Ribuan Jamaah Padati Sari Ater Campervan, Syekh Akbar Ajak Awali Tahun Baru Hijriah dengan Muhasabah
KOMINFO IDRISIYYAH • 28 Juli 2026
Tarekat Idrisiyyah | Subang 25 Juli 2026 – Ribuan jamaah dari berbagai daerah memadati kawasan Sari Ater Campervan, Ciater, Kabupaten Subang, dalam rangka mengikuti Malam Muhasabah Muharram (M3) 4.0 yang diselenggarakan oleh Tarekat Idrisiyyah pada Sabtu–Ahad (25–26 Juli 2026). Mengusung semangat mengawali tahun baru Hijriah dengan memperkuat hubungan kepada Allah SWT, rangkaian kegiatan diisi dengan dzikir, shalat berjamaah, tahajud, muhasabah, hingga tausiyah yang disampaikan oleh Syekh Akbar Muhammad Fathurahman.
Dalam tausiyahnya, Syekh Akbar mengajak seluruh jamaah menjadikan pergantian tahun Hijriah sebagai momentum untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Menurut beliau, muhasabah pertama dimulai dengan mengenal hakikat diri, yaitu memahami bahwa manusia terdiri dari unsur jasmani dan ruhani. Kesadaran terhadap dua dimensi tersebut menjadi landasan agar seseorang tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memperhatikan kebutuhan ruhani melalui kedekatan kepada Allah SWT.
Muhasabah kedua adalah menyadari hakikat tugas manusia sebagai hamba Allah, yaitu beribadah kepada-Nya. Syekh Akbar mengingatkan bahwa seluruh aktivitas kehidupan semestinya bermuara pada penghambaan kepada Allah, sehingga setiap langkah dan amal yang dilakukan memiliki orientasi ibadah.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa banyaknya ibadah bukan jaminan diterima di sisi Allah SWT. Menurutnya, seseorang perlu melihat apakah ibadah yang dilakukan benar-benar menghadirkan buah dalam kehidupannya, seperti bertambahnya keikhlasan, akhlak yang semakin baik, hati yang semakin tenang, serta semakin kuatnya ketaatan kepada Allah. Muhasabah tidak berhenti pada banyaknya amal, tetapi juga pada perubahan yang dihasilkan dari amal tersebut.
Pada muhasabah keempat, Syekh Akbar mengingatkan agar setiap muslim tidak merasa aman dengan amal ibadah yang telah dikerjakan. Mengutip kitab Minhajul 'Abidin karya Imam Al-Ghazali, beliau menjelaskan bahwa terdapat berbagai hal yang dapat menjadi perusak ibadah, sehingga seseorang tidak boleh merasa telah selesai hanya karena telah banyak beramal. "Sebelum datangnya kematian, posisi ibadah kita belum tentu aman. Karena itu, teruslah menjaga keikhlasan, memperbaiki diri, dan memohon kepada Allah agar setiap amal diterima," pesannya di hadapan ribuan jamaah.
Rangkaian M3 4.0 menjadi momentum bagi para jamaah untuk mengawali tahun baru Hijriah dengan memperbanyak dzikir, mempererat ukhuwah, serta melakukan muhasabah sebagai bekal memperbaiki kualitas kehidupan dan ibadah. Semangat tersebut diharapkan terus terjaga setelah para jamaah kembali ke daerah masing-masing, sehingga nilai-nilai yang diperoleh selama M3 dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.