Kegiatan Ruhaniyah Warnai Kongres VI DEMA AMALI Nasional 2025 di Ma’had Aly Idrisiyyah
KOMINFO IDRISIYYAH • 12 September 2025
Mahad Aly Idrisiyyah | Tasikmalaya, 11 September 2025 – Kongres VI DEMA AMALI Nasional 2025 di Ma’had Aly Idrisiyyah tidak hanya menghadirkan agenda akademik dan organisasi, tetapi juga memperkuat dimensi ruhaniyah mahasantri. Hal ini menjadi ciri khas sekaligus pembeda yang menegaskan bahwa gerakan mahasantri selalu berpijak pada nilai-nilai spiritual Islam.
Ziarah yang dipimpin oleh M. Ardi Romadon, Mahasantri semester 5 Prodi Tasawuf dan Tarekat Ma’had Aly Idrisiyyah, berlangsung dalam suasana penuh khidmat. Para peserta mendoakan para ulama pendahulu yang telah mewariskan ilmu dan keteladanan, sembari menumbuhkan rasa syukur dan semangat ukhuwah di antara mahasantri dari berbagai Ma’had Aly se-Indonesia.
Momen ini menjadi sarana memperkuat hubungan spiritual sekaligus meneladani perjuangan ulama terdahulu. Diharapkan, kegiatan ziarah membawa keberkahan serta menguatkan tekad para peserta untuk terus menebarkan nilai iman, ilmu, dan amal dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa
Dzikir Makhsus Bersama Syekh Akbar
Rangkaian ruhaniyah kongres dilanjutkan dengan dzikir makhsus yang dipimpin langsung oleh Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag. Dalam ceramahnya, Syekh Akbar membahas tentang pengertian tarekat dengan merujuk pada kitab Tasawuf lil Hayah.
Beliau mengutip pandangan Imam Qusyairi:
“Semua tarekat tertolak, kecuali tarekat yang mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.”
Syekh Akbar menjelaskan bahwa di Indonesia dikenal istilah thariqah mu’tabarah (yang diakui) dan ghoir mu’tabarah (yang tidak diakui), perbedaannya terletak pada apakah sesuai atau tidak dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
Lebih lanjut, beliau menukil ucapan ulama besar, Syekh Abul Qosim Junaid al-Baghdadi, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam As-Sya’rani:
“Thariqatuna musayyadatun bil Kitabi was Sunnah, wamaghniyatun ‘ala sulukil akhlaqil anbiya wal mursalin”
(Jalan kami dibentengi oleh Al-Qur’an dan Sunnah, serta ditempuh melalui akhlak para nabi dan orang-orang saleh).
Syekh Akbar menegaskan bahwa timbangan untuk menilai thariqah mu’tabarah maupun ghoir mu’tabarah adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Jika seorang ustadz atau penempuh jalan spiritual tidak memahami hal ini, maka akan mudah terjebak, sebab dalam dunia tasawuf terdapat banyak ujian dan jebakan yang harus disikapi dengan ilmu dan bimbingan mursyid.
Simak juga berita lainnya pada link berikut » Seminar Nasional Mahasantri sebagai Motor Perubahan Menuju Indonesia Emas 2045 - Tarekat Idrisiyyah
Dzikir makhsus ini menjadi peneguhan bahwa kepemimpinan dan perjuangan mahasantri dalam organisasi tidak bisa dilepaskan dari pondasi spiritual yang kokoh, berlandaskan syariat dan berakar pada warisan para ulama tasawuf yang mu’tabar.