Dari Layar Ponsel hingga Talqin Keluarga: Jejak Dakwah Syekh Akbar yang Menyambung Hati di Aceh
KOMINFO IDRISIYYAH • 15 Agustus 2026
Tarekat Idrisiyyah | Aceh, 9 Agustus 2026 — Tidak ada yang tahu ke mana sebuah pesan akan membawa hati seseorang. Bagi Bapak Adi Sapriadi, perjalanan itu bermula dari sesuatu yang sederhana: menyaksikan kajian Syekh Akbar Muhammad Fathurahman melalui media sosial. Kajian-kajian tersebut menarik perhatiannya hingga ia kerap membagikannya kepada sahabatnya, Bapak Iskandar.
Dari satu kiriman, kajian itu berpindah dari satu hati ke hati yang lain. Bapak Iskandar yang semakin sering menerima kajian Syekh Akbar kemudian turut membagikannya kepada gurunya, Abi Zubair, ulama aceh pengamal Tarekat Naqsyabandiyah yang juga memiliki majelis. Tanpa disadari, rangkaian berbagi kajian tersebut menjadi awal dari perjalanan panjang yang kelak mempertemukan mereka secara langsung dengan Syekh Akbar.
Dari Aceh Mencari Sang Guru
Bapak Iskandar kemudian memiliki tekad untuk bertemu langsung dengan Syekh Akbar, di mana pun beliau berada. Pada awalnya, ia bahkan mengira Syekh Akbar berasal dari Makassar. Namun rasa ingin tahunya membuat pencarian terus dilakukan.
Hingga suatu ketika, istrinya yang berasal dari Tasikmalaya mengetahui bahwa tempat Syekh Akbar berada adalah Pesantren Idrisiyyah di Tasikmalaya. Informasi tersebut membuka jalan baru. Keinginan yang semula hanya berupa rasa penasaran berubah menjadi langkah nyata.
Bapak Iskandar kemudian mengajak Abi Zubair untuk datang ke Tasikmalaya dalam perhelatan Kota Sufi 2.0 di Pesantren Idrisiyyah. Datang dari tanah Rencong bersama dua muridnya, Abi Zubair hadir dalam majelis ilmu dan zikir Syekh Akbar.
Malam itu menjadi pengalaman yang membekas. Sebagai seorang wakil talqin dari sebuah tarekat dan pimpinan Pesantren Darul Arifin Aceh, Abi Zubair memiliki pengalaman dalam mengenali sosok yang layak menjadi pembimbing ruhani. Dari majelis tersebut tumbuh keyakinan dan ketertarikan yang semakin kuat terhadap kemursyidan Syekh Akbar.
Namun hajat untuk mendapatkan talqin belum langsung terwujud. Ketika perjalanan sempat membawanya kembali ke Jakarta, hati Abi Zubair justru berubah. Ia menyampaikan kepada salah seorang asatidz Idrisiyyah bahwa dirinya tidak ingin pulang sebelum mendapatkan kesempatan untuk diterima sebagai murid Syekh Akbar.
Permohonan itu akhirnya mendapat jawaban. Syekh Akbar memberikan kesempatan untuk bertemu kembali pada hari Selasa. Tanpa banyak pertimbangan, Abi Zubair bersama dua orang dari Aceh tersebut kembali menuju Tasikmalaya. Pada Selasa pagi, hajat itu akhirnya terwujud. Abi Zubair mendapatkan talqin zikir dan diterima sebagai murid Syekh Akbar Muhammad Fathurahman.
Perjalanan tersebut kemudian menjadi awal dari hubungan yang lebih dalam. Bapak Iskandar pun mendapatkan talqin zikir dari Syekh Akbar. Apa yang sebelumnya hanya mereka dengarkan melalui media sosial kini berubah menjadi hubungan langsung antara murid dan guru.
Dari Tasikmalaya Kembali ke Aceh
Waktu berlalu. Ketika Safari Dakwah Syekh Akbar kembali hadir di Aceh, rangkaian kisah tersebut menemukan babak berikutnya.
Bapak Adi yang sejak awal mengenal kajian Syekh Akbar melalui media sosial akhirnya dapat bertemu langsung dengan beliau. Setelah mengikuti dan menyimak nasihat-nasihat Syekh Akbar, Bapak Adi kemudian menjadi murid dan mendapatkan talqin zikir.
Perjalanan dakwah itu seakan berputar kembali kepada titik awalnya. Sebuah kajian yang dahulu hanya hadir di layar ponsel kini telah mempertemukan Bapak Adi secara langsung dengan guru yang selama ini ia dengarkan melalui media sosial. Namun kisah itu ternyata belum selesai.
Ketika Dakwah Sampai ke Dalam Rumah
Pada Safari Dakwah terbaru di Aceh, Bapak Adi menyampaikan keinginannya agar Syekh Akbar berkenan berkunjung ke rumahnya. Awalnya, tidak ada agenda untuk melakukan talqin zikir kepada anggota keluarganya.
Namun setelah mendengarkan pencerahan Syekh Akbar, tumbuh keinginan baru dalam hati Bapak Adi. Jika dirinya telah merasakan manfaat bimbingan ruhani, ia ingin agar istri dan anak-anaknya juga mendapatkan kesempatan yang sama.
Malam itu, setelah Syekh Akbar menyelesaikan rangkaian dakwah di Dayah Jabal Nur, perjalanan kembali dilanjutkan menuju rumah Bapak Adi. Sekitar pukul 22.00 WIB, di tengah suasana malam yang tenang, silaturahmi berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Pertemuan tersebut kemudian ditutup dengan talqin zikir kepada istri dan anak-anak Bapak Adi. Tidak ada panggung besar. Tidak ada ribuan jamaah. Tidak ada pengeras suara yang memenuhi halaman. Hanya sebuah keluarga yang berkumpul di rumahnya, seorang guru yang datang setelah menempuh perjalanan panjang, dan hati-hati yang ingin memulai perjalanan ruhani.
Dari Satu Hati ke Hati yang Lain
Kisah ini bermula dari sebuah kajian yang ditonton melalui layar ponsel. Kemudian kajian itu dibagikan kepada seorang sahabat, diteruskan kepada seorang guru, membawa perjalanan dari Aceh menuju Tasikmalaya, mempertemukan seorang murid dengan mursyid, dan akhirnya kembali ke Aceh hingga sampai kepada sebuah keluarga.
Dakwah terkadang tidak selalu dimulai dari sebuah mimbar. Ia bisa bermula dari satu video yang dibagikan, satu nasihat yang didengarkan, atau satu rasa ingin tahu yang kemudian menggerakkan seseorang untuk mencari guru.
Dari Bapak Adi kepada Bapak Iskandar, dari Bapak Iskandar kepada Abi Zubair, dari Aceh menuju Tasikmalaya, kemudian kembali lagi ke Aceh—sebuah rangkaian perjalanan yang memperlihatkan bahwa ketika ilmu dibagikan dengan ketulusan, ia dapat menemukan jalannya sendiri.
Dan pada akhirnya, perjalanan itu bukan hanya tentang bertemu seorang guru. Ia tentang hati yang menemukan jalan untuk kembali kepada Allah.