The Sufi Hadirkan Nasyid Penuh Makna, Menghidupkan Cinta kepada Allah, Rasulullah, dan Guru di Qini Nasional 163

KOMINFO IDRISIYYAH • 23 Agustus 2026

The Sufi Hadirkan Nasyid Penuh Makna, Menghidupkan Cinta kepada Allah, Rasulullah, dan Guru di Qini Nasional 163

Tasikmalaya, 22 Agustus 2026 — Suasana Qini Nasional 163 semakin semarak pada Sabtu sore melalui penampilan musik The Sufi di panggung utama Pesantren Idrisiyyah. Membawakan sejumlah nasyid dan lantunan shalawat, penampilan tersebut menghadirkan suasana yang hangat dan menyentuh, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Qini yang mengajak jamaah untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kecintaan kepada Allah SWT, Rasulullah dan para guru.


Melalui seni musik dan lantunan nasyid, The Sufi tidak sekadar menghadirkan pertunjukan di tengah rangkaian Qini. Syair-syair yang dibawakan menjadi pengingat bagi jamaah tentang pentingnya menjaga hati agar tetap terhubung dengan Allah, memperbanyak shalawat sebagai wujud kecintaan kepada Rasulullah , serta menghormati dan mengikuti keteladanan para guru. Seni kemudian menjadi medium yang lebih dekat dengan perasaan, menyampaikan pesan-pesan ruhani melalui nada, syair, dan suasana yang menyentuh hati.


Penampilan tersebut menjadi salah satu warna dalam rangkaian Qini Nasional 163 yang mengusung tema “Menuju Cahaya.” Di tengah padatnya agenda kajian dan pembinaan, lantunan nasyid menjadi ruang bagi jamaah untuk sejenak menghayati kembali makna perjalanan ruhani: bahwa menuju cahaya bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan, tetapi juga tentang menumbuhkan cinta yang menggerakkan hati untuk semakin dekat kepada Allah dan mengikuti teladan Rasulullah.


Bagi The Sufi, seni menjadi salah satu jalan untuk menyampaikan pesan kebaikan. Ketika syair mengingatkan kepada Allah, ketika shalawat menghidupkan kecintaan kepada Nabi, dan ketika lantunan mengingatkan kembali jasa para guru, maka musik tidak berhenti sebagai bunyi yang didengar. Ia diharapkan menjadi pesan yang menetap di hati dan mendorong lahirnya perubahan dalam kehidupan.


Penampilan sore itu pun menjadi bagian dari perjalanan Qini Nasional 163—sebuah perjalanan yang mempertemukan ilmu, dzikir, silaturahmi, dan seni dalam satu suasana. Dari lantunan yang terdengar, jamaah diajak kembali mengingat bahwa cinta kepada Allah, Rasulullah, dan guru bukan hanya untuk diucapkan, tetapi untuk dihidupkan dalam akhlak dan pengamalan.