Silaturahmi dengan Prof. Damanhuri Basyir, Syekh Akbar Lanjutkan Safari Dakwah ke Dayah Jabal Nur dan Memberikan Talqin kepada 500 Jamaah

KOMINFO IDRISIYYAH • 11 Agustus 2026

Silaturahmi dengan Prof. Damanhuri Basyir, Syekh Akbar Lanjutkan Safari Dakwah ke Dayah Jabal Nur dan Memberikan Talqin kepada 500 Jamaah

Tarekat Idrisiyyah | Aceh, 9 Agustus 2026 - Syekh Akbar Muhammad Fathurahman bersama rombongan bersilaturahmi dengan Prof. Dr. Damanhuri Basyir, M.A. sebelum melanjutkan perjalanan menuju Dayah Jabal Nur. Pertemuan tersebut ini Prof. Damanhuri menunjukkan ketertarikan terhadap konsep tasawuf yang disampaikan Syekh Akbar, termasuk pengakuannya terhadap kemursyidan Syekh Akbar berdasarkan pendekatan keilmuan yang dimilikinya.


Kedekatan keilmuan itu juga terlihat dari adanya keinginan Prof. Damanhuri agar Syekh Akbar kembali berkunjung ke tempat beliau. Prof. Damanhuri sendiri dikenal aktif dalam pembinaan keagamaan dan memiliki asrama Zawiyah, yang menjadi tempat majelis dan pembinaan bagi masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, Syelh Fathurahman turut memberikan motivasi kepada para jamaah selama kurang lebih 10–15 menit, mengingatkan mereka untuk terus meningkatkan semangat dalam beribadah.


Dari Banda Aceh, perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Dayah Jabal Nur yang berada di Seunong, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Perjalanan menuju lokasi ditempuh sekitar tiga jam. Dayah Jabal Nur yang dipimpin Teungku Mawardi tersebut memang telah dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Syekh Akbar dalam sebuah majelis yang mempertemukan jamaah dan pengamal Tarekat Naqsyabandiyah dengan Mursyid Tarekat Idrisiyyah.


Sekitar 500 jamaah hadir dalam majelis tersebut. Rangkaian kegiatan diawali dengan wirid, kemudian dilanjutkan kajian yang disampaikan Syekh Akbar. Atas permintaan pihak dayah dan jamaah, rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan talqin zikir, sebagai bagian dari keinginan jamaah untuk memperoleh bimbingan ruhani dari Syekh Akbar.

Dalam kajiannya, Syekh Akbar mengangkat tema tentang buah ibadah yang dapat dirasakan di dunia sebagai tanda diterimanya ibadah di akhirat. Menurut beliau, ibadah yang benar tidak hanya menghadirkan harapan terhadap pahala di kemudian hari, tetapi juga semestinya melahirkan ketenangan dalam hati.

“Barang siapa yang sudah menemukan buah ibadah di dunia... itu diumpamakan seperti orang yang sudah megang kunci surga.”


Syekh Akbar kemudian mengaitkan ketenangan tersebut dengan proses tazkiyatun nafs, yaitu membersihkan dan mendidik jiwa. Ia menjelaskan tingkatan-tingkatan nafsu manusia, mulai dari nafs ammarah hingga nafs kamilah, sebagai bagian dari proses seorang hamba dalam mengenali, mengendalikan, dan menundukkan dorongan-dorongan dalam dirinya.


Di tengah pembahasan tersebut, zikir ditempatkan sebagai bagian penting dalam perjalanan penyucian jiwa. Mengutip firman Allah, Syekh Akbar mengingatkan bahwa ketenangan hati berkaitan erat dengan mengingat Allah.

“Ala bizikrillahi tatmainnul qulub. Ketahuilah dengan zikir hati kepada Allah, ingat kepada Allah sang penguasa alam semesta, tentram hati kita.”


Bagi Syekh Akbar, zikir bukan hanya aktivitas lisan, tetapi menjadi nutrisi bagi hati untuk membersihkan berbagai penyakit batin seperti hasad, riya, dan kecintaan berlebihan kepada dunia. Karena itu, ia mengingatkan agar hati dikosongkan dari berbagai keterikatan yang menghalangi hadirnya cahaya dan ketenangan dari Allah.

“Kosongkan hatimu dari semua dunia, semua urusan manusia, urusan kehidupan dunia. Allah penuhi hati kita dengan cahaya dan rahasia-rahasianya.”


Majelis di Dayah Jabal Nur juga memiliki makna tersendiri dalam konteks hubungan antartarekat di Aceh. Meskipun mayoritas masyarakat tarekat di Aceh berada dalam tradisi Naqsyabandiyah, pertemuan tersebut justru berlangsung dalam semangat saling membuka ruang dan merangkul. Syekh Akbar menekankan bahwa keterikatan kepada satu jalan tarekat tidak semestinya membuat seseorang bersikap eksklusif terhadap tarekat lainnya.


Sikap tersebut juga tercermin dari Teungku Mawardi yang secara pribadi telah menyatakan ikrar kepada Syekh Akbar, namun dalam praktiknya tetap ingin merangkul dan menjalin hubungan dengan tarekat-tarekat lainnya. Sikap ini dipandang sejalan dengan pesan Syekh Akbar bahwa para pengamal tarekat dapat tetap berjalan dalam jalurnya masing-masing, sekaligus membangun kolaborasi dalam nilai-nilai dasar tasawuf.


Dengan demikian, kunjungan ke Dayah Jabal Nur bukan hanya menjadi agenda pengajian dan talqin zikir. Ia menjadi ruang perjumpaan antara tradisi keilmuan, pembinaan ruhani, dan ukhuwah antarpengamal tarekat. Di tengah perbedaan jalur dan tradisi, Syekh Akbar mengajak agar perhatian diarahkan kepada tujuan yang lebih mendasar: membersihkan hati, memperkuat ibadah, dan bersama-sama mendekat kepada Allah SWT.


Safari Dakwah di Aceh pun kembali menunjukkan bahwa perjalanan dakwah tidak berhenti pada penyampaian ilmu. Ia bergerak melalui silaturahmi, pembinaan murid, talqin zikir, dan upaya mempertemukan hati dalam satu tujuan mencari ketenangan hati dan meraih ridha Allah SWT.