak lebih dari 800 jama’ah dari berbagai daerah seperti Tasikmalaya, Cikarang, Karawang, Bandung, dan Jakarta, menyebrangi lautan menggunakan kapal tradisional dan kapal milik Dinas Perhubungan (Dishub) demi mengikuti kegiatan spiritual dan silaturahmi ini.


Dalam proses penyebrangan, panitia memanfaatkan beragam jenis armada laut. Di antaranya KM Bima, sebuah kapal tradisional berkapasitas besar yang mampu mengangkut hingga 215 jama’ah sekali jalan. Karena tingginya jumlah peserta, KM Bima melakukan dua kali penyebrangan, sehingga total mampu membawa 430 jamaah.


Sementara itu, KM Paus 2 dan KM Paus 3, kapal resmi milik Dishub, masing-masing mampu membawa sekitar 80 jama’ah dan juga melakukan dua kali perjalanan, sehingga total mengangkut 320 jama’ah. Selain itu, sejumlah jama’ah yang tidak tercatat secara resmi diketahui menggunakan kapal kecil dari Pelabuhan Tanjung Pasir, menambah dinamika perjalanan yang penuh semangat tersebut.


Penggunaan beragam jenis kapal ini dilatarbelakangi oleh:

1. Terbatasnya armada resmi Dishub yang tersedia pada hari pelaksanaan

2. Tingginya antusiasme jamaah yang melebihi kapasitas awal

3. Kapal Bima sebagai solusi alternatif yang dinilai aman dan berpengalaman dalam rute Muara Angke–Pulau Untung Jawa.


Pesan Bermakna dari Syekh Akbar, Tentang Ketepatan dan Ketulusan

Dalam kajian subuh di Pulau Untung Jawa, Syekh Akbar Fathurahman menyampaikan pesan reflektif terkait pengalaman perjalanan jamaah. Dengan gaya khasnya yang ringan namun dalam makna, beliau berkata:


“Seandainya halal bihalal ini enggak dihalangi oleh laut, pasti akan membludak. Tapi karena kuota kapal terbatas, hanya yang cepat dan tepat waktu yang bisa ikut. Untung yang datang, apalagi yang daftar duluan. Alhamdulillah, sebagian besar bahkan dapat kuota gratis dari Pak Walikota. Tapi yang belakangan, harus naik perahu yang kata orang kayak perahu Rohingya... Tapi tetap bahagia, karena sampai juga ke taman surga ini."


Candaan tersebut mengundang tawa hangat dari jamaah, namun menyimpan makna mendalam: kemuliaan perjalanan bukan ditentukan oleh kapal yang dinaiki, tetapi oleh niat dan tujuan yang mengarah kepada Allah.


Syekh Akbar juga menambahkan

“Jangan lihat perahunya, tapi lihat siapa yang menyampaikan kita ke tempat ini. Kita sampai di majelis zikir, taman surga di bumi, dan di tempat ini para malaikat pun hadir untuk mengaminkan doa-doa kita.”


Perjalanan Ini Meneguhkan Nilai Kesabaran dan Keikhlasan

Perjalanan dengan kapal, baik yang besar maupun kecil, menjadi simbol akan keberagaman sarana namun kesatuan tujuan. Bagi sebagian jama’ah, kenyamanan kapal Dishub dengan kursi empuk dan fasilitas memadai adalah bonus. Namun bagi yang naik kapal tradisional, perjalanan tetap disyukuri sebagai bentuk perjuangan menjemput keberkahan.


Dalam konteks tasawuf, pengalaman ini mencerminkan ajaran i’rodh ‘anil kholqi dan al Ridha ‘anillah—yaitu berpaling dari kebergantungan pada manusia dan belajar ridho terhadap ketetapan Allah, bahkan dalam urusan transportasi dan kenyamanan.


Perjalanan menuju Pulau Untung Jawa bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang sarat makna. Baik dengan kapal tradisional maupun kapal modern, seluruh jama’ah yang hadir telah melewati ujian kesabaran, komitmen, dan niat ikhlas demi berkumpul dalam majelis ilmu dan zikir.