Kitab Tasawuf lil Hayah dan Risalah Muhimmah Jadi Cenderamata di Penutupan Kota Sufi 3.0 Sabah

KOMINFO IDRISIYYAH • 25 Agustus 2025

Kitab Tasawuf lil Hayah dan Risalah Muhimmah Jadi Cenderamata di Penutupan Kota Sufi 3.0 Sabah

Tarekat Idrisiyyah | Kota Kinabalu, 24 Agustus 2025 – Malam penutupan Kota Sufi Se-Nusantara 3.0 berlangsung khidmat di Masjid Bandaraya Kota Kinabalu, Sabah. Acara yang menjadi puncak dari rangkaian kegiatan selama empat hari ini dihadiri oleh tokoh-tokoh sufi, ulama, pejabat negara, serta ratusan jamaah dari berbagai negara.


Sesi penutupan diawali dengan sambutan para tokoh, di antaranya YBhg Dato’ Dr. Muhammad Afifi al-Akiti (Felo Pusat Pengajian Islam Universiti Oxford, England), Prof. Emeritus Dato’ Dr. Habib Muhammad Aqiel bin Ali al-Mahdaly (Mudir Darul Ghazaly Liddirasah Wal Buhuts Al-Islamiyah Wal Arabiyah), serta SS Datuk Ustaz Haji Bungsu Aziz bin Haji Jaafar (Mufti Negeri Sabah). Usai penyampaian sambutan, makakegiatan dilanjutkan dengan dibacakan resolusi Kota Sufi yang menegaskan komitmen ulama sufi Nusantara untuk memperkuat tasawuf sejati sebagai manhaj islah dan peradaban insani.


Momen penting terjadi ketika dilakukan prosesi penyerahan cenderamata dari Mufti Sabah kepada YB Datuk Dr. Haji Mohd. Arifin bin Datuk Haji Mohd. Arif, JP, Menteri Sains, Teknologi, dan Inovasi Sabah. Sebagai bentuk penghargaan, Mufti memilih kitab karya Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, Mursyid Tarekat Idrisiyyah Indonesia, untuk dijadikan cenderamata resmi. Dua karya beliau yang dipersembahkan adalah Tasawuf lil Hayah dan Risalah Muhimmah.


Dalam prosesi penyerahan, Mufti meminta Syekh Akbar sendiri yang maju menyerahkan kitab-kitab tersebut, sekaligus memperkenalkan bahwa beliau adalah pengarangnya. Momen ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan, tetapi juga pengakuan atas kontribusi ulama tasawuf Nusantara dalam menjawab tantangan zaman melalui manhaj ruhani yang sahih.


Keterlibatan Syekh Akbar di Kota Sufi 3.0 juga memiliki makna strategis karena beliau hadir bukan hanya sebagai Mursyid Tarekat Idrisiyyah, tetapi juga Rais Idarah Aliyyah JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah) Indonesia serta Ketua Perwakilan Indonesia Rabithah Masyaikh Sufiah Nusantara. Dengan posisi ini, kehadiran beliau mewakili suara tarekat mu’tabarah Indonesia dalam forum internasional, sekaligus memperkuat jaringan persaudaraan sufi di kawasan Asia Tenggara dan dunia Islam.


Kitab Tasawuf lil Hayah dikenal sebagai karya yang menguraikan relevansi tasawuf dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan Risalah Muhimmah menekankan pentingnya bimbingan mursyid dan kedudukan tarekat dalam mendidik jiwa. Dengan dijadikannya karya-karya ini sebagai cenderamata resmi, tersampaikan pesan kuat bahwa tasawuf bukan sekadar ajaran moral, melainkan fondasi peradaban insani yang perlu terus diwariskan lintas generasi.