Bupati Tasikmalaya Hadiri Pembukaan Qini Nasional 163, Syekh Akbar Tekankan Urgensi Pembimbing Ibadah
KOMINFO IDRISIYYAH • 21 Agustus 2026
Tasikmalaya, 20 Agustus 2026 — Qini Nasional 163 resmi dibuka di Pesantren Idrisiyyah, Tasikmalaya, Kamis (20/8) malam. Mengusung tema “Menuju Cahaya”, majelis pembukaan dihadiri Bupati Tasikmalaya Dr. H. Cecep Nurul Yakin, S.Pd., M.A.P., beserta sejumlah tamu undangan dan ribuan jamaah.
Menyambut para tamu dan jamaah Qini Nasional 163, Ustadz Ahmad Rijal Muttaqin menyampaikan sambutan tuan rumah. Ia berharap seluruh peserta yang hadir dapat memperoleh kebaikan dari rangkaian Qini, sejalan dengan tema “Menuju Cahaya” menjadikan momentum ini sebagai perjalanan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membawa cahaya ilmu serta kebaikan dalam kehidupan.
Dalam sambutannya, Bupati Tasikmalaya menyampaikan rasa terima kasih kepada Syekh Akbar Muhammad Fathurahman atas doa, semangat, dan keteladanan yang selama ini diberikan. Ia juga menyebut dirinya sebagai santri Syekh Akbar yang saat ini mendapat amanah untuk mengemban tugas sebagai Bupati Tasikmalaya.
“Saya atas nama pribadi menghaturkan beribu terima kasih untuk Syekh Akbar Fathurrahman yang senantiasa memberikan semangat doa keteladanan untuk kita semua khususnya untuk saya sebagai santri beliau yang ditugaskan saat ini menjadi Bupati di Kabupaten Tasikmalaya melayani lebih dari 2 juta penduduk di Kabupaten Tasikmalaya.”
Ibadah Membutuhkan Pembimbing
Pada kajian pembukaan, Syekh Akbar Muhammad Fathurahman mengangkat tema tentang urgensi memiliki pembimbing dalam ibadah. Mengacu pada Siyarus Salikin karya Syekh Abdus Shamad Al-Palimbani, Syekh Akbar menjelaskan kedudukan seorang mursyid dalam membimbing murid, sebagaimana seorang nabi membimbing umatnya.
Ia mengutip ungkapan dalam kitab tersebut, “As-syaikhu fi qawmihi ka an-nabiyyi fi ummatihi”, yang menggambarkan kedudukan seorang syekh bagi kaumnya atau murid-muridnya dalam proses pembinaan keagamaan.
Menurut Syekh Akbar, keberagamaan yang utuh tidak cukup hanya berhenti pada satu aspek. Tauhid, fikih, dan tasawuf perlu dipelajari secara menyeluruh dengan bimbingan ulama. Karena itu, seorang muslim membutuhkan pembimbing yang dapat mengarahkan perjalanan ibadah dan kehidupan spiritualnya.
“Kalau umat ini tidak punya mursyid, tidak punya pembimbing, tidak punya imam dalam ibadah, tidak akan sempurna ibadahnya. Jadi wajib hukumnya seorang muslim dalam menjalankan agamanya punya pembimbing, punya mursyid, ada ulama yang membimbingnya,” tegas Syekh Akbar.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam pembukaan Qini Nasional 163: perjalanan menuju cahaya bukan hanya tentang mengetahui jalan, tetapi juga tentang memiliki pembimbing yang membantu memastikan langkah tetap berada di jalan yang benar.
Melalui Qini Nasional 163, jamaah diajak menjadikan majelis ilmu sebagai momentum untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, memperkuat amal, dan melanjutkan perjalanan spiritual dengan bimbingan yang tepat.
Qini Nasional 163 — Menuju Cahaya.