Ketika Bupati Berbicara sebagai Santri, Pesan Bupati Tasikmalaya dari Qini Nasional 163

KOMINFO IDRISIYYAH • 23 Agustus 2026

Ketika Bupati Berbicara sebagai Santri, Pesan Bupati Tasikmalaya dari Qini Nasional 163

Qini Nasional 163 | Tasikmalaya — Qini Nasional 163 telah usai. Jamaah dari berbagai daerah telah kembali ke tempat masing-masing, membawa ilmu, pengalaman, dan kenangan dari beberapa hari yang mereka jalani di Pesantren Idrisiyyah.


Namun, ada satu pesan dari malam pembukaan yang masih relevan untuk direnungkan "ketika seorang pemimpin berbicara bukan hanya sebagai pejabat, tetapi sebagai seorang santri".


Dalam sambutannya pada pembukaan Qini Nasional 163, Bupati Tasikmalaya Dr. H. Cecep Nurul Yakin, S.Pd., M.AP., terlebih dahulu menyampaikan penghormatan dan rasa terima kasih kepada Mursyid Idrisiyyah, Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, atas doa, bimbingan, dan keteladanan yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.


“Saya atas nama pribadi menghaturkan beribu terima kasih untuk Syekh Akbar Fathurahman yang senantiasa memberikan semangat, doa, keteladanan untuk kita semua, khususnya untuk saya sebagai santri Beliau yang ditugaskan saat ini menjadi Bupati di Kabupaten Tasikmalaya, melayani lebih dari 2 juta penduduk di Kabupaten Tasikmalaya.”


Kalimat tersebut menghadirkan sebuah perspektif menarik tentang kepemimpinan. Di balik jabatan seorang bupati, terdapat identitas seorang santri yang merasa memiliki guru. Jabatan tidak menghapus hubungan murid dan guru; justru amanah yang semakin besar membuat nasihat, doa, dan keteladanan guru memiliki makna yang semakin penting.


Menjadi Bupati, Tetap Menjadi Santri


Pernyataan Bapak Cecep tentang dirinya sebagai santri menjadi salah satu bagian paling reflektif dari sambutannya.


Ia tidak menempatkan jabatan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai tugas untuk melayani. Lebih dari dua juta penduduk Kabupaten Tasikmalaya menjadi amanah yang harus dijalankan.


Dalam konteks ini, menjadi santri tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan pesantren atau menduduki jabatan tertentu. Nilai-nilai yang diperoleh dari guru justru diuji ketika seseorang mendapatkan kekuasaan, tanggung jawab, dan kepercayaan masyarakat.


Ketika Pesantren Memberi Berkah bagi Daerah


Ada bagian lain dari sambutan Bupati yang menarik untuk direnungkan.


Ia melihat keberadaan pesantren bukan hanya sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang memberikan pengaruh bagi kehidupan masyarakat dan daerah.

“Saya yakin salah satu keberkahan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Tasikmalaya yang makin hari makin baik adalah hadirnya tempat pondok pesantren seperti Idrisiyyah ini.”


Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana pesantren dipandang dari perspektif yang lebih luas. Pesantren tidak hanya menghasilkan lulusan atau menyelenggarakan kegiatan keagamaan, tetapi juga menghadirkan aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, dan pergerakan masyarakat.


Bagi Tasikmalaya, kehadiran ribuan jamaah dari berbagai daerah dalam Qini Nasional juga menjadi bentuk interaksi yang mempertemukan agama, pendidikan, masyarakat, dan aktivitas ekonomi lokal.

Datang ke Tasikmalaya Bukan Sekadar Berwisata

Bupati Cecep juga memberikan cara pandang menarik terhadap para tamu yang datang ke Kabupaten Tasikmalaya.


Menurutnya, mereka yang hadir dalam Qini Nasional tidak hanya datang untuk melihat keindahan daerah.

“Tamu yang berkunjung ke Kabupaten Tasikmalaya bukan hanya ingin melihat keindahan alamnya saja, tapi yang paling utama ingin mendapatkan keberkahan dari guru-gurunya.”


Di sinilah Qini menjadi berbeda dari kunjungan biasa.

Ada orang yang datang ke Tasikmalaya untuk menikmati alam. Ada yang datang untuk mencicipi kuliner. Ada pula yang datang untuk berwisata.

Tetapi para jamaah Qini datang membawa tujuan yang lain yaitu mencari ilmu, bertemu guru, dan mengharapkan keberkahan.


Tasikmalaya akhirnya bukan hanya menjadi tempat yang dikunjungi, tetapi menjadi tempat berlangsungnya sebuah perjalanan batin.